DEKLARASI MAKKAH TENTANG SITUASI DI IRAK
Saat itu Ahad 12 Agustus 2007. Acara Peringatan Isra Mi ‘raj Rasulullah SAW di Majlis Khoirunnisa, Cilolohan Kota Tasikmalaya telah dimulai sejak pukul 09.45 WIB. Penceramah yang akan mengisi acara tersebut adalah Dr. K.H. Syaefuddin Herlambang, M.A., dari Jakarta. Seperti biasa beliau selalu hadir sebelum acara dimulai, jazaakallahu khairan katsiiraa. Pembawa acara yang sudah direncanakan sebelumnya tidak bisa hadir, akhirnya dipercayakan kepada saya sendiri. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an sekaligus sari tilawahnya. Sehabis sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa Ziyarah Rasulullah dan Tawasul. Pembacaan doa dipimpin oleh Sayyid Salam dari Irak. Dengan suara khas Timur Tengah yang sangat indah sekali, tidak terasa pembacaan doa menghabiskan waktu hampir satu jam. Di antara mustami’ kedengaran ada yang menangis, mungkin karena khusuknya menyimak doa yang dibacakan tadi. Selesai acara utama Isra Mi’raj –sambil makan nasi dus–, saya dan kawan-kawan sempat berbincang-bincang dengan Sayyid Salam tentang Deklarasi Makkah mengenai Situasi di Irak. Dalam diskusi itu muncul pemikiran bahwa isi deklarasi tersebut semestinya diketahui juga oleh masyarakat secara luas, karena makna yang sesungguhnya dari Deklarasi itu bukan hanya untuk bangsa Irak saja, melainkan untuk umat Islam di seluruh dunia, apapun madzhabnya. Dalam obrolan itu saya menyarankan agar segera dilakukan sosialisasi atau apapun bentuknya, yang penting pesan utama Deklarasi tersebut sampai kepada seluruh umat Islam.Sebagai gambaran awal, pada tulisan sederhana ini, saya akan mengutip sebagian isi Deklarasi itu, mudah-mudahan menjadi bahan renungan bagi kita dalam upaya mempersatukan umat Islam di mana pun mereka berada : “Segala pujian dan kemuliaan adalah milik Tuhan yang Maha agung. Semoga salam dan berkah-Nya senantiasa dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, dan para sahabatnya. Dengan mempertimbangkan (1) situasi yang terjadi sekarang ini di Irak, di mana pertumpahan darah, penjarahan hak milik, terjadi setiap hari. Semuanya dengan pengatasnamakan Islam, dan (2) sejalan dengan anjuran dari sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam, di bawah payung Akademi Fikih Internasional OKI (IIFA), maka kami, para ulama Irak, dari Mazhab Ahlus Sunnah dan Syi’ah, berkumpul di Makkah Al-Mukarramah, pada bulan Ramadhan 1427 (2006), setelah membicarakan perkembangan situasi di Irak dan prihatin terhadap nasib rakyatnya, serta masalah-masalah yang melingkupinya, dengan ini menyatakan DEKLARASI ini :
1. Jika salah seorang di antara kamu memanggil saudaranya : Kamu kafir, salah seorang di antara mereka akan menjadi kafir dan bertanggungjawab atasnya.
2. Darah, harta benda, kehormatan, dan harga diri seorang Muslim adalah mulia berdasarkan firman Allah Swt. dalam Al-Quran : Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS Al-Nisa’ [4] : 93). Juga hadits Nabi Saw. : Setiap Muslim adalah mulia darahnya, hartanya, kehormatan, dan harga dirinya.Karena itu, tidak seorang Muslim pun –baik Sunni ataupun Syi’ah– yang dapat ditumpahkan darahnya, dianiaya, diintimidasi, diteror, diambil harta miliknya atau dijatuhkan kehormatannya, atau diculik keberadaannya. Lebih jauh lagi, tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang dapat dijadikan sandera dengan alasan perbedaan mazhab atau alasan agama lainnya. Siapa pun yang melakukan perbuatan sepeti itu, telah memisahkan dirinya dari kehormatan Umah (kaum Muslim), termasuk semua yang memegang otoritas di dalam Islam, para ulama, dan orang-orang yang beriman”.
Demikian beberapa paragraf Deklarasi Makkah tentang Situasi Irak yang telah ditandatangani oleh beberapa negara Islam di Makkah Al-Mukarramah tanggal 21 Oktober 2006. Selanjutnya, pada tanggal 3-4 April 2007, di Indonesia, tepatnya di Istana Presiden Bogor, Deklarasi Makkah mendapat penguatan dari para peserta Konferensi Internasional Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak. Mereka berkumpul dan bertekad ingin mewujudkan perdamaian secara penuh di antara bangsa Muslim Irak. Tentunya, buat kita sebagai awam seharusnyalah memanjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah Swt. karena dengan adanya Deklarasi ini akan banyak hikmah dan implikasi positif yang dapat dirasakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Insya Allah.
Berikut ini adalah beberapa implikasi dan hal-hal positif lainnya yang kita harapkan dari Deklarasi Makkah, di antaranya adalah :
Pertama, Deklarasi Makkah merupakan indikasi kuat lahirnya kesadaran bersama tentang makna persaudaraan umat Islam yang sesungguhnya. Pengalaman sejarah panjang menunjukkan bahwa kelemahan dan hancurnya persatuan umat Islam ternyata salah satu faktor penyebabnya adalah konflik interen yang tak kunjung selesai. Sejak 1947, baru pertama kali ini di penghujung tahun 2006 mazhab Sunni-Syi’ah kembali melakukan muktamar besar untuk melakukan rekonsiliasi, saling mengakui dan saling memuliakan di antara sesama hamba Allah. Sinyal positif ini harus kita maknai dengan positif pula, agar energi umat Islam yang sudah digunakan untuk upaya itu tidak menjadi sia-sia.
Kedua, sudah seharusnya kita menghilangkan sekat-sekat mazhab yang sempit. Kehadiran Deklarasi Makkah membawa situasi baru bagi umat Islam, artinya sektarianisme harus segera dihilangkan, karena ternyata banyak membawa madharat, dan kehancuran lainnya. Pertengkaran Sunni-Syi’ah yang berkepanjangan harus segera disudahi. Kita sudah cukup menderita dengan semakin banyaknya korban dan kerugian fisik lainnya. Saatnyalah kita untuk lebih melihat jauh kedepan demi kejayaan Islam sebagai rahmatal lilalamiin.
Ketiga, perlunya komitmen bersama untuk implementasi Deklarasi secara konkrit di lapangan. Tanpa komitmen dan konsistensi bersama umat Islam, rasanya Deklarasi tidak akan bisa dilaksanakan secara optimal. Untuk ini, sekali lagi, kita perlu ketulusan hati agar beban-beban fsikologis tidak menghalangi dalam upaya menjalankan kesepakatan tersebut. Indikator keseriusan akan tampak secara nyata di antara umat Islam bila Deklarasi dilaksanakan dengan sebaik-baikya. Sebagai bukti keseriusan dalam mewujudkannya, kita harus melanjutkan Deklarasi tersebut kedalam bentuk yang lebih opersioal lagi di tingkat daerah, sehingga cakupan Deklarasi akan semakin luas dan implikasinya akan terasa keseluruh pelosok negeri.
Keempat, kita sebagai sesama umat Islam tidak perlu lagi (bahkan tidak ada gunanya) untuk selalu saling menyalahkan dan menyesatkan. Kita harus mengakhiri menghakimi orang lain dengan memutlakkan pendapat kita kepadanya. Kebenaran mutlak hanya milik Allah semata. Untuk itu sebaiknya kita selalu mengingat ucapan Ibn Hajar Al-Haitami : “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Dan mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran “. Dengan prinsip ini akan lahir sikap toleransi yang tinggi dan kebersamaan dalam keragaman. Indah sekali. Khasanah keilmuan akan cepat berkembang dan pandangan umat Islam pun tidak sempit dan picik. Bila masalah itu selesai, kita akan segera fokus untuk mentuntaskan berbagai agenda umat Islam yang tertinggal, yaitu kemiskinan, kebodohan, kelaparan, rendahnya tingkat kesehatan, moralitas yang semakin hancur dan berbagai problem lainnya.
Kelima, Deklarasi Makkah merupakan kebutuhan dan sekaligus pelajaran berharga umat Islam di seluruh dunia. Pelajaran ini sangat mahal, karena harus dibayar dengan ribuan nyawa. Oleh karena itu saatnyalah kita mengambil ‘itibar dari kasus ini. Belum terlambat, bahkan ini kebutuhan mendesak yang harus menjadi concern kita semua.
Keenam, Deklarasi Makkah dengan segala implementasinya yang konsisten akan menggentarkan musuh-musuh Islam. Percayalah, kita akan menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan oleh pihak lain karena kekuatan dan kekompakkan yang kita galang semakin kokoh. Kita harus menjadi umat terbaik. Tidak dilecehkan oleh kaum kafir. Simak ayat Al-Quran berikut : “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (QS. Al-Imran ayat 110).Ketujuh, perlunya pemimpin umat sebagai pemersatu dari manapun ia mazhabnya. Sesuatu yang ideal adalah pemimpin umat Islam yang mampu membawa pada kedamaian dan kesejahteraan dunia. Oleh karena itu kita harus terus berusaha mempersiapkannya dengan cara bekerja serius, fokus dan tidak saling menghantam atau menjatuhkan satu sama lainnya. Salah satunya adalah memaknai Deklarasi secara tulus, ikhlas dan tidak saling curiga. Tidak ada ruginya kan kalau Sunni dan Syiah bersatu ?. Ini yang diinginkan di Timur Tengah bahkan di seluruh dunia, tetapi ini pula yang tidak disukai oleh Amerika dan sekutunya.Itulah beberapa harapan ideal yang ingin kita capai. Dengan semangat kebersamaan dan kekompakkan umat Islam dimana pun mereka berada, apapun mazhabnya, Insya Allah usaha-usaha positif tersebut akan segera terwujud. Sejatinya, semangat ini pula yang harus mewarnai setiap peringatan HUT RI yang selama ini selalu kita rayakan di tanah air. Semoga Allah meridhai usaha kita. Amiin.
*) Penulis adalah dosen Ekonomi Politik Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UNSIL Tasikmalaya
AKHLAK MULIA SANG PENGUASA
Akhlak mulia adalah sebuah hiasan hidup yang seharusnya melekat pada diri siapapun. Terlebih bagi seorang pemimpin. Baginya, kemuliaan akhlak harus menjadi prasyarat utama dan harus menyertainya sebelum dia memiliki kekuasaan. Berkaitan dengan akhlak mulia ini, ada baiknya, kita tengok sekilas sebuah kisah perjalanan hidup hamba Allah yang memiliki kemuliaan akhlak luar biasa. Dia adalah Malik Al-Asytar, seorang murid Imam Ali kw., sekaligus tangan kanannya.
Suatu hari Malik Al-Asyatar berkeliling di pasar Kufah dengan mengenakan pakaian yang sudah kumal dan tutup kepala yang usang. Sebagian pedagang pasar yang melihatnya merasa jijik dengan pakaiannya itu dan melemparkan segemgam lumpur sembari merendahkannya. Malik tidak menghiraukannya dan terus berjalan dengan tenang. Seorang pemuda bergegas menghampiri pedagang yang mrendahkannya itu seraya bertanya, “Tahukah kamu siapa orang yang telah kamu lempar itu?” Ia menjawab, “Tidak,”. Lantas si pemuda menambahkan, “Dialah Malik bin Asytar, tangan kanan Amirul mukminin Imam Ali kw.”
Tiba-tiba si pedagang menggigil ketakutan dan bergegas mengejarnya untuk meminta maaf. Dilihatnya Malik sudah memasuki masjid dan sedang melaksanakan salat. Saat selesai salat, si pedagang bersimpuh di kedua kaki Malik sembari menciumnya. Lalu Malik bertanya, “Ada apa gerangan?”
Si pedagang menjawab, “Aku mohon maaf padamu atas apa yang telah aku lakukan,” lalu Malik menimpali, “Sudahlah tak mengapa, demi Allah sama sekali aku tidak berniat ke masjid, kecuali untuk memohonkan ampun bagimu”.
Inilah sebuah kisah pendek seorang sahabat sekaligus murid Imam Ali kw. yang memiliki kemuliaan akhlak sangat tinggi. Pelajaran dan hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut? Baiklah kita coba untuk mengulasnya.
Pertama, kesederhanaan tidak mengurangi kemuliaan seseorang. Walaupun Malik Al-Asytar begitu sederhana dalam hidupnya –saat itu terlihat dari pakaiannya yang begitu sederhana–, kehormatan dan kewibawaannya tetap tumbuh dan terpancar dari prilakunya. Orang tetap hormat dan segan padannya. Orang bersalah akan bergetar jiwanya ketika mendengar namanya disebutkan. Kewibawaannya merasuk kedalam hati siapapun.
Kedua, sifat pemaaf dan tidak pendendam. Sesungguhnya tindakan pedagang (yang melempar dengan lumpur itu) sudah di luar batas yang wajar. Dia telah menghina dan merendahkan seseorang, padahal yang ia rendahkan itu belum ia kenali. Dia menghinanya karena penampilannya yang menjijikan. Namun apa yang kita saksikan, Malik Al-Asytar tidak merasa terganggu sedikitpun dengan ulah si pedagang itu, malah ia langsung menuju masjid untuk memohonkan ampun secara khusus baginya. Sungguh luar biasa.
Kalau kasus itu –pelemparan dengan tanah lumpur– mengenai kita, boleh jadi kita akan membalasnya lebih dari itu : mungkin dengan memukulnya, menamparnya atau mungkin dengan bentuk kekerasan fisik lainnya. Itu semua dilakukan sebagai wujud emosional kita kepada yang mencemoohkan. Tapi di luar dugaan, Malik Al-Asytar malah memaafkannya dan sekaligus memohonkan ampunan baginya.
Kesalehan Malik rasanya sulit ditemukan pada penguasa atau pemimpin pada zaman sekarang. Padahal pada saat itu Malik Al-Asytar pun adalah penguasa (tangan kanan Imam Ali), yang dengan kekuasaannya bisa memberikan hukuman kepada siapapun yang menghinanya. Tapi malah kita melihat sesuatu yang sebaliknya, sang penguasa itu malah memaafkannya. Inilah kemuliaan akhlak yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin dan penguasa saat ini.
Ketiga, penghinaan adalah akhlak yang tercela. Sebagai umat manusia tidak boleh menghina atau merendahkan kehormatan seseorang. Masih mending jika penghinaan itu diakhiri dengan penyesalan dan tobat kepada Allah SWT. Tapi bayangkan sebuah penghinaan yang tidak diakhiri dengan penyesalan dan permohonan maaf kepada yang bersangkutan, ini jelas akan berakibat panjang dan mencelakakan. Sehubungan dengan ini ada sebuah kisah yang patut direnungkan: “Ketika Rasulullah thawaf mengelilingi Ka’bah, beliau berhenti di Multazam, beliau berkata, ‘Duhai Ka’bah, betapa mulianya engkau, betapa agungnya engkau, betapa luhurnya engkau’. Tetapi demi Zat yang diriku ada di tangan-Nya, kehormatan seorang muslim lebih tinggi dari kehormatan Ka’bah.” Oleh karena itu di dalam Islam termasuk dosa besar menjatuhkan kehormatan seorang muslim, dosanya lebih besar daripada menjatuhkan kehormatan Ka’bah.
Keempat, materi bukan ukuran kemuliaan akhlak. Harga diri, kemuliaan, kewibawaan, dan kekuasaan sungguh tidak diukur dengan banyaknya materi. Kita melihat banyak contoh dalam sejarah, bahwa kemuliaan dan kebesaran pemimpin Islam tidak disandarkan kepada bergelimangnya kekayaan yang dimiliki. Kita lihat Rasul SAW, Imam Ali kw, dan shahabat lainnya lebih memilih kesederhanaan dan hidup bersama kaum mustad’afin daripada menumpuk kekayaan. Prilaku yang sederhana ini tercermin dari kepribadian murid Imam Ali itu sendiri, Malik Al-Asytar.
Kelima, keberhasilan seorang guru tercermin dari kesalehan murid-muridnya. Kisah di atas sesungguhnya sekaligus sedang menceritakan keberhasilan seorang guru (Imam Ali kw) dalam mendidik muridnya. Transfer kesalehan kepada seorang murid bukanlah hal yang mudah, dan tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kesalehan itu sendiri. Sesungguhnya, suatu kebohongan yang nyata, apabila seseorang berbicara kesalehan, ketakwaan dan hal-hal yang baik lainnya, tetapi ia sendiri bukan pelaku ketakwaan itu, atau malah penentang kebaikan.
Ingin rasanya akhlak Malik Al-Asytar hadir di tengah-tengah kita dan mewarnai semua aspek kehidupan : ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya. Saya yakin, bila prilaku itu mewarnai kehidupan ekonomi, akan banyak sumber keuangan negara yang terselamatkan. Keadilan ekonomi akan segera terwujud. Kesederhanaan selalu menghiasi keseharian para pejabat dan penguasa. Himbauan hidup sederhana bukan sekedar slogan belaka, tetapi betul-betul dimulai oleh para pejabat. Para pejabat tidak lagi membahas persoalan-persoalan kemiskinan dan penderitaan rakyat kecil di hotel berbintang dan mewah dengan menggunakan uang rakyat. Kepentingan rakyat kecil betul-betul menjadi perhatian utama dalam pembangunan. Para pejabat dan politisi tidak lagi sibuk mengurus kepentingan pribadinya (gaji, fasilitas jabatan dan sebagainya), sebelum kepentingan rakyatnya terperhatikan. Ini rasanya yang sungguh-sungguh diharapkan oleh rakyat kecil. Rasanya mereka tidak terlalu berkepentingan dengan apa yang disebut Tatib, koalisi, Fraksi, Komisi, Legislasi dan sebagainya. Bagi mereka persoalannya sederhana saja, yakni hari ini bisa makan atau tidak? Para politisi seharusnya bisa memberikan jawaban itu semua, karena itu yang sangat dinanti-nanti.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengungkapkan kembali contoh akhlak mulia yang pernah terjadi dalam sejarah.
Sirri al-Siqthi, salah seorang ahli tasauf (urafa), pernah berkata, “Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar hanya karena sekali saja aku bersyukur pada Allah”. Orang-orang bertanya padanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Siqthi menjawab, “Saat itu aku mempunyai toko di pasar Baghdad. Suatu saat orang-orang mengabariku bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api. Aku bergegas pergi untuk melihat apakah tokoku juga terbakar. Salah seorang mengabariku bahwa api tidak sampai membakar tokoku. Akupun berkata Ahamdulillah”.
Setelah itu jiwaku terusik, hatikupun berkata, ‘Engkau tidak sendirian di dunia ini. Beberapa toko telah terbakar. Memang tokomu tidak terbakar, tapi toko-toko yang lainnya terbakar. Ucapan alhamdulillah berarti aku bersyukur api tidak membakar tokoku, meski membakar toko yang lainnya! Berarti aku rela toko orang lain terbakar asalkan tokoku tidak.’
Akupun berkata dalam diriku, ‘Sirri! Tidakkah engkau memperhatikan urusan saudaramu kaum muslimin?’
Demikian sekilas kisah orang yang merasa menyesal dan beristighfar selama tiga puluh tahun berturut-turut, karena dosa mereka mengucapkan alhamdulillah ketika tokonya tidak terbakar sementara toko-toko saudaranya yang lain tidak. Subhaanallah.
PENGANGGURAN DAN DAYA BELI
1. Pengangguran : Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya
Banyak aspek yang terkait dengan persoalan pengangguran. Kita dapat mengeksplorasinya dari beberapa sisi, diantaranya : faktor penyebab, dampak, dan cara mengatasi pengangguran. Baca entri selengkapnya »
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


