KECERDASAAN EMOSI DAN PEMBELAAN TERHADAP MUSTADAFIN

Januari 15, 2008 at 7:51 am (agama) ()

Pendahuluan            

 Tidak terasa 10 tahun sudah usia Yayasan Untuk Fakir Miskin (YAFAKIN).  Belum banyak rasanya yang telah diberikan untuk fakir-miskin. Kami hanya meneteskan setitik air di danau. Masih banyak kekurangan dan kelemahan yang kami miliki. Ya Allah maafkan kami bila kami belum bisa berkhidmat kepada Fakir Miskin yang diamanatkan-Mu. Ampuni kami bila kami belum bisa beragama dengan baik sebagaimana yang diperintahkan  dalam firman-Mu Surat al-Maun. Ya Allah mampukan kami untuk berbuat banyak untuk fakir miskin. Lancarkanlah usaha kami agar kami bisa berbagi dengan mereka. Sehatkan badan kami agar kami bisa bergerak untuk mereka. Lapangkan jalan kami agar kami dapat menemukan rizki yang halal untuk menolong mereka. 

YAFAKIN bukan kumpulan para donatur yang mampu membantu seluruh fakir-miskin yang ada di Tasikmalaya. Kami hanya sekedar mediator (jembatan) penyambung para aghniya dengan du’afa. Kami masih membutuhkan uluran tangan dari siapapun dalam rangka membebaskan manusia dari rasa lapar dan takut. Kami hanya penyuara hati para mustad’afiin, yang selama ini sering  terlupakan. Ikatan Kami dengan mereka hanya ikatan emosional dan spiritual. Agama Kita mengajarkan, bahwa Kita harus dekat dengan mereka, seperti dicontohkan oleh Rasul kita, Muhammad SAW.

Tulisan sederhana ini ingin mengupas sedikit tentang ciri-ciri cerdas secara emosional serta hubungannya dengan pembelaan terhadap kaum mustadafiin.

 Ciri-Ciri Cerdas Emosi           

Siapapun bisa menjadi orang cerdas secara emosioanl apabila memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

Pertama, mampu merasakan kesulitan orang lain (empati). Bisakah kita mengalihkan beban kesulitan orang lain pada diri kita sendiri. Kalau tidak bisa, bisakah beban tersebut kita pikul sebagian, karena mungkin kita pun memiliki beban, atau sedang mengalami kesulitan yang sama. Kalau masih tidak bisa, mampukah kita memikul sedikit saja dari beban itu. Kalau masih juga tidak bisa, Allah tidak akan memberikan beban di luar kemampuan.  Artinya Allah tidak akan memaksakan sesuatu di luar kemampuan kita, tapi dengan syarat kita harus jujur pada kemampuan yang dimiliki kita sendiri. Empati berarti pula secara fisik kita ikut merasakan derita yang dialami orang lain. Kita betul-betul  hadir di tengah-tengah mustad’afiin (kaum lemah) untuk membela dan berkhidmat pada mereka. Bukan sekedar merasakan penderitaan mereka dalam pikiran dan imajinasi saja. Tapi coba datangi mereka. Apa suara hati mereka. Kita duduk bersama di tengah-tengah mereka. Kita sesekali makan, tidur, dan hiburan dengan mereka.

            Kedua, partisipasi. Sehubungan dengan partisipasi Imam Ali bin Abi Thalib berkata : ”Sumbangan terbesar adalah parsipasi”. Banyak jenis partisipasi yang bisa diberikan pada orang lain. Misalnya dengan uang, tenaga, pikiran, kehadiran, informasi, kekuasaan dan tidak menjadi penghalang dalam kegiatan positif yang dilaksanakan pihak lain. Ketika semua itu ditujukan untuk membantu fakir, miskin, yatim dan mustad’afiin lainya berarti kita sedang mencoba menjalankan Agama dengan benar. Sebaliknya, bila tidak ada sedikitpun dalam pikiran kita ingin memberikan partisipasi, simpati dan empati pada fakir, miskin dan yatim, maka kita dianggap tidak beragama. Sama saja dengan komunis, naudzubillahimindzalik.            

Ketiga, selalu berbicara secara positif.  Ini mengandung makna bahwa pembicaraan kita selalu penuh makna. Menghindari kata-kata kotor. Pembicaraan kita tidak menyakitkan siapapun. Apalagi terhadap orang miskin dan yatim. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut kita tidak menyakitkan si ‘Kecil’, tidak menjilat si ‘Besar’.  Siapapun yang mendengarnya akan merasa aman dan tenteram, serta mengalir darinya hikmah yang sangat berharga. Menghindari prasangka jelek dan ghibah terhadap yang lain. Selalu menutupi aib orang lain. Tidak membongkar-bongkar kejelekan orang lain. Mampukah kita berbuat seperti itu ? Memang berat. Tapi kita harus berusaha mencobanya, karena itu ajaran Agama kita. Pengalaman sering menunjukkan, dalam kehidupan sehari-hari kita, tiba-tiba posisi pembicaraan sudah berada pada posisi menggunjing orang. Di sinilah pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Supaya kita tidak terkena penyakit ghibah (menggunjing orang lain) yang menyakitkan dan membahayakan. Mungkin media tulisan inilah di antaranya instrumen yang bisa dioptimalkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitan keimanan kita. Insya Allah.

            Keempat, tangguh dalam menghadapi kesulitan (adversity quotient). Terkadang banyak orang yang tidak siap menghadapi berbagai kesulitan yang menimpanya. Kita memiliki banyak contoh di negeri kita, tentang orang yang tidak siap menghadapi kesulitan hidup. Kita sering melihat kasus bunuh diri, perampokan, pelacuran dan berbagai penyimpangan lainnya yang menyesatkan. Saya menduga penyebab itu semua adalah ketiadaan kemampuan menghadapi kesulitan (tidak memiliki kecerdasan ketangguhan).  Tidak tangguh dan sabar menghadapi kesulitan. Kita berkewajiban untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka agar mereka berani menjalani hidup. Tidak putus asa dan bunuh diri. Mungkin juga penyebab kuat prilaku menyimpang itu adalah karena kita meninggalkan mereka. Tidak membelanya. Kita hanya simpati saja terhadap penderitaan orang lain, tanpa aksi yang konkrit. Himbauan terhadap pembelaan fakir miskin sebatas peraturan dan perundang-undangan, yang implementasinya masih jauh dari kenyataan.   Wallahu a’lam bimuradih.

1 Komentar

  1. Mz.siva said,

    Wah lumayan ngerti ya lam kenal.thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: