PAKAIAN BATIN

April 5, 2010 at 11:48 am (Uncategorized)

Dalam kehidupan sehari-hari terdapat dua pakaian bagi manusia, yaitu pakaian lahir dan pakaian batin. Pakaian lahir adalah segala sesuatu yang melekat atau nampak pada diri seseorang atau pada manusia pada umumnya. Pakaian lahir sering juga disebut pakaian luar, yakni nikmat Allah SWT, yang dengannya Bani Adam menutup aurat-aurat mereka. Nikmat ini merupakan kemuliaan yang telah diberikan Allah pada keturunan Adam, sementara Dia tidak memberikan kemuliaan ini pada selain mereka. Kemuliaan ini diberikan kepada kaum mukmin agar mereka bisa melaksanakan seluruh kewajiban yang dibebankan kepada mereka.
Sesungguhnya pakaian yang paling bagus adalah pakaian yang kedua, yakni pakaian batin. Imam Ja’far Shadiq memberikan nasihat kepada kita tentang pakaian sebagai berikut:
“Pakaian yang paling indah bagi seorang mukmin adalah ketakwaan, dan pakaian yang paling nikmat adalah keimanan. Pakaianmu yang paling bagus adalah pakaian yang tidak menyibukanmu terhadap sesuatu yang menyebabkan kamu lupa pada bersyukur pada Allah dan patuh pada-Nya. Pakaian yang baik adalah pakaian yang tidak mendorongmu untuk berbangga diri, riya, berpoya-poya, angkuh dan sombong, karena hal itu merupakan bencana terhadap agama dan mengakibatkan kekerasan dalam hatimu. Ketika kamu mengenakan pakaian, ingatlah bahwa Allah telah menutupi seluruh kekurangan dan dosamu dengan kasih sayang-Nya. Busanakan hatimu dengan kebenaran sebagaimana kamu busanakan lahirmu dengan pakaian. Biarkan kebenaran dalam batinmu terselubung oleh takut pada Allah dan biarkan ketaatan menyelubungi ragamu”.
Hiasan orang bertakwa adalah qonaah, zuhud dan wara. Qonaah adalah orang yang puas dan ridha dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dia tidak menolak atas keputusan Allah yang menimpa dirinya. Semua diterimnya dengan penuh keshabaran dan keikhlasan. Zuhud adalah kunci pintu akhirat dan kebebasan dari api neraka. Zuhud itu adalah meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan lupa kepada Allah SWT. Dia tinggalkan sesuatu itu dengan tanpa rasa penyesalan, membanggakan diri, tidak mencari pujian orang, dan semata-mata yang dituju hanya keridhaan Allah SWT.
Sedangkan orang yang wara adalah orang yang senantiasa mengintrospeksi diri; jujur dan benar dalam ucapan; niat yang suci dalam bermuamalah dengan Tuhan dan makhluk-Nya; meninggalkan segala hal yang meragukan; tidak menjurumuskan diri pada hal-hal yang menyebabkan keraguan; tidak berteman dengan orang yang mengaburkan perkara yang sudah jelas; tidak bergaul dengan orang-orang yang tidak menghormati aturan-aturan agama dan memutuskan hubungan orang yang berusaha memutuskan hubungan dengan Allah ‘azza wa jalla.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: