PENYEBAB KEMISKINAN

Juni 10, 2009 at 10:55 am (Uncategorized)

“Saya yakin kita bisa menciptakan dunia yang bebas dari kemiskinan, karena kemiskinan tidak dibikin oleh rakyat miskin. Kemiskinan diciptakan dan dilestarikan oleh sistem sosial ekonomi yang kita rancang sendiri; pranata-pranata dan konsep-konsep yang menyusun sistem itu; kebijakan-kebijakan yang kita terapkan. Kemiskinan disebabkan oleh kegagalan pada tataran konseptual, dan bukan kurangnya kapabilitas di pihak rakyat”, demikian cuplikan pidato yang disampaikan oleh Muhammad Yunus pada saat menerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 di Oslo Norwegia. Hadiah Nobel itu diterimanya karena ia telah berhasil menganggkat kaum perempuan miskin di Bangladesh melalui kredit mikro dari Grameen Bank (Bank untuk Kaum Miskin) yang ia dirikan sendiri pada tahun 1983. Uraian di atas sesungguhnya gambaran selintas tentang implementasi ekonomi kerakyatan yang terjadi di Bangladesh. Sekarang jangkauannya sudah menyebar kebeberapa negara di dunia. Konsep itu banyak direplikasi di negara maju maupun negara berkembang.
Yang menarik dari pernyataan Muhammad Yunus adalah kemiskinan lebih banyak disebabkan oleh karena kesalahan sistem yang kita ciptakan, bukan karena persoalan kapabilitas di pihak rakyat. Pernyataan itu perlu kita buktikan. Benarkah hal itu terjadi di Indonesia. Sebagai jawaban dari pertanyaan itu, di bawah ini saya ingin menyampaikan beberapa faktor sistemik yang diduga kuat penyebab kemiskinan di Indonesia, yaitu :
Pertama, belum optimalnya pengelolaan zakat, infaq, shadaqah dan khumus. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa aspek, diantaranya adalah belum efektifnya Undang-Undang No. 38 Tahun 1999, tentang Pengelolaan Zakat. Dalam undang-undang itu tidak disebutkan dengan tegas sanksi terhadap para wajib zakat (muzzaki) yang tidak membayar zakatnya. Pada pasal 21, ayat 1 Undang-Undang No. 38/1999 hanya menyebutkan sanksi terhadap pengelola zakat yang karena kelalaiannya tidak mencatat zakat, infaq, shadaqah, dan lain-lainnya. Pelanggaran terhadap pasal itu hanya dikenai sanksi kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau denda sebanyak-banyaknya Rp 30.000.000,00. Jadi sanksi yang memberatkan terhadap para penghindar zakat tidak ada. Sehingga dampaknya mereka merasa tidak bersalah, atau bahkan mungkin merasa tidak berdosa walaupun kewajiban zakatnya tidak dikeluarkan. Hal lain yang ingin dijelaskan berkaitan dengan sistem anggaran itu adalah masih menduanya sistem anggaran penerimaan negara kita, yakni ada kewajiban pajak dan zakat. Lagi-lagi ironisnya pajak yang kita terima selama ini pun belum mencapai angka 100 %. Ini artinya di berbagai sektor ekonomi negara kita masih banyak kebocoran dan para penghindar pajak yang tidak mau membayar kewajiban pajaknya.
Belum optimalnya pengelolaan zakat dapat dilihat dari data potensi zakat yang belum terealisasi. Tercatat angka hasil survey potensi zakat Indonesia yang belum terealisasi mencapai angka Rp 19.3 trilyun (95.2 %), sementara yang trealisasi baru Rp 925.7 milyar (4.8 %). Ini sebuah bukti bahwa pelaksanaan zakat di Indonesia masih menyisakan persoalan, yakni : masih lemahnya kesadaran bayar zakat, manajemen zakat yang masih harus diperbaiki, peraturan yang belum sempurna, lemahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah, persoalan fiqih zakat dan persoalan lainnya.
Kedua, masih tingginya kebocoran anggaran dan sumberdaya. Dugaan dan bahkan kenyataan ini terlihat dari berbagai kasus korupsi yang mencuat di beberapa lembaga penyelenggara negara. Seringkali media masa melansir pemberitaan tentang korupsi atau penyimpangan lainnya. Untuk Indonesia, tidak tanggung-tanggung ada lembaga khusus yang menangani tentang korupsi, yakni Komisi Pemberantasan Koruspi (KPK). Ini sebagai bukti bahwa kasus korupsi di Indonesia sudah menjadi fenomena yang terjadi hampir di semua lembaga. Kemiskinan ini bisa terjadi karena hak-hak anggaran untuk rakyat diambil oleh para koruptor untuk kepentingan pribadi atau sekelompok kecil warga masyarakat.
Pada acara “Ring Politik”, salah satu kandidat Calon Presiden menyebutkan bahwa kebocoran sumberdaya alam di Indonesia (dari hutan, laut, pertambangan dan lain-lainnya) diperkirakan mencapai angka sekitar Rp 200 trilyun setiap tahunnya (Siaran 9 Juni 2009, Jam 22.00). Suatu angka yang sangat pantastis, yang takkan terbayangkan oleh seorang petani kecil di daerah terpencil yang sering merintih menahan rasa lapar, bersabar menahan pedihnya rasa sakit karena tidak bisa berobat. Sementara di satu sisi (masih di negaranya sendiri) sedang terjadi perampokan kekayaan ratusan trilyun. Kalau ia tahu, sesungguhnya pada sumberdaya itu terdapat hak mereka, yang bisa dimanfaatkan bukan hanya sekedar untuk memenuhi rasa lapar hari itu saja, tetapi bahkan bisa untuk hidup yang layak sekalipun. Di sinilah pangkal masalah kenapa ekonomi kerakyatan tidak bisa berkembang dengan baik, dan tidak bisa mengentaskan persoalan kemiskinan. Salah satu penyebabnya adalah karena dana publik banyak yang tidak ternikmati oleh masyarakat lapisan bawah.
Ketiga, rendahnya akses orang miskin terhadap sumberdaya. Terdapat beberapa sebab yang diduga mengakibatkan orang kecil itu sulit mendapatkan akses pada sumberdaya (modal atau alam), diantaranya adalah karena persoalan anggunan, kurangnya informasi, melayani mereka tidak efisien, orang kecil itu tidak bankable, tidak profesional, tidak jujur dan tidak profitable. Sebetulnya ini hanya stigma yang tidak selamanya benar. Persoalan ini telah dibantah oleh Muhammad Yunus di Bangladesh, yang ternyata orang miskin itu bisa diarahkan, bisa dibina, mereka jujur, dan bahkan mereka bisa berhasil mengelola usaha. Grameen Bank mencatat telah memberi kredit ke hampir 7 juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 93 persen di antaranya perempuan. Tingkat pengembalian kredit mencapai angka 99 %. Suatu angka yang sangat tinggi, sebagai bukti bahwa mereka bisa mengelola usaha dan amanah terhadap pinjaman.
Lebih jelasnya data keberhasilan Grameen Bank Bangladesh dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 1
Keberhasilan Grameen Bank Bangladesh
Selama 1983-2006
No Kegiatan Grameen Bank Data Keberhasilan
1 Kredit Mikro :
a. penerima
b. jangkauan
c. tingkat pengembalian
7 juta orang
73.000 desa di Bangladesh
99 %
2 Kredit perumahan orang miskin 640.000 rumah
3 Angka kredit yang disalurkan AS $ 6 milyar (sekitar Rp 60 T)
4 Deposito 143 % dari pinjaman berjalan
5 Hasil survey internal Grameen Bank 58 % dari pemijam telah terangkat dari kemiskinan
6 Beasiswa 30.000 beasiswa per tahun
7 Output S-3 beasiswa Grameen Bank 13.000 Ph.D.
8 Jangkauan 80 % orang miskin dapat kredit mikro
9 Pengemis yang masuk Program Kredit Mikro
85.000 orang
10 Layanan Ponsel :
a. dikelola oleh ibu-ibu
b. Pelanggan yang dilayani
300.0000 orang
10.000 juta pelanggan
11 Telenor (perusahaan Patungan Telekomunikasi Norwegia dengan Brameen Bank)
menguasai 38 % saham
12 Grameen Bank di luar negeri Negara-negara bagian di AS, Malaysia, Filipina, Negara-negara di Erofa, Kanada, Indonesia, India, Nepal, Vietnam, dll.
Sumber : Muhammad Yunus, 2006
Keempat, KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) diduga kuat masih terjadi pada pemerintahan yang sedang berjalan. Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya KKN, diantaranya karena longgarnya sistem pengawasan, lemahnya sanksi hukum, rendahnya tingkat religiusitas, karena pelaku memiliki kekuasaan dan kesempatan, ada kerjasama terselubung diantara pelaku, bisa karena tekanan politis, karena faktor kedekatan, lingkungan yang memaksa, karena politik balas budi, mungkin juga karena kebiasaan yang sudah terjadi sekian lama dan lain sebagainya.
Semua penyebab itu sesungguhnya bisa dilawan dan ditepis ketika kita yakin bahwa nanti di Yaumil Akhir akan ada pembalasan dan pengadilan Tinggi dari Yang Mahakuasa yang di sana tidak mungkin lagi seseorang itu bisa lolos dari kebohongan atau kelicikan lainnya. Jadi kuncinya memang rukun Iman, yakni keyakinan akan kehidupan akhirat yang abadi. Ketika keyakinan ini lemah, tidak pernah dipupuk atau bahkan tidak ada sama sekali, maka apapun bisa terjadi. Apalagi sistem hukum Tuhan, kekuasaa Tuhan, pemerintahan Tuhan, keadilan Tuhan, tidak ditegakkan di muka bumi. Hukum Tuhan dianggap sadis, tidak manusiawi, dan berbagai tuduhan lainnya yang tidak berdasar dialamatkan kepada hukum Tuhan (Hukum Allah SWT). Manusia sekarang banyak yang memuja dan membela sistem hukum buatan manusia, yang didalamnya sesungguhnya penuh dengan kepentingan dan condong tidak sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.
Itulah beberapa penyebab kemiskinan (kemiskinan struktural) yang faktornya lebih banyak disebabkan oleh sistem yang kita buat sendiri, bukan karena faktor kapabilitas rakyat miskin itu sendiri. Jadi benar dugaan Muhammad Yunus, seperti yang diungkap di depan, yakni kemiskinan itu tercipta karena pranata dan konseptual yang kita buat sendiri. Lebih jauh dari itu, penyebab kemiskinan adalah dikarenakan masih ada di antara kita (warga Indonesia) yang masih tidak rela bila hidupnya diatur dengan Hukum Allah SWT.

Tasikmalaya, 11 Juni 2009

Iklan

5 Komentar

  1. David Pangemanan said,

    PT. TUNAS FINANCE MENYENGSARAKAN KONSUMEN

    Singkat kronologisnya, saya kredit truk dengan 36 X cicilan @ Rp. 3,5 jt-an. Setelah 14 X nyicil, truk hilang. Ternyata penggantian dari perusahaan asuransi (PT. Asuransi Wahana Tata) hanya cukup untuk menutup 22 X pelunasan (cicilan + bunga) yang belum jatuh tempo. Akhirnya saya yang telah mengeluarkan biaya lk. 115 juta (uang muka + cicilan + perlengkapan truk), dipaksa untuk menerima pengembalian yang jumlahnya lk Rp. 3,4 jt.
    Menurut petugas PT. Tunas Finance (Sdr. Ali Imron), klaim asuransi yang cair dari PT. Asuransi Wahana Tata, sebagian digunakan untuk membayar pengurusan Surat Laporan Kemajuan Penyelidikan di Polda Jawa Tengah di Semarang. (atau dengan kata lain, konsumen telah dipaksa melakukan suap di Polda Jateng). Jelas dalam hal ini PT. Tunas Finance (PT. Tunas Financindo Sarana) telah memaksa konsumen taat pada perjanjian susulan yang sebelumnya tidak diperjanjikan. Tentu saja kondisi perjanjian susulan itu sangatlah memberikan keuntungan
    maksimal bagi pelaku usaha, tidak perduli berapapun kerugian yang diderita konsumen. Sebagai catatan, perjajian yang dibuat tidak didaftarkan di kantor Pendaftaran Jaminan Fidusia di tempat domisili debitur/konsumen.

    Dan melalui surat terbuka ini saya ingin mengajak segenap komponen bangsa yang perduli terhadap masalah Perlindungan Konsumen, untuk menuntut PT. Tunas Finance secara pidana maupun perdata. Setidaknya hal ini untuk mencegah jatuhnya korban lainnya oleh PT. Tunas Finance (PT. Tunas Financindo Sarana).
    Saya nantikan bantuan/partisipasi Anda sekalian. Terima kasih.

    David
    HP. 0274-9345675.

  2. Joko Susilo said,

    Koleksi Foto Masjid Eropa Yang Luar Biasa

    Berada di benua eropa, Islam tetap tumbuh dan berkembang di kawasan itu.
    Walaupun menjadi Minoritas Di Kawasan Eropa, Umat Muslim tetap memiliki
    Masjid – Masjid yang luar biasa dengan corak arsitektur yang berbeda dengan
    Masjid pada umumnya di Kawasan Timur Tengah maupun Asia.
    Berikut ini koleksi Foto Masjid yang berada di Inggris, Belanda, Belgia, Perancis,
    Spanyol dan Italia.
    Dapat di Download di http://www.ziddu.com/download/5155299/Koleksi_Foto_Masjid2_Eropa.zip.html

  3. gpwegd said,

    GFPrAZ dfewerytyoao, [url=http://trewvpuwpalx.com/]trewvpuwpalx[/url], [link=http://nyhsbcftbqcg.com/]nyhsbcftbqcg[/link], http://panjqssxobfd.com/

  4. phsfkzlulop said,

    z6iSTE uyoyhzwoqpro, [url=http://dtfqusqaawed.com/]dtfqusqaawed[/url], [link=http://bmvhfbyhmjjx.com/]bmvhfbyhmjjx[/link], http://ositpgserlqx.com/

  5. ahsan said,

    menurut saya artikel ini sudah cukup bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: