AKHLAK MULIA SANG PENGUASA

Januari 12, 2008 at 7:57 am (agama)

Akhlak mulia adalah sebuah hiasan hidup yang seharusnya melekat pada diri siapapun. Terlebih bagi seorang pemimpin. Baginya, kemuliaan akhlak harus menjadi prasyarat utama dan harus menyertainya sebelum dia memiliki kekuasaan. Berkaitan dengan akhlak mulia ini, ada baiknya,  kita tengok sekilas sebuah kisah perjalanan hidup hamba Allah yang memiliki kemuliaan akhlak  luar biasa. Dia adalah Malik Al-Asytar, seorang murid Imam Ali kw., sekaligus tangan kanannya. 

Suatu hari Malik Al-Asyatar berkeliling di pasar Kufah dengan mengenakan pakaian yang sudah kumal dan tutup kepala yang usang. Sebagian pedagang pasar yang melihatnya merasa jijik dengan pakaiannya itu dan melemparkan segemgam lumpur sembari merendahkannya. Malik tidak menghiraukannya dan terus berjalan dengan tenang. Seorang pemuda bergegas menghampiri pedagang yang mrendahkannya itu seraya bertanya, “Tahukah kamu siapa orang yang telah kamu lempar itu?” Ia menjawab, “Tidak,”. Lantas si pemuda menambahkan, “Dialah Malik bin Asytar, tangan kanan Amirul mukminin Imam Ali kw.”

Tiba-tiba si pedagang menggigil ketakutan dan bergegas mengejarnya untuk meminta maaf. Dilihatnya Malik sudah memasuki masjid dan sedang melaksanakan salat. Saat selesai salat, si pedagang bersimpuh di kedua kaki Malik sembari menciumnya. Lalu Malik bertanya, “Ada apa gerangan?”

Si pedagang menjawab, “Aku mohon maaf padamu atas apa yang telah aku lakukan,” lalu Malik menimpali, “Sudahlah tak mengapa, demi Allah sama sekali aku tidak berniat ke masjid, kecuali untuk memohonkan ampun bagimu”.

Inilah sebuah kisah pendek seorang sahabat sekaligus murid Imam Ali kw. yang memiliki kemuliaan akhlak sangat tinggi. Pelajaran dan hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut? Baiklah kita coba untuk  mengulasnya.

Pertama, kesederhanaan tidak mengurangi kemuliaan seseorang. Walaupun Malik Al-Asytar begitu sederhana dalam hidupnya –saat itu terlihat dari pakaiannya yang begitu sederhana–, kehormatan dan kewibawaannya  tetap tumbuh dan terpancar dari prilakunya. Orang tetap hormat dan segan padannya. Orang bersalah akan bergetar jiwanya ketika mendengar namanya disebutkan.  Kewibawaannya merasuk kedalam hati siapapun.

Kedua, sifat pemaaf dan tidak pendendam. Sesungguhnya tindakan pedagang  (yang melempar dengan lumpur itu)  sudah di luar batas yang wajar. Dia telah menghina dan merendahkan seseorang, padahal yang ia rendahkan itu belum ia kenali. Dia menghinanya karena penampilannya yang menjijikan. Namun apa yang kita saksikan, Malik Al-Asytar tidak merasa terganggu sedikitpun dengan ulah si pedagang itu, malah ia langsung menuju masjid untuk memohonkan ampun secara khusus baginya. Sungguh luar biasa.

Kalau kasus itu –pelemparan dengan tanah lumpur– mengenai kita, boleh jadi  kita akan membalasnya lebih dari itu : mungkin dengan memukulnya, menamparnya  atau mungkin dengan bentuk  kekerasan fisik lainnya. Itu semua dilakukan  sebagai wujud emosional kita kepada yang mencemoohkan. Tapi di luar dugaan,  Malik Al-Asytar  malah memaafkannya dan sekaligus memohonkan ampunan baginya.

Kesalehan Malik rasanya sulit ditemukan pada penguasa atau pemimpin pada  zaman sekarang. Padahal pada saat itu Malik Al-Asytar pun adalah penguasa (tangan kanan Imam Ali), yang dengan kekuasaannya bisa memberikan hukuman kepada siapapun yang menghinanya. Tapi malah kita melihat sesuatu yang sebaliknya, sang penguasa itu malah memaafkannya. Inilah kemuliaan akhlak yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin dan penguasa saat ini. 

Ketiga, penghinaan adalah akhlak yang tercela. Sebagai umat manusia tidak boleh menghina atau merendahkan kehormatan seseorang. Masih mending jika penghinaan itu  diakhiri dengan penyesalan dan tobat kepada Allah SWT. Tapi bayangkan sebuah penghinaan yang tidak diakhiri dengan penyesalan dan permohonan maaf kepada yang bersangkutan, ini jelas akan berakibat panjang dan mencelakakan.  Sehubungan dengan ini ada sebuah kisah yang patut direnungkan: “Ketika Rasulullah thawaf mengelilingi Ka’bah, beliau berhenti di Multazam,  beliau berkata, ‘Duhai Ka’bah, betapa mulianya engkau, betapa agungnya engkau, betapa luhurnya engkau’. Tetapi demi Zat yang diriku ada di tangan-Nya, kehormatan seorang muslim lebih tinggi dari kehormatan Ka’bah.”  Oleh karena itu di dalam Islam termasuk dosa besar menjatuhkan kehormatan seorang muslim, dosanya lebih besar daripada menjatuhkan kehormatan Ka’bah.

Keempat, materi bukan ukuran kemuliaan akhlak. Harga diri, kemuliaan, kewibawaan, dan kekuasaan sungguh tidak diukur dengan banyaknya materi. Kita melihat banyak contoh dalam sejarah, bahwa kemuliaan dan kebesaran pemimpin Islam tidak disandarkan kepada bergelimangnya kekayaan yang dimiliki. Kita lihat Rasul SAW, Imam Ali kw, dan shahabat lainnya lebih memilih kesederhanaan dan hidup bersama kaum mustad’afin daripada menumpuk kekayaan. Prilaku yang sederhana ini tercermin dari kepribadian  murid Imam Ali itu sendiri, Malik Al-Asytar.

Kelima, keberhasilan seorang guru tercermin dari kesalehan murid-muridnya. Kisah  di atas sesungguhnya sekaligus sedang menceritakan keberhasilan seorang guru (Imam Ali kw) dalam mendidik muridnya. Transfer kesalehan kepada seorang murid bukanlah hal yang mudah, dan tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kesalehan itu sendiri. Sesungguhnya, suatu kebohongan yang nyata, apabila  seseorang berbicara kesalehan, ketakwaan dan hal-hal yang baik lainnya, tetapi ia sendiri bukan pelaku ketakwaan itu, atau malah penentang kebaikan.

Ingin rasanya akhlak Malik Al-Asytar hadir di tengah-tengah kita dan mewarnai semua aspek kehidupan  : ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya. Saya yakin, bila prilaku itu mewarnai kehidupan ekonomi, akan banyak sumber keuangan negara yang  terselamatkan. Keadilan ekonomi akan segera terwujud. Kesederhanaan selalu menghiasi keseharian para pejabat dan penguasa. Himbauan hidup sederhana bukan sekedar slogan belaka, tetapi betul-betul dimulai oleh para pejabat. Para pejabat tidak lagi membahas persoalan-persoalan kemiskinan dan penderitaan rakyat kecil di hotel berbintang dan mewah dengan menggunakan uang rakyat. Kepentingan rakyat kecil betul-betul menjadi perhatian utama  dalam pembangunan. Para pejabat dan politisi tidak lagi sibuk mengurus kepentingan pribadinya (gaji, fasilitas jabatan dan sebagainya), sebelum kepentingan rakyatnya terperhatikan. Ini rasanya yang sungguh-sungguh diharapkan oleh rakyat kecil. Rasanya mereka tidak terlalu berkepentingan dengan apa yang disebut Tatib, koalisi, Fraksi, Komisi, Legislasi dan sebagainya. Bagi mereka persoalannya sederhana saja, yakni hari ini bisa makan atau tidak? Para politisi seharusnya bisa memberikan jawaban itu semua, karena itu yang sangat dinanti-nanti.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengungkapkan kembali contoh akhlak mulia yang pernah terjadi dalam sejarah.

Sirri al-Siqthi, salah seorang ahli tasauf (urafa), pernah berkata, “Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar hanya karena sekali saja aku bersyukur pada Allah”. Orang-orang bertanya padanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Siqthi menjawab, “Saat itu aku mempunyai toko di pasar Baghdad. Suatu saat orang-orang mengabariku bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api. Aku bergegas pergi untuk melihat apakah tokoku juga terbakar. Salah seorang mengabariku bahwa api tidak sampai membakar tokoku. Akupun berkata Ahamdulillah”.

Setelah itu jiwaku terusik, hatikupun berkata, ‘Engkau tidak sendirian di dunia ini. Beberapa toko telah terbakar. Memang tokomu tidak terbakar, tapi toko-toko yang lainnya terbakar. Ucapan alhamdulillah  berarti aku bersyukur api tidak membakar tokoku, meski membakar toko yang lainnya! Berarti aku rela toko orang lain terbakar asalkan tokoku tidak.’

Akupun berkata dalam diriku, ‘Sirri! Tidakkah engkau memperhatikan urusan saudaramu kaum muslimin?’

Demikian sekilas kisah orang  yang merasa menyesal dan beristighfar selama tiga puluh tahun berturut-turut, karena dosa mereka mengucapkan alhamdulillah ketika tokonya tidak terbakar sementara toko-toko saudaranya yang lain tidak. Subhaanallah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: