DEKLARASI MAKKAH TENTANG SITUASI DI IRAK

Januari 15, 2008 at 7:17 am (ekonomi)

Saat itu Ahad 12 Agustus 2007. Acara Peringatan Isra Mi ‘raj Rasulullah SAW di Majlis Khoirunnisa, Cilolohan Kota Tasikmalaya telah dimulai sejak pukul 09.45 WIB. Penceramah yang akan mengisi acara tersebut adalah Dr. K.H. Syaefuddin Herlambang, M.A., dari Jakarta. Seperti biasa beliau selalu hadir sebelum acara dimulai, jazaakallahu khairan katsiiraa. Pembawa acara yang sudah direncanakan sebelumnya tidak bisa hadir, akhirnya dipercayakan kepada saya sendiri. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an sekaligus sari tilawahnya. Sehabis sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa Ziyarah Rasulullah dan Tawasul. Pembacaan doa dipimpin oleh Sayyid Salam dari Irak. Dengan suara khas Timur Tengah yang sangat indah sekali, tidak terasa pembacaan doa menghabiskan waktu hampir satu jam. Di antara mustami’ kedengaran ada yang menangis, mungkin karena khusuknya menyimak doa yang dibacakan tadi. Selesai acara utama Isra Mi’raj –sambil makan nasi dus–, saya dan kawan-kawan sempat berbincang-bincang dengan Sayyid Salam tentang Deklarasi Makkah mengenai Situasi di Irak. Dalam diskusi itu muncul pemikiran bahwa isi deklarasi tersebut semestinya diketahui juga oleh masyarakat secara luas, karena makna yang sesungguhnya dari Deklarasi itu bukan hanya untuk bangsa Irak saja, melainkan untuk umat Islam di seluruh dunia, apapun madzhabnya. Dalam obrolan itu saya menyarankan agar segera dilakukan sosialisasi atau apapun bentuknya, yang penting pesan utama Deklarasi tersebut sampai kepada seluruh umat Islam.Sebagai gambaran awal, pada tulisan sederhana ini, saya akan mengutip sebagian isi Deklarasi itu, mudah-mudahan menjadi bahan renungan bagi kita dalam upaya mempersatukan umat Islam di mana pun mereka berada : “Segala pujian dan kemuliaan adalah milik Tuhan yang Maha agung. Semoga salam dan berkah-Nya senantiasa dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, dan para sahabatnya. Dengan mempertimbangkan (1) situasi yang terjadi sekarang ini di Irak, di mana pertumpahan darah, penjarahan hak milik, terjadi setiap hari. Semuanya dengan pengatasnamakan Islam, dan (2) sejalan dengan anjuran dari sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam, di bawah payung Akademi Fikih Internasional OKI (IIFA), maka kami, para ulama Irak, dari Mazhab Ahlus Sunnah dan Syi’ah, berkumpul di Makkah Al-Mukarramah, pada bulan Ramadhan 1427 (2006), setelah membicarakan perkembangan situasi di Irak dan prihatin terhadap nasib rakyatnya, serta masalah-masalah yang melingkupinya, dengan ini menyatakan DEKLARASI ini :

1. Jika salah seorang di antara kamu memanggil saudaranya : Kamu kafir, salah seorang di antara mereka akan menjadi kafir dan bertanggungjawab atasnya.

2.  Darah, harta benda, kehormatan, dan harga diri seorang Muslim adalah mulia berdasarkan firman Allah Swt. dalam Al-Quran : Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS Al-Nisa’ [4] : 93). Juga hadits Nabi Saw. : Setiap Muslim adalah mulia darahnya, hartanya, kehormatan, dan harga dirinya.Karena itu, tidak seorang Muslim pun –baik Sunni ataupun Syi’ah– yang dapat ditumpahkan darahnya, dianiaya, diintimidasi, diteror, diambil harta miliknya atau dijatuhkan kehormatannya, atau diculik keberadaannya. Lebih jauh lagi, tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang dapat dijadikan sandera dengan alasan perbedaan mazhab atau alasan agama lainnya. Siapa pun yang melakukan perbuatan sepeti itu, telah memisahkan dirinya dari kehormatan Umah (kaum Muslim), termasuk semua yang memegang otoritas di dalam Islam, para ulama, dan orang-orang yang beriman”.

Demikian beberapa paragraf Deklarasi Makkah tentang Situasi Irak yang telah ditandatangani oleh beberapa negara Islam di Makkah Al-Mukarramah tanggal 21 Oktober 2006. Selanjutnya, pada tanggal 3-4 April 2007, di Indonesia, tepatnya di Istana Presiden Bogor, Deklarasi Makkah mendapat penguatan dari para peserta Konferensi Internasional Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak. Mereka berkumpul dan bertekad ingin mewujudkan perdamaian secara penuh di antara bangsa Muslim Irak. Tentunya, buat kita sebagai awam seharusnyalah memanjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah Swt. karena dengan adanya Deklarasi ini akan banyak hikmah dan implikasi positif yang dapat dirasakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Insya Allah.

Berikut ini adalah beberapa implikasi dan hal-hal positif lainnya yang kita harapkan dari Deklarasi Makkah, di antaranya adalah :

Pertama, Deklarasi Makkah merupakan indikasi kuat lahirnya kesadaran bersama tentang makna persaudaraan umat Islam yang sesungguhnya. Pengalaman sejarah panjang menunjukkan bahwa kelemahan dan hancurnya persatuan umat Islam ternyata salah satu faktor penyebabnya adalah konflik interen yang tak kunjung selesai. Sejak 1947, baru pertama kali ini di penghujung tahun 2006 mazhab Sunni-Syi’ah kembali melakukan muktamar besar untuk melakukan rekonsiliasi, saling mengakui dan saling memuliakan di antara sesama hamba Allah. Sinyal positif ini harus kita maknai dengan positif pula, agar energi umat Islam yang sudah digunakan untuk upaya itu tidak menjadi sia-sia.

Kedua, sudah seharusnya kita menghilangkan sekat-sekat mazhab yang sempit. Kehadiran Deklarasi Makkah membawa situasi baru bagi umat Islam, artinya sektarianisme harus segera dihilangkan, karena ternyata banyak membawa madharat, dan kehancuran lainnya. Pertengkaran Sunni-Syi’ah yang berkepanjangan harus segera disudahi. Kita sudah cukup menderita dengan semakin banyaknya korban dan kerugian fisik lainnya. Saatnyalah kita untuk lebih melihat jauh kedepan demi kejayaan Islam sebagai rahmatal lilalamiin.

Ketiga, perlunya komitmen bersama untuk implementasi Deklarasi secara konkrit di lapangan. Tanpa komitmen dan konsistensi bersama umat Islam, rasanya Deklarasi tidak akan bisa dilaksanakan secara optimal. Untuk ini, sekali lagi, kita perlu ketulusan hati agar beban-beban fsikologis tidak menghalangi dalam upaya menjalankan kesepakatan tersebut. Indikator keseriusan akan tampak secara nyata di antara umat Islam bila Deklarasi dilaksanakan dengan sebaik-baikya. Sebagai bukti keseriusan dalam mewujudkannya, kita harus melanjutkan Deklarasi tersebut kedalam bentuk yang lebih opersioal lagi di tingkat daerah, sehingga cakupan Deklarasi akan semakin luas dan implikasinya akan terasa keseluruh pelosok negeri.

Keempat, kita sebagai sesama umat Islam tidak perlu lagi (bahkan tidak ada gunanya) untuk selalu saling menyalahkan dan menyesatkan. Kita harus mengakhiri menghakimi orang lain dengan memutlakkan pendapat kita kepadanya. Kebenaran mutlak hanya milik Allah semata. Untuk itu sebaiknya kita selalu mengingat ucapan Ibn Hajar Al-Haitami : “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Dan mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran “. Dengan prinsip ini akan lahir sikap toleransi yang tinggi dan kebersamaan dalam keragaman. Indah sekali. Khasanah keilmuan akan cepat berkembang dan pandangan umat Islam pun tidak sempit dan picik. Bila masalah itu selesai, kita akan segera fokus untuk mentuntaskan berbagai agenda umat Islam yang tertinggal, yaitu kemiskinan, kebodohan, kelaparan, rendahnya tingkat kesehatan, moralitas yang semakin hancur dan berbagai problem lainnya.

Kelima, Deklarasi Makkah merupakan kebutuhan dan sekaligus pelajaran berharga umat Islam di seluruh dunia. Pelajaran ini sangat mahal, karena harus dibayar dengan ribuan nyawa. Oleh karena itu saatnyalah kita mengambil ‘itibar dari kasus ini. Belum terlambat, bahkan ini kebutuhan mendesak yang harus menjadi concern kita semua.

Keenam, Deklarasi Makkah dengan segala implementasinya yang konsisten akan menggentarkan musuh-musuh Islam. Percayalah, kita akan menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan oleh pihak lain karena kekuatan dan kekompakkan yang kita galang semakin kokoh. Kita harus menjadi umat terbaik. Tidak dilecehkan oleh kaum kafir. Simak ayat Al-Quran berikut : “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (QS. Al-Imran ayat 110).Ketujuh, perlunya pemimpin umat sebagai pemersatu dari manapun ia mazhabnya. Sesuatu yang ideal adalah pemimpin umat Islam yang mampu membawa pada kedamaian dan kesejahteraan dunia. Oleh karena itu kita harus terus berusaha mempersiapkannya dengan cara bekerja serius, fokus dan tidak saling menghantam atau menjatuhkan satu sama lainnya. Salah satunya adalah memaknai Deklarasi secara tulus, ikhlas dan tidak saling curiga. Tidak ada ruginya kan kalau Sunni dan Syiah bersatu ?. Ini yang diinginkan di Timur Tengah bahkan di seluruh dunia, tetapi ini pula yang tidak disukai oleh Amerika dan sekutunya.Itulah beberapa harapan ideal yang ingin kita capai. Dengan semangat kebersamaan dan kekompakkan umat Islam dimana pun mereka berada, apapun mazhabnya, Insya Allah usaha-usaha positif tersebut akan segera terwujud. Sejatinya, semangat ini pula yang harus mewarnai setiap peringatan HUT RI yang selama ini selalu kita rayakan di tanah air. Semoga Allah meridhai usaha kita. Amiin.


*) Penulis adalah dosen Ekonomi Politik Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UNSIL Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: