MEMAHAMI TUJUAN KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO

Januari 26, 2008 at 7:21 am (Uncategorized)

 1. Pengantar  

            Tujuan pada kegiatan apapun mesti ada. Tanpa tujuan, sasaran dan arah sesuatu itu menjadi tidak jelas. Bila demikian, proses dan kinerjanya pun menjadi tidak terukur. Inilah prinsip dasar kehidupan yang mesti dipahami setiap orang. Agama kita mengajarkan agar kita senantiasa tidak lupa terhadap tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu mencari ridha Allah SWT.  Hal ini penting dan sangat fundamental, bahkan semua kegiatan yang dilakukan manusia di muka bumi ini semuanya harus diwarnai dengan nilai fundamental ini. Tanpa mengarah kepada tujuan ini, nilai kegiatan kita menjadi tak bermakna dan kita akan menjadi manusia yang merugi.  

            Tujuan yang ingin dicapai dalam bidang ekonomi adalah mencapai tingkat kesejahteraan yang sebesar-besarnya dalam segala aspek kehidupan dengan mendapat ridha Allah SWT. Bagaimana caranya kita mencapai tujuan ini. Siapakah yang paling bertanggungjawab memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Bisakah kesejahteraan itu dinikmati setiap orang. Di sinilah peran pemerintah sangat dominan dan paling bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Bahkan kinerja (sebut : amal shaleh) pemerintah akan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mensejahterakan rakyatnya. Ketika pemerintah tidak bisa memberikan kesejahteraan pada rakyatnya, tapi sebaliknya yang terjadi adalah ketimpangan ekonomi yang semakin terbuka lebar, maka dapat diduga dalam sistem pemerintahan terdapat sesuatu yang tidak beres, atau terjadi penyimpangan yang tidak semestinya terjadi. Di sinilah tugas manusia sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi untuk melakukan berbagai perbaikan dan menciptakan keadilan bagi siapapun.

            Tulisan ini ingin menjelaskan beberapa hal terkait dengan tujuan kebijakan ekonomi makro, terutama hal-hal sebagai berikut : (1) Tujuan akhir dari kebijakan ekonomi makro, (2) Target variables dan mekanisme transmisi kebijakan moneter, (3) Target variables dan kinerja ekonomi, (4) Central macreconomic questions dan instrumen kebijakan ekonomi makro, (5) Kelemahan PDB sebagai ukuran aktifitas ekonomi, dan (6) Kegagalan dalam mencapai target variables.

 2. Tujuan Akhir   Kebijakan Ekonomi Makro   

            Tujuan akhir kebijakan ekonomi makro adalah : (1) price level stability, (2) high employment level, (3) long-term economic growth, dan (4) exchange rate stability (Thomas, 1997:448). Empat variabel ekonomi makro inilah yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia secara keseluruhan, sehingga prilakunya perlu diamati dan dikendalikan. Di bawah ini diuraikan lebih rinci tentang variabel-variabel tersebut.

 2.1. Price Level Stability (Stabilitas Tingkat Hara Umum) 

Hal-hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan inflasi :

  • Kenapa inflasi perlu dikendalikan
  • Apa penyebab inflasi
  • Bagaimana menghitung inflasi
  • Macam-macam inflasi
  • Dampak inflasi
  • Otoritas moneter dan inflasi
  • Inflation targeting
  • Mekanisme transmisi kebijakan moneter dan inflasi
  • Kurva Phillips dan inflasi
  • Inflasi dan Fisher Equation
  • The cost of inflation
  • Inflasi dan IPM
  • Inflasi dan defisit APBN
  • Pertumbuhan uang beredar, suku bunga dan inflasi

 2.2. High Employment Level (Tingginya Tingkat Kesempatan Kerja) 

Beberap hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan kesempatan kerja :

  • Peran pemerintah dalam perluasan kesempatan kerja
  • Pendekatan demand dan supply of labor dalam perluasan kesempatan kerja
  • Pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya perluasan kesempatan kerja
  • Human capital sebagai upaya efektif perluasan kerja
  • Keuangan negara dan kesempatan kerja
  • Kebijakan ketenagakerjaan
  • Serikat kerja
  • Hubungan industrial
  • Sistem ekonomi dan kesempatan kerja
  • Distribusi pendapatan fungsional dan kesempatan kerja
  • Laju pertumbuhan penduduk dan kesempatan kerja
  • Pandangan terhadap penduduk
  • Elastisitas kesempatan kerja

 2.3.    Long-Term Economic Growth 

Pertumbuhan ekonomi yang ideal adalah : (1) berlangsung terus menerus, (2) disertai dengan terciptanya lapangan kerja, (3) tidak merusak lingkungan, (4) lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penduduk, (5) disertai dengan distribusi pendapatan yang adil, (6) kontribusi sektoral yang merata, (7) tidak meninggalkan sektor pertanian, (8) kenaikannya riil, (9) penyumbang terbesar PDB adalah warga domestik, bukan asing, dan lainnya.

Perlu juga dijelaskan hal-hal sebagai berikut :

  • Kenapa  laju pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan kebijakan ekonomi ?
  • Apa manfaat dihitungnya pendapatan nasional
  • Makna politis dari pendapatan nasional
  • Kinerja ekonomi dan PDB
  • Income percapita
  • Struktur ekonomi
  • Inflasi dan PDB
  • Aggregate supply dan demand

2.4.    Exchange Rate Stability 

            Nilai tukar merupakan nilai uang secara eksternal, yang tinggi rendahnya berdampak pada berbagai aspek ekonomi dan sosial lainnya, misalnya : (1) impor dan ekspor, (2) APBN dan APBD, (3) kesehatan dan pendidikan, (4) transportasi, (5) industri dalam negeri, (6) politik, (7) daya beli masyarakat, (8) dunia perbankan, (9) sektor pertanian, kelautan, peternakan dst, (10) sektor properti , dan sebagainya.

Perlu dijelaskan pula hal-hal sebagai berikut :

  • Nilai tukar nominal dan riil
  • Devaluasi, apresiasi dan depresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing
  • Determinan nilai tukar
  • Cadangan devisa dan nilai tukar
  • Kebijakan nilai tukar
  • Sistem nilai tukar
  • Faktor politik, keamanan dan nilai tukar
  • Mekanisme transmisi kebijakan moneter dan nilai tukar (pass through effect)
  • dll

 3.          Target Variables dan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter 

Mekanisme transmisi kebijakan moneter merupakan kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter dalam upaya mempengaruhi kegiatan ekonomi melalui beberapa saluran (channels) (Thomas, 1997:602). Saluran-saluran tersebut yaitu : (1) saluran uang beredar (money channel), (2) saluran kredit, (3) saluran suku bunga, (4) saluran nilai tukar, (5) saluran harga aset, dan (6) saluran ekspektasi inflasi.

LONG-TERM

GROWTH

PRICE

EMPLOYMENT

TargetVariables

 BLACKBOX

Secara garis besar mekanisme transmisi kebijakan moneter dapat digambarkan seperti diagram arus sebagai berikut :  

MonetaryPolicy

   

Keterangan : Di dalam Black Box proses mekanisme transmisi kebijakan moneter berlangsung (yakni berjalannya berbagai channels) yang semuanya menuju ke target variables (the goal of macroeconomic policy).

 4.          Target Variables sebagai Ukuran Kinerja Ekonomi 

Kinerja ekonomi dapat diukur dengan nilai capaian pemerintah terhadap target variables itu sendiri. Bila target variables membaik, berarti kinerja pemerintah mengalami kenaikan dan sebaliknya.

Hal-hal lain perlu dijelaskan :

  • Variabel lain yang dapat dijadikan ukuruan kinerja ekonomi
  • Upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam rangka memperbaiki kinerja ekonomi
  • Politik ekonomi dan kinerja ekonomi
  • Peran barang publik dalam memperbaiki kinerja ekonomi
  • Blok ekonomi dan kinerja ekonomi
  • dst

 5.          Masalah Utama Ekonomi Makro dan Instrumen Kebijakan 

Untuk mengamati lebih jelas perhatikan tabel  sebagai berikut :

Masalah Utama (Goal of ME)

Policy Instruments

1. Output (GDP)

Kebijakan moneter

2. Employment

Kebijakan fiskal

3. Price level stability

Kebijakan moneter

   

Source : Samuelson, 2002:416

 6.          Beberapa Kelemahan PDB sebagai Ukuran Aktifitas Ekonomi 

Terdapat beberapa faktor yang belum diperhitungkan dalam PDB, di antaranya sebagai berikut :

  1. Nonmarket production : Belum diperhitungkannya nilai produksi yang disediakan oleh para pembantu, ibu rumah tangga dsb;
  2. PDB belum memperhitungkan besarnya leisure time  yang dinikmati oleh warga masyarakat;
  3. PDB juga belum memperhitungkan dampak negatif dari produksi yang dilakukan (eksternalitas/production bads);
  4. Kenaikan PDB belum tentu mencerminkan kesejahteraan, bila kenaikan tersebut hanya bersifat nominal;
  5. Kualitas barang dan jasa yang diproduksi belum secara optimal diperhitungkan dalam PDB.

 7.          Kegagalan dalam Mencapai Target Variables 

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dibarengi dengan perbaikan dalam beberapa variabel lainnya :

  • Employment
  • Lingkungan
  • Distribusi pendapatan
  • Transparansi
  • Economic cost (inflasi)
  • Social damages
  • Dst

Bila tidak, maka pertumbuhan yang tinggi tidak bermakna dan berkualitas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA  

Ascarya, (2002). Instrumen-Instrumen Pengendalian Moneter. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Dernburg, T.F., and McDougall, D.M., (1983). Macroeconomics : The Measurement, Analysis, and Control of Aggregate Economic Activity. Sixth Edition, Asian Student Edition, McGraw-Hill International Book Company,  London,

Ferry Warjiyo, (2004). Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Froyen, R.T., (1993). Macroeconomics : Theories and Policies. Fourth Edition, University of North Carolina at Chapel Hill, Macmillan Publishing Company, New York, USA.

F.X. Sugiyono, (2004). Instrumen Pengendalian Moneter : Operasi Pasar Terbuka. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Gordon, R.J., (1993). Macroeconomics. Sixth Edition, Harper-Collins Publishers, New York, USA.

McKenzie, R.B., and Tullock G., (1985). Modern Political Economy : An Introduction to Economics. International Student Edition, McGraw-Hill International Book Company,  London, UK.

Samuelson, P.A. and Nordhaus, W. D. (2002). Economics. 17th Edition, McGraw-Hill Irwin, International Edition, USA.

Sutyastie soemitro, dkk. (2007). Kinerja dan Prospek Ekonomi Indonesia. Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung.

Thomas, Lloyd B., (1997). Money, Banking and Financial Markets. McGraw-Hill Irwin, International Edition, Kansas University, USA.

         

Iklan

Permalink 2 Komentar

DZIKIR DAN PENYAKIT HATI

Januari 26, 2008 at 7:16 am (agama)

Rasulullah bersabda, “Hati itu ada tiga macam : Pertama, hati yang terbalik. Yaitu hati yang tidak bisa menampung kebaikan sedikitpun dan itu adalah hati orang kafir. Kedua, hati yang di dalamnya ada titik hitam, yang di dalamnya bertarung antara kebaikan dan kejahatan. Kalau salah satu kuat, maka yang kuat itulah yang menang. Ketiga,  hati yang terbuka yang di dalamnya ada lampu yang bersinar-sinar sampai hari kiamat. Itulah hati orang mukmin”

            Dalam hadits di atas Rasulullah menjelaskan hati (qalb) dalam pengertian ruhaniyah. Sesungguhnya qalb (jantung atau hati) memiliki dua makna, yaitu qalb dalam bentuk fisik dan qalb  dalam arti kekuatan ruhaniah.   Dalam bentuk fisik Rasulullah menyebutnya sebagai mudghah (segumpal daging), yang apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Sedangkan qalb dalam pengertian ruhaniah adalah qalb yang bisa membedakan antara kebaikan dan kejahatan, yang berpikir, yang bisa merasakan kesedihan dan kegembiraan. Itulah yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai hati. Sehingga seseorang bisa hancur ruhaninya, karena hatinya telah hancur.          

            Untuk memupuk hati supaya tetap berada pada jalan yang lurus, keberuntungan dan berada pada ketentraman, manusia senantiasa diharuskan banyak berdzikir kepada Allah SWT. ... dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS 62 : 10). Pada ayat lain Allah berfirman : (yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS 13 : 28).

            Tentunya, di sini bukan hanya dzikir dalam arti ingat tok dengan tanpa disertai suatu kesadaran untuk melaksanakan segala perintah dan laranga-Nya. Tapi lebih jauh dari itu adalah suatu kesadaran spiritual yang  disertai dengan keikhlasan tanpa rasa ragu-ragu sedikitpun. Sehubungan dengan keunikan hati ini, Imam Ja’far Shadiq menjelaskan tingkatan-tingkatan hati sebagai berikut : Pertama, hati yang tinggi. Tingginya hati ini ketika dzikir kepada Allah SWT. Kalau orang senantiasa berdzikir kepada Allah hatinya akan naik ke tempat yang tinggi. Kedua,  hati yang terbuka. Hati ini diperoleh apabila kita ridha kepada Allah SWT. Ketiga, hati yang rendah, yaitu terjadi ketika kita disibukkan oleh hal-hal yang selain Allah. Keempat, adalah hati yang mati atau hati yang berhenti. Hati ini terjadi ketika seseorang melupakan Allah SWT sama sekali.

            Dari beberapa hadits yang disebutkan di atas, kita bisa melakukan muhasabah : Pada posisi mana hati kita berada sekarang ?. Mudah-mudahan hati kita berada pada posisi yang tinggi, yakni berada dalam ketenangan dan selalu berdzikir kepada Allah SWT.

            Seperti halnya tubuh kita (fisik), hati pun sering mengidap beberapa penyakit. Biasanya,  penyakit-penyakit tersebut  lebih sulit untuk disembuhkan. Berikut beberapa di antara penyakit hati yang sering mengidap pada orang Islam :

a. Bakhil

            Berasal dari kata bakhula – yabkhulu – bukhlan,  yang berarti kikir, pelit atau lokek. Secara lengkap dapat diartikan sebagai sikap mental yang enggan mengeluarkan sebagian harta yang wajib dikeluarkan, seperti zakat, memberi nafkah keluarga, mengeluarkan infak dan sedekah (Ensiklopedi Hukum Islam, I : 190).  Menurut Ulama, sifat bakhil itu bukan hanya berkaitan dengan harta saja, melainkan juga bisa berkenaan dengan ilmu, penghormatan dan tenaga. Orang yang pelit dalam memberikan tenaga dan ilmu yang dimilikinya, bisa disebut  bakhil. Demikian juga orang yang tidak mau mengucapkan  salam atau berkata sopan kepada yang lain.

            Berkaitan dengan sifat bakhil ini, Rasulullah pernah ditanya oleh sahabatnya :  “Ya Rasulullah, mungkinkah orang Mukmin itu berdusta” ? “Mungkin”, jawab Rasulullah. “Mungkinkah seorang Mukmin pengecut” ? “Mungkin”, jawab beliau lagi. Kemudian sahabat tadi melanjutkan pertanyaannya.  “Mungkinkah seorang Mukmin itu  bakhil”? “Tidak mungkin”,  jawab Rasulullah. Kemudian Rasulullah menjelaskan, “Kalau kebakhilan itu masuk dalam hati seseorang, maka iman akan lari darinya”.

            Berdasarkan hadits tersebut, ternyata sifat bakhil  itu membuat iman seseorang menjadi hilang dari hatinya. Jadi, tidak mungkin iman itu bercampur dengan sifat bakhil, karena dua hal ini saling bertentangan.     b. Riya’ dan sum’ah

            Sifat riya’  dan sum’ah bertentangan dengan ikhlas. Orang yang ikhlas, beribadah hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah (karena Allah). Sedangkan riya’ dan sum’ah, beribadah untuk mendekatkan diri kepada manusia (ingin mendapat pujian manusia). Hati-hati dengan dua penyakit hati ini. Bila anda memberikan sumbangan supaya dilihat orang sebagai dermawan, maka anda terkena penyakit riya’. Demikian juga bila anda sengaja berlama-lama membaca surat yang panjang ketika menjadi imam shalat, padahal biasanya anda membaca surat-surat pendek saja ketika shalat sendirian, maka anda menjadi sum’ah, bila dengan bacaan itu anda  ingin didengar orang sebagai orang yang ahli ibadah dan hafal surat-surat yang panjang.

            Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip ucapan Imam Ali kw. : “Ada empat tanda orang yang riya’,  yaitu  malas bila beribadat sendirian, rajin di depan orang banyak, bertambah amalnya bila dipuji, dan berkurang bila tidak ada yang memujinya”.         

  

Permalink 2 Komentar

KECERDASAAN EMOSI DAN PEMBELAAN TERHADAP MUSTADAFIN

Januari 15, 2008 at 7:51 am (agama) ()

Pendahuluan            

 Tidak terasa 10 tahun sudah usia Yayasan Untuk Fakir Miskin (YAFAKIN).  Belum banyak rasanya yang telah diberikan untuk fakir-miskin. Kami hanya meneteskan setitik air di danau. Masih banyak kekurangan dan kelemahan yang kami miliki. Ya Allah maafkan kami bila kami belum bisa berkhidmat kepada Fakir Miskin yang diamanatkan-Mu. Ampuni kami bila kami belum bisa beragama dengan baik sebagaimana yang diperintahkan  dalam firman-Mu Surat al-Maun. Ya Allah mampukan kami untuk berbuat banyak untuk fakir miskin. Lancarkanlah usaha kami agar kami bisa berbagi dengan mereka. Sehatkan badan kami agar kami bisa bergerak untuk mereka. Lapangkan jalan kami agar kami dapat menemukan rizki yang halal untuk menolong mereka. 

YAFAKIN bukan kumpulan para donatur yang mampu membantu seluruh fakir-miskin yang ada di Tasikmalaya. Kami hanya sekedar mediator (jembatan) penyambung para aghniya dengan du’afa. Kami masih membutuhkan uluran tangan dari siapapun dalam rangka membebaskan manusia dari rasa lapar dan takut. Kami hanya penyuara hati para mustad’afiin, yang selama ini sering  terlupakan. Ikatan Kami dengan mereka hanya ikatan emosional dan spiritual. Agama Kita mengajarkan, bahwa Kita harus dekat dengan mereka, seperti dicontohkan oleh Rasul kita, Muhammad SAW.

Tulisan sederhana ini ingin mengupas sedikit tentang ciri-ciri cerdas secara emosional serta hubungannya dengan pembelaan terhadap kaum mustadafiin.

 Ciri-Ciri Cerdas Emosi           

Siapapun bisa menjadi orang cerdas secara emosioanl apabila memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

Pertama, mampu merasakan kesulitan orang lain (empati). Bisakah kita mengalihkan beban kesulitan orang lain pada diri kita sendiri. Kalau tidak bisa, bisakah beban tersebut kita pikul sebagian, karena mungkin kita pun memiliki beban, atau sedang mengalami kesulitan yang sama. Kalau masih tidak bisa, mampukah kita memikul sedikit saja dari beban itu. Kalau masih juga tidak bisa, Allah tidak akan memberikan beban di luar kemampuan.  Artinya Allah tidak akan memaksakan sesuatu di luar kemampuan kita, tapi dengan syarat kita harus jujur pada kemampuan yang dimiliki kita sendiri. Empati berarti pula secara fisik kita ikut merasakan derita yang dialami orang lain. Kita betul-betul  hadir di tengah-tengah mustad’afiin (kaum lemah) untuk membela dan berkhidmat pada mereka. Bukan sekedar merasakan penderitaan mereka dalam pikiran dan imajinasi saja. Tapi coba datangi mereka. Apa suara hati mereka. Kita duduk bersama di tengah-tengah mereka. Kita sesekali makan, tidur, dan hiburan dengan mereka.

            Kedua, partisipasi. Sehubungan dengan partisipasi Imam Ali bin Abi Thalib berkata : ”Sumbangan terbesar adalah parsipasi”. Banyak jenis partisipasi yang bisa diberikan pada orang lain. Misalnya dengan uang, tenaga, pikiran, kehadiran, informasi, kekuasaan dan tidak menjadi penghalang dalam kegiatan positif yang dilaksanakan pihak lain. Ketika semua itu ditujukan untuk membantu fakir, miskin, yatim dan mustad’afiin lainya berarti kita sedang mencoba menjalankan Agama dengan benar. Sebaliknya, bila tidak ada sedikitpun dalam pikiran kita ingin memberikan partisipasi, simpati dan empati pada fakir, miskin dan yatim, maka kita dianggap tidak beragama. Sama saja dengan komunis, naudzubillahimindzalik.            

Ketiga, selalu berbicara secara positif.  Ini mengandung makna bahwa pembicaraan kita selalu penuh makna. Menghindari kata-kata kotor. Pembicaraan kita tidak menyakitkan siapapun. Apalagi terhadap orang miskin dan yatim. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut kita tidak menyakitkan si ‘Kecil’, tidak menjilat si ‘Besar’.  Siapapun yang mendengarnya akan merasa aman dan tenteram, serta mengalir darinya hikmah yang sangat berharga. Menghindari prasangka jelek dan ghibah terhadap yang lain. Selalu menutupi aib orang lain. Tidak membongkar-bongkar kejelekan orang lain. Mampukah kita berbuat seperti itu ? Memang berat. Tapi kita harus berusaha mencobanya, karena itu ajaran Agama kita. Pengalaman sering menunjukkan, dalam kehidupan sehari-hari kita, tiba-tiba posisi pembicaraan sudah berada pada posisi menggunjing orang. Di sinilah pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Supaya kita tidak terkena penyakit ghibah (menggunjing orang lain) yang menyakitkan dan membahayakan. Mungkin media tulisan inilah di antaranya instrumen yang bisa dioptimalkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitan keimanan kita. Insya Allah.

            Keempat, tangguh dalam menghadapi kesulitan (adversity quotient). Terkadang banyak orang yang tidak siap menghadapi berbagai kesulitan yang menimpanya. Kita memiliki banyak contoh di negeri kita, tentang orang yang tidak siap menghadapi kesulitan hidup. Kita sering melihat kasus bunuh diri, perampokan, pelacuran dan berbagai penyimpangan lainnya yang menyesatkan. Saya menduga penyebab itu semua adalah ketiadaan kemampuan menghadapi kesulitan (tidak memiliki kecerdasan ketangguhan).  Tidak tangguh dan sabar menghadapi kesulitan. Kita berkewajiban untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka agar mereka berani menjalani hidup. Tidak putus asa dan bunuh diri. Mungkin juga penyebab kuat prilaku menyimpang itu adalah karena kita meninggalkan mereka. Tidak membelanya. Kita hanya simpati saja terhadap penderitaan orang lain, tanpa aksi yang konkrit. Himbauan terhadap pembelaan fakir miskin sebatas peraturan dan perundang-undangan, yang implementasinya masih jauh dari kenyataan.   Wallahu a’lam bimuradih.

Permalink 1 Komentar

IMPLIKASI MASALAH PEMBONCENG GRATIS (FREE RIDER PROBLEM)

Januari 15, 2008 at 7:20 am (agama)

Beberapa kawan saya pernah (bahkan sering) bertanya pada saya: “Pak Ade bila seorang kandidat walikota atau bupati harus mengeluarkan biaya miliaran rupiah untuk memperoleh kemenangan dalam PILKADA, bagaimana caranya ia harus mengembalikan (menutup kembali) dana sebesar itu. Mungkinkah dana itu dapat kembali dengan gaji formal yang diterima seorang Walikota atau Bupati dalam masa jabatannya. Jangan­-jangan nanti ia korupsi untuk mengembalikan dana itu, atau mungkin ia jadi tidak fokus pada tugas utama, tapi malah harus berpikir keras bagaimana caranya menutup kembali berbagai biaya yang pernah ia keluarkan (termasuk sisa utang) bekas PILKADA”. Kurang lebih seperti itu mereka mengungkapkan kegelisahannya. Sampai saat ini saya tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan itu, apalagi ilmiah. Pikiran saya pun sama seperti mereka. Pemahaman matematika dan ekonomi yang saya miliki tetap tidak bisa menjawab dengan memuaskan. Untuk kasus ini akhirnya saya sering menduga-duga : mungkin saja seorang kandidat berniat ibadah (jihad) dengan segala daya dan hartanya, untuk menegakkan al-haq di pemerintahan yang akan ia pimpin nanti, atau mungkin juga ia ingin memberikan pelayanan terbaiknya buat rakyat (berkhidmat pada rakyat kecil). Bila ini yang terjadi, Insya Allah akan menjadi wasilah (perantara) terbaik bagi hidupnya. Kita wajib mendukungnya.Mengapa biaya kampanye harus mencapai angka yang cukup tinggi, harus mencapai miliaran rupiah. Kenyataannya memang demikian. Banyak faktor penyebabnya, antara lain diduga karena biaya-biaya sebagai berikut : kampanye, sosialisasi program, operasional, transportasi, atribut, santunan sosial instant, akomodasi, koalisi, pembonceng gratis (free rider problem), dan biaya lainnya. Tulisan sederhana ini hanya akan menjelaskan tentang biaya pembonceng gratis serta pengaruh dan implikasinya pada beberapa aspek dalam sistem pemerintahan di daerah. 

Implikasi Free Rider Problem pada Sistem Pemerintahan Daerah

Free rider problem adalah masalah (biaya) yang dihadapi (dikeluarkan) oleh suatu organisasi, kelompok atau gerakan yang efektivitasnya tidak jelas (tidak rasional) sehingga beban organisasi menjadi tinggi (tidak efisien), bahkan rasio manfaat dan biaya yang diperoleh pun menjadi tidak seimbang (kecil). Sehingga akhirnya sebuah organisasi atau kelompok akan mati secara perlahan, artinya tujuan yang diharapkan menjadi tidak tercapai. Persoalan inilah yang harus diwaspadai oleh setiap pasangan kandidat walikota dan wakil walikota dalam perhelatan politik di Kota Tasikmalaya sekarang ini. Para tim sukses harus paham dengan persoalan yang satu ini, jangan malah jadi beban bagi kandidat. Bila problem ini tidak teratasi (terantisipasi) maka akan menimbulkan beberapa akibat, di antaranya : konflik internal, melahirkan gerakan yang tidak sepenuh hati (kelompok pura-pura), dapat menyengsarakan kandidat pasca pemilihan, berpeluang korupsi bagi pemenang PILKADA dan lahirnya tuntutan tidak rasional dari para pelaku free rider di masa jabatan nanti.Penulis akan menjelaskan lebih lanjut tentang implikasi free rider problem terhadap beberapa aspek dalam sistem pemerintahan di tingkat daerah.

Pertama, produksi barang publik menjadi tidak optimal. Barang publik adalah barang yang pengadaannya selalu dilakukan oleh pemerintah, dengan tujuan kesejahteraan bagi masyarakat secara luas. Penggunaannya tidak saling bersaing (rivalitas tidak ada), artinya ketika seseorang menggunakan (memakai) barang tersebut tidak menghilangkan (menghalangi) orang lain untuk menggunakannya pula. Contoh sederhana adalah jalan, jembatan, bendungan dan lain sebagainya. Dana yang dipergunakan oleh pemerintah untuk memproduksi barang tersebut adalah dari anggaran publik (AFBN/APBD), atau dari rakyat. Ketika proses produksi barang tersebut terganggu oleh free rider problem (pendompleng gratis) : interest pribadi, kelompok, kepentingan partai, atas nama agama, demi perkawanan, hadiah bagi tim sukses dan lainnya, maka output barang publik menjadi terganggu. Kualitas menjadi jelek (tidak sesuai anggaran), jumlahnya menjadi sedikit dan distribusinya menjadi tidak adil (keadilan proposional tidak tercapai). Bi1a untuk PILKADA 9 September 2007 nanti para kandidat dan tim sukses sudah mengawali dengan kondisi sedemikian (memberi gerak secara bebas pada para free rider), maka disanalah awal terganggunya proses penciptaan barang publik dan sekaligus pula terganggunya kesejahteraan rakyat di kemudian hari.

Kedua, sistem alokasi sumberdaya ekonomi menjadi tidak adil. Salah satu fungsi pemerintah adalah mendistribusikan sumberdaya ekonomi secara adil dan merata pada seluruh warga masyarakat, bukan hanya pada para pendukungnya saja. Artinya secara prinsip bahwa keadilan ekonomi adalah hak publik yang harus menjadi prioritas dalam pemerintahan siapapun. Sumberdaya ekonomi yang dikuasai oleh pemerintah tercipta karena dua hal : (1) karena hadiah dari Yang Maha Kuasa, dan (2) karena regulasi pemerintah. Sumberdaya alam yang melimpah di republik kita, dan juga di Tasikmalaya adalah bukti kasih sayang Allah bagi hamba-Nya, yang harus sepenuhnya diperuntukan bagi kesejahteraan rakyat. Tidak bisa alokasi dan pengelolaan sumbedaya ekonomi hanya oleh sekelompok warga masyarakat saja, atau sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah (tidak akan mencapai Pareto optimal). Bila free rider masuk di dalamnya, pemanfaatan sumber daya alam menjadi tidak transparan, tidak bertanggung jawab dan terkadang sering berakhir dengan musibah yang menimpa warga masyarakat yang lemah. Kita sering menyaksikan hal ini terjadi di negeri tercinta ini. Padahal kita tahu tujuan utama sistem pemerintahan sesungguhnya hanya dua hal, yakni menghilangkan rasa lapar (menciptakan kesejahteraan) dan menghilangkan rasa takut (menciptakan rasa aman) bagi setiap warganya. Kedua hal ini adalah barang publik sekaligus hak publik. Bisakah para pemimpin Kota Tasikmalaya nanti menghilangkan rasa lapar dan menciptakan rasa aman dari berbagai ketakutan yang mungkin menimpa warga : takut sakit, takut bodoh, takut perampokan, takut gempa, takut tidak beriman, takut kedzaliman, dan berbagai rasa takut lainnya. Saya dan keluarga bahkan siapapun yang saya kenal akan saya ajak untuk memilih pemimpin yang mampu menegakkan dual tadi. Insya Allah. Siapapun harus mencari dan mendukung pemimpin yang siap melaksanakan haI tersebut.Selain sumberdaya ekonomi yang merupakan anugerah Allah SWT seperti disebutkan, pemerintah dapat pula menciptakan berbagai regulasi (aturan) yang sifatnya tidak memberatkan masyarakat, dalam rangka menciptakan sumberdaya ekonomi. Pastikan bahwa masyarakat siap berpartisipasi menciptakan dan mengakumulasi sumberdaya ekonomi untuk kepentingannya sendiri. Untuk republik Indonesia digunakan berbagai sistem misalnya : pajak, zakat, tabungan, laba badan usaha milik negara, sumbangan, hibah dan lainnya. Untuk mencapai pengelolaan yang optimal, jauhkan karakteristik free rider problem di sektor ini. Bila problem ini masih tetap ada, maka pajak hanya akan dirasakan sebagai beban saja, ketimbang manfaat yang diperolehnya.

Ketiga, rasionalitas menjadi hilang. Sifat dasar manusia yang harus selalu berpikir rasional, logis dan kritis menjadi hilang ketika kepentingan pembonceng gratis ada dalam suatu kelompok, sistem atau organisasi. Sifat rasionalitas yang harus ada pada ilmu ekonomi, politik dan sosial lainnya menjadi tak berlaku lagi bila pembonceng gratis lebih dominan dalam lingkup sebuah sistem, tim atau gerakan. Padahal kita tahu dengan sifat rasionalitas yang kita miliki, kita bisa bertindak secara adil dan bijaksana. Kita bisa membayangkan kehancuran yang lebih hebat lagi ketika semua pemimpin sudah bertindak secara tidak rasional : terjadi pemburuan rente ekonomi (pemimpin hanya akan mengakumulasi sumberdaya ekonomi untuk kepentingan pribadinya saja); sumberdaya alam akan terkuras habis; para pelaku ekonomi tidak berpikir lagi pemeliharaan lingkungan dan keberlanjutan sumberdaya alam; generasi muda, masyarakat akan bersifat pragmatis, sehingga pemikiran yang bersifat ideal dan ideologis akan semakin langka; moralitas akan hancur karena terkalahkan oleh kepentingan sesaat yang perlombaannya semakin keras; para elit politik akan menumpuk sumberdaya ekonomi untuk mempertahankan eksistensi jabatan politiknya di kemudian hari; dan kehancuran lainnya akan menyusul.Sadarlah wahai kawan, kita sebentar lagi akan menghadap Sang Khalik dan al­Mustofa Muhammad Rasulullah SAW. Allah akan menanyai kita tentang perjalanan hidup kita selama ini. Imam Ali pernah berkata : “Pelajaran yang paling berharga adalah mengingat mati”.


*) Penulis adalah dosen Ekonomi Politik Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas 

     Ekonomi UNSIL Tasikmalaya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

DEKLARASI MAKKAH TENTANG SITUASI DI IRAK

Januari 15, 2008 at 7:17 am (ekonomi)

Saat itu Ahad 12 Agustus 2007. Acara Peringatan Isra Mi ‘raj Rasulullah SAW di Majlis Khoirunnisa, Cilolohan Kota Tasikmalaya telah dimulai sejak pukul 09.45 WIB. Penceramah yang akan mengisi acara tersebut adalah Dr. K.H. Syaefuddin Herlambang, M.A., dari Jakarta. Seperti biasa beliau selalu hadir sebelum acara dimulai, jazaakallahu khairan katsiiraa. Pembawa acara yang sudah direncanakan sebelumnya tidak bisa hadir, akhirnya dipercayakan kepada saya sendiri. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an sekaligus sari tilawahnya. Sehabis sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa Ziyarah Rasulullah dan Tawasul. Pembacaan doa dipimpin oleh Sayyid Salam dari Irak. Dengan suara khas Timur Tengah yang sangat indah sekali, tidak terasa pembacaan doa menghabiskan waktu hampir satu jam. Di antara mustami’ kedengaran ada yang menangis, mungkin karena khusuknya menyimak doa yang dibacakan tadi. Selesai acara utama Isra Mi’raj –sambil makan nasi dus–, saya dan kawan-kawan sempat berbincang-bincang dengan Sayyid Salam tentang Deklarasi Makkah mengenai Situasi di Irak. Dalam diskusi itu muncul pemikiran bahwa isi deklarasi tersebut semestinya diketahui juga oleh masyarakat secara luas, karena makna yang sesungguhnya dari Deklarasi itu bukan hanya untuk bangsa Irak saja, melainkan untuk umat Islam di seluruh dunia, apapun madzhabnya. Dalam obrolan itu saya menyarankan agar segera dilakukan sosialisasi atau apapun bentuknya, yang penting pesan utama Deklarasi tersebut sampai kepada seluruh umat Islam.Sebagai gambaran awal, pada tulisan sederhana ini, saya akan mengutip sebagian isi Deklarasi itu, mudah-mudahan menjadi bahan renungan bagi kita dalam upaya mempersatukan umat Islam di mana pun mereka berada : “Segala pujian dan kemuliaan adalah milik Tuhan yang Maha agung. Semoga salam dan berkah-Nya senantiasa dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, dan para sahabatnya. Dengan mempertimbangkan (1) situasi yang terjadi sekarang ini di Irak, di mana pertumpahan darah, penjarahan hak milik, terjadi setiap hari. Semuanya dengan pengatasnamakan Islam, dan (2) sejalan dengan anjuran dari sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam, di bawah payung Akademi Fikih Internasional OKI (IIFA), maka kami, para ulama Irak, dari Mazhab Ahlus Sunnah dan Syi’ah, berkumpul di Makkah Al-Mukarramah, pada bulan Ramadhan 1427 (2006), setelah membicarakan perkembangan situasi di Irak dan prihatin terhadap nasib rakyatnya, serta masalah-masalah yang melingkupinya, dengan ini menyatakan DEKLARASI ini :

1. Jika salah seorang di antara kamu memanggil saudaranya : Kamu kafir, salah seorang di antara mereka akan menjadi kafir dan bertanggungjawab atasnya.

2.  Darah, harta benda, kehormatan, dan harga diri seorang Muslim adalah mulia berdasarkan firman Allah Swt. dalam Al-Quran : Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS Al-Nisa’ [4] : 93). Juga hadits Nabi Saw. : Setiap Muslim adalah mulia darahnya, hartanya, kehormatan, dan harga dirinya.Karena itu, tidak seorang Muslim pun –baik Sunni ataupun Syi’ah– yang dapat ditumpahkan darahnya, dianiaya, diintimidasi, diteror, diambil harta miliknya atau dijatuhkan kehormatannya, atau diculik keberadaannya. Lebih jauh lagi, tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang dapat dijadikan sandera dengan alasan perbedaan mazhab atau alasan agama lainnya. Siapa pun yang melakukan perbuatan sepeti itu, telah memisahkan dirinya dari kehormatan Umah (kaum Muslim), termasuk semua yang memegang otoritas di dalam Islam, para ulama, dan orang-orang yang beriman”.

Demikian beberapa paragraf Deklarasi Makkah tentang Situasi Irak yang telah ditandatangani oleh beberapa negara Islam di Makkah Al-Mukarramah tanggal 21 Oktober 2006. Selanjutnya, pada tanggal 3-4 April 2007, di Indonesia, tepatnya di Istana Presiden Bogor, Deklarasi Makkah mendapat penguatan dari para peserta Konferensi Internasional Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak. Mereka berkumpul dan bertekad ingin mewujudkan perdamaian secara penuh di antara bangsa Muslim Irak. Tentunya, buat kita sebagai awam seharusnyalah memanjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah Swt. karena dengan adanya Deklarasi ini akan banyak hikmah dan implikasi positif yang dapat dirasakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Insya Allah.

Berikut ini adalah beberapa implikasi dan hal-hal positif lainnya yang kita harapkan dari Deklarasi Makkah, di antaranya adalah :

Pertama, Deklarasi Makkah merupakan indikasi kuat lahirnya kesadaran bersama tentang makna persaudaraan umat Islam yang sesungguhnya. Pengalaman sejarah panjang menunjukkan bahwa kelemahan dan hancurnya persatuan umat Islam ternyata salah satu faktor penyebabnya adalah konflik interen yang tak kunjung selesai. Sejak 1947, baru pertama kali ini di penghujung tahun 2006 mazhab Sunni-Syi’ah kembali melakukan muktamar besar untuk melakukan rekonsiliasi, saling mengakui dan saling memuliakan di antara sesama hamba Allah. Sinyal positif ini harus kita maknai dengan positif pula, agar energi umat Islam yang sudah digunakan untuk upaya itu tidak menjadi sia-sia.

Kedua, sudah seharusnya kita menghilangkan sekat-sekat mazhab yang sempit. Kehadiran Deklarasi Makkah membawa situasi baru bagi umat Islam, artinya sektarianisme harus segera dihilangkan, karena ternyata banyak membawa madharat, dan kehancuran lainnya. Pertengkaran Sunni-Syi’ah yang berkepanjangan harus segera disudahi. Kita sudah cukup menderita dengan semakin banyaknya korban dan kerugian fisik lainnya. Saatnyalah kita untuk lebih melihat jauh kedepan demi kejayaan Islam sebagai rahmatal lilalamiin.

Ketiga, perlunya komitmen bersama untuk implementasi Deklarasi secara konkrit di lapangan. Tanpa komitmen dan konsistensi bersama umat Islam, rasanya Deklarasi tidak akan bisa dilaksanakan secara optimal. Untuk ini, sekali lagi, kita perlu ketulusan hati agar beban-beban fsikologis tidak menghalangi dalam upaya menjalankan kesepakatan tersebut. Indikator keseriusan akan tampak secara nyata di antara umat Islam bila Deklarasi dilaksanakan dengan sebaik-baikya. Sebagai bukti keseriusan dalam mewujudkannya, kita harus melanjutkan Deklarasi tersebut kedalam bentuk yang lebih opersioal lagi di tingkat daerah, sehingga cakupan Deklarasi akan semakin luas dan implikasinya akan terasa keseluruh pelosok negeri.

Keempat, kita sebagai sesama umat Islam tidak perlu lagi (bahkan tidak ada gunanya) untuk selalu saling menyalahkan dan menyesatkan. Kita harus mengakhiri menghakimi orang lain dengan memutlakkan pendapat kita kepadanya. Kebenaran mutlak hanya milik Allah semata. Untuk itu sebaiknya kita selalu mengingat ucapan Ibn Hajar Al-Haitami : “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Dan mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran “. Dengan prinsip ini akan lahir sikap toleransi yang tinggi dan kebersamaan dalam keragaman. Indah sekali. Khasanah keilmuan akan cepat berkembang dan pandangan umat Islam pun tidak sempit dan picik. Bila masalah itu selesai, kita akan segera fokus untuk mentuntaskan berbagai agenda umat Islam yang tertinggal, yaitu kemiskinan, kebodohan, kelaparan, rendahnya tingkat kesehatan, moralitas yang semakin hancur dan berbagai problem lainnya.

Kelima, Deklarasi Makkah merupakan kebutuhan dan sekaligus pelajaran berharga umat Islam di seluruh dunia. Pelajaran ini sangat mahal, karena harus dibayar dengan ribuan nyawa. Oleh karena itu saatnyalah kita mengambil ‘itibar dari kasus ini. Belum terlambat, bahkan ini kebutuhan mendesak yang harus menjadi concern kita semua.

Keenam, Deklarasi Makkah dengan segala implementasinya yang konsisten akan menggentarkan musuh-musuh Islam. Percayalah, kita akan menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan oleh pihak lain karena kekuatan dan kekompakkan yang kita galang semakin kokoh. Kita harus menjadi umat terbaik. Tidak dilecehkan oleh kaum kafir. Simak ayat Al-Quran berikut : “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (QS. Al-Imran ayat 110).Ketujuh, perlunya pemimpin umat sebagai pemersatu dari manapun ia mazhabnya. Sesuatu yang ideal adalah pemimpin umat Islam yang mampu membawa pada kedamaian dan kesejahteraan dunia. Oleh karena itu kita harus terus berusaha mempersiapkannya dengan cara bekerja serius, fokus dan tidak saling menghantam atau menjatuhkan satu sama lainnya. Salah satunya adalah memaknai Deklarasi secara tulus, ikhlas dan tidak saling curiga. Tidak ada ruginya kan kalau Sunni dan Syiah bersatu ?. Ini yang diinginkan di Timur Tengah bahkan di seluruh dunia, tetapi ini pula yang tidak disukai oleh Amerika dan sekutunya.Itulah beberapa harapan ideal yang ingin kita capai. Dengan semangat kebersamaan dan kekompakkan umat Islam dimana pun mereka berada, apapun mazhabnya, Insya Allah usaha-usaha positif tersebut akan segera terwujud. Sejatinya, semangat ini pula yang harus mewarnai setiap peringatan HUT RI yang selama ini selalu kita rayakan di tanah air. Semoga Allah meridhai usaha kita. Amiin.


*) Penulis adalah dosen Ekonomi Politik Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UNSIL Tasikmalaya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

AKHLAK MULIA SANG PENGUASA

Januari 12, 2008 at 7:57 am (agama)

Akhlak mulia adalah sebuah hiasan hidup yang seharusnya melekat pada diri siapapun. Terlebih bagi seorang pemimpin. Baginya, kemuliaan akhlak harus menjadi prasyarat utama dan harus menyertainya sebelum dia memiliki kekuasaan. Berkaitan dengan akhlak mulia ini, ada baiknya,  kita tengok sekilas sebuah kisah perjalanan hidup hamba Allah yang memiliki kemuliaan akhlak  luar biasa. Dia adalah Malik Al-Asytar, seorang murid Imam Ali kw., sekaligus tangan kanannya. 

Suatu hari Malik Al-Asyatar berkeliling di pasar Kufah dengan mengenakan pakaian yang sudah kumal dan tutup kepala yang usang. Sebagian pedagang pasar yang melihatnya merasa jijik dengan pakaiannya itu dan melemparkan segemgam lumpur sembari merendahkannya. Malik tidak menghiraukannya dan terus berjalan dengan tenang. Seorang pemuda bergegas menghampiri pedagang yang mrendahkannya itu seraya bertanya, “Tahukah kamu siapa orang yang telah kamu lempar itu?” Ia menjawab, “Tidak,”. Lantas si pemuda menambahkan, “Dialah Malik bin Asytar, tangan kanan Amirul mukminin Imam Ali kw.”

Tiba-tiba si pedagang menggigil ketakutan dan bergegas mengejarnya untuk meminta maaf. Dilihatnya Malik sudah memasuki masjid dan sedang melaksanakan salat. Saat selesai salat, si pedagang bersimpuh di kedua kaki Malik sembari menciumnya. Lalu Malik bertanya, “Ada apa gerangan?”

Si pedagang menjawab, “Aku mohon maaf padamu atas apa yang telah aku lakukan,” lalu Malik menimpali, “Sudahlah tak mengapa, demi Allah sama sekali aku tidak berniat ke masjid, kecuali untuk memohonkan ampun bagimu”.

Inilah sebuah kisah pendek seorang sahabat sekaligus murid Imam Ali kw. yang memiliki kemuliaan akhlak sangat tinggi. Pelajaran dan hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut? Baiklah kita coba untuk  mengulasnya.

Pertama, kesederhanaan tidak mengurangi kemuliaan seseorang. Walaupun Malik Al-Asytar begitu sederhana dalam hidupnya –saat itu terlihat dari pakaiannya yang begitu sederhana–, kehormatan dan kewibawaannya  tetap tumbuh dan terpancar dari prilakunya. Orang tetap hormat dan segan padannya. Orang bersalah akan bergetar jiwanya ketika mendengar namanya disebutkan.  Kewibawaannya merasuk kedalam hati siapapun.

Kedua, sifat pemaaf dan tidak pendendam. Sesungguhnya tindakan pedagang  (yang melempar dengan lumpur itu)  sudah di luar batas yang wajar. Dia telah menghina dan merendahkan seseorang, padahal yang ia rendahkan itu belum ia kenali. Dia menghinanya karena penampilannya yang menjijikan. Namun apa yang kita saksikan, Malik Al-Asytar tidak merasa terganggu sedikitpun dengan ulah si pedagang itu, malah ia langsung menuju masjid untuk memohonkan ampun secara khusus baginya. Sungguh luar biasa.

Kalau kasus itu –pelemparan dengan tanah lumpur– mengenai kita, boleh jadi  kita akan membalasnya lebih dari itu : mungkin dengan memukulnya, menamparnya  atau mungkin dengan bentuk  kekerasan fisik lainnya. Itu semua dilakukan  sebagai wujud emosional kita kepada yang mencemoohkan. Tapi di luar dugaan,  Malik Al-Asytar  malah memaafkannya dan sekaligus memohonkan ampunan baginya.

Kesalehan Malik rasanya sulit ditemukan pada penguasa atau pemimpin pada  zaman sekarang. Padahal pada saat itu Malik Al-Asytar pun adalah penguasa (tangan kanan Imam Ali), yang dengan kekuasaannya bisa memberikan hukuman kepada siapapun yang menghinanya. Tapi malah kita melihat sesuatu yang sebaliknya, sang penguasa itu malah memaafkannya. Inilah kemuliaan akhlak yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin dan penguasa saat ini. 

Ketiga, penghinaan adalah akhlak yang tercela. Sebagai umat manusia tidak boleh menghina atau merendahkan kehormatan seseorang. Masih mending jika penghinaan itu  diakhiri dengan penyesalan dan tobat kepada Allah SWT. Tapi bayangkan sebuah penghinaan yang tidak diakhiri dengan penyesalan dan permohonan maaf kepada yang bersangkutan, ini jelas akan berakibat panjang dan mencelakakan.  Sehubungan dengan ini ada sebuah kisah yang patut direnungkan: “Ketika Rasulullah thawaf mengelilingi Ka’bah, beliau berhenti di Multazam,  beliau berkata, ‘Duhai Ka’bah, betapa mulianya engkau, betapa agungnya engkau, betapa luhurnya engkau’. Tetapi demi Zat yang diriku ada di tangan-Nya, kehormatan seorang muslim lebih tinggi dari kehormatan Ka’bah.”  Oleh karena itu di dalam Islam termasuk dosa besar menjatuhkan kehormatan seorang muslim, dosanya lebih besar daripada menjatuhkan kehormatan Ka’bah.

Keempat, materi bukan ukuran kemuliaan akhlak. Harga diri, kemuliaan, kewibawaan, dan kekuasaan sungguh tidak diukur dengan banyaknya materi. Kita melihat banyak contoh dalam sejarah, bahwa kemuliaan dan kebesaran pemimpin Islam tidak disandarkan kepada bergelimangnya kekayaan yang dimiliki. Kita lihat Rasul SAW, Imam Ali kw, dan shahabat lainnya lebih memilih kesederhanaan dan hidup bersama kaum mustad’afin daripada menumpuk kekayaan. Prilaku yang sederhana ini tercermin dari kepribadian  murid Imam Ali itu sendiri, Malik Al-Asytar.

Kelima, keberhasilan seorang guru tercermin dari kesalehan murid-muridnya. Kisah  di atas sesungguhnya sekaligus sedang menceritakan keberhasilan seorang guru (Imam Ali kw) dalam mendidik muridnya. Transfer kesalehan kepada seorang murid bukanlah hal yang mudah, dan tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kesalehan itu sendiri. Sesungguhnya, suatu kebohongan yang nyata, apabila  seseorang berbicara kesalehan, ketakwaan dan hal-hal yang baik lainnya, tetapi ia sendiri bukan pelaku ketakwaan itu, atau malah penentang kebaikan.

Ingin rasanya akhlak Malik Al-Asytar hadir di tengah-tengah kita dan mewarnai semua aspek kehidupan  : ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya. Saya yakin, bila prilaku itu mewarnai kehidupan ekonomi, akan banyak sumber keuangan negara yang  terselamatkan. Keadilan ekonomi akan segera terwujud. Kesederhanaan selalu menghiasi keseharian para pejabat dan penguasa. Himbauan hidup sederhana bukan sekedar slogan belaka, tetapi betul-betul dimulai oleh para pejabat. Para pejabat tidak lagi membahas persoalan-persoalan kemiskinan dan penderitaan rakyat kecil di hotel berbintang dan mewah dengan menggunakan uang rakyat. Kepentingan rakyat kecil betul-betul menjadi perhatian utama  dalam pembangunan. Para pejabat dan politisi tidak lagi sibuk mengurus kepentingan pribadinya (gaji, fasilitas jabatan dan sebagainya), sebelum kepentingan rakyatnya terperhatikan. Ini rasanya yang sungguh-sungguh diharapkan oleh rakyat kecil. Rasanya mereka tidak terlalu berkepentingan dengan apa yang disebut Tatib, koalisi, Fraksi, Komisi, Legislasi dan sebagainya. Bagi mereka persoalannya sederhana saja, yakni hari ini bisa makan atau tidak? Para politisi seharusnya bisa memberikan jawaban itu semua, karena itu yang sangat dinanti-nanti.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengungkapkan kembali contoh akhlak mulia yang pernah terjadi dalam sejarah.

Sirri al-Siqthi, salah seorang ahli tasauf (urafa), pernah berkata, “Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar hanya karena sekali saja aku bersyukur pada Allah”. Orang-orang bertanya padanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Siqthi menjawab, “Saat itu aku mempunyai toko di pasar Baghdad. Suatu saat orang-orang mengabariku bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api. Aku bergegas pergi untuk melihat apakah tokoku juga terbakar. Salah seorang mengabariku bahwa api tidak sampai membakar tokoku. Akupun berkata Ahamdulillah”.

Setelah itu jiwaku terusik, hatikupun berkata, ‘Engkau tidak sendirian di dunia ini. Beberapa toko telah terbakar. Memang tokomu tidak terbakar, tapi toko-toko yang lainnya terbakar. Ucapan alhamdulillah  berarti aku bersyukur api tidak membakar tokoku, meski membakar toko yang lainnya! Berarti aku rela toko orang lain terbakar asalkan tokoku tidak.’

Akupun berkata dalam diriku, ‘Sirri! Tidakkah engkau memperhatikan urusan saudaramu kaum muslimin?’

Demikian sekilas kisah orang  yang merasa menyesal dan beristighfar selama tiga puluh tahun berturut-turut, karena dosa mereka mengucapkan alhamdulillah ketika tokonya tidak terbakar sementara toko-toko saudaranya yang lain tidak. Subhaanallah.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PENGANGGURAN DAN DAYA BELI

Januari 12, 2008 at 7:48 am (ekonomi)

1. Pengangguran : Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

     Banyak aspek yang terkait dengan persoalan pengangguran. Kita dapat mengeksplorasinya dari beberapa sisi, diantaranya : faktor penyebab, dampak, dan cara  mengatasi pengangguran. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

Hello world!

Januari 12, 2008 at 7:21 am (Uncategorized)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar