SAKSI AMAL PERBUATAN (Syuhadaaul ‘Amal)

Juni 2, 2008 at 3:45 am (Uncategorized)

Calon Anggota DPR RI DAPIL Tasik-Garut

Rakernas ke-3 Partai Amanat Nasional (PAN) di Surabaya sudah berakhir Sabtu, 31 Mei 2008. Kesan menarik yang kami lihat adalah dari paduan warna asesories ruangan sidang yang lebih menonjolkan warna kebangsaan (didominasi warna Merah-Putih). Di depan terlihat foto  besar Ketua Umum Sutrino Bachir yang bergandengan dengan moto barunya : “ Hidup adalah Perbuatan”. Moto ini nampaknya sudah tersebar luas di beberapa daerah Kabupaten/Kota dan propinsi di Indonesia dalam bentuk baligho dan gambar sang Ketua Partai. Sebagian masyarakat (pemirsa) rasanya banyak mendengar dan melihat iklan tersebut, karena tayangan itu muncul dalam frekuensi yang cukup sering di beberapa saluran TV Nasional.  Pada obrolan ringan ”Warung Kopi” sering muncul lontaran pertanyaan yang bertanya tentang makna yang sesungguhnya dari moto tersebut. Dengan menggunakan penafsiran apa adanya (secara spontan), saya  mengatakan : “Memang betul hidup adalah perbuatan, yakni berbuat kebajikan, berbuat keshalehan, berbuat untuk kemanfaatan sesama, melaksanakan ibadah, dst. Itu semua adalah perbuatan yang harus dilakukan”. Demikian apologi pembelaan yang dilakukan oleh saya dan kawan-kawan di lapisan bawah.

            Sampai saat ini memang belum ada tafsir rinci dari sang Ketua Umum mengenai moto tersebut, tetapi pada saat pembukaan Rakernas ke-3 di Surabaya, Ketua Umum menyampaikan puisi yang cukup panjang dalam sambutan pembukaannya. Di antara bait-bait puisi yang bisa saya tangkap kurang lebih memiliki makna sebagai berikut : Hidup adalah Perbuatan, yakni berbuat untuk melawan kebodohan, kemelaratan, kelicikan, kedzaliman, korupsi, perampasan, kecurangan, dan hal-hal lainnya yang merusak harkat dan martabat bangsa. Rasanya luar biasa Sang Ketua Umum ini, dia bisa memadukan dua kekuatan otak kiri dan kanan sekaligus dalam memimpin Partai ini, ditambah lagi beliau memiliki kecerdasan finansial yang luar biasa. Otak kiri cenderung sistematis, logis, kritis, analitis sedangkan otak kanan adalah penuh dengan cinta kasih terhadap sesama, emosi, pembelaan kepada kaum tertindas, penuh kelembutan, puitis, empati dan seterusnya. Memang dampaknya akan cukup dahsyat bila dua kekuatan ini dapat dikelola dengan baik.

             Pada hari Akhir nanti, kita semua akan ditanya tentang  amal perbuatan yang telah dilakukan saat kita hidup di alam dunia ini. Lebih jauh dari itu kita akan dihadapkan pada saksi-saksi amal perbuatan (syuhadaaul ‘amal). Terdapat beberapa saksi amal perbuatan :

            Pertama, adalah anggota badan kita. Dengan tegas Allah SWT berfirman dalan Surat Yasin (36) ayat 65 : “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.  Ayat ini menjelaskan bahwa  perbuatan kita selama di dunia ini akan dipertanggungjawabkan secara langsung kepada Allah SWT dengan tidak ada sedikitkpun kebohongan yang bisa kita lakukan. Mulut kita terkunci dan tidak bisa mengelak lagi, apalagi bersilat lidah, karena semuanya disaksikan oleh tangan dan kaki kita sendiri. Hidup adalah Perbuatan  berarti pula tidak ada kebohongan terhadap sesama, terhadap isteri, lawan politik, sesama kader partai dan bahkan dengan lintas partai sekalipun. Inilah ajaran berpartai yang paling ideal yang harus kita laksanakan saat ini. Kita harus berhenti dari kebohongan, menipu orang, menipu lawan politik, mencelakan rival dan seterusnya karena semua ini akhirnya akan tetap terbongkar bahkan akan disaksikan oleh tangan dan kaki kita sendiri di hadapan Allah SWT.

            Kedua, para Malaikat. Amal perbuatan kita sewaktu hidup dengan jelas disaksikan oleh para Malaikat  (Rakib dan Atid). Perhatikan al-Quran Surat Qaaf (50) ayat 18 : “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawal yang selalu hadir”. Ayat ini menjelaskan, bahwa para Malaikat  dengan tidak henti-hentinya akan mencatat perbuatan kita. Mereka akan menjadi saksi amal perbuatan kita. Para Malaikat mahluk Allah yang sangat taat. Jadi tidak mungkin akan terjadi manipulasi data. Semuanya akan tercatat dengan rapi, tidak akan ada perbuatan sekecil apapun yang terlewat. Hidup adalah Perbuatan memberi ajaran kepada kita, bahwa perbuatan jelek sekecil apapun itu tidak boleh dilakukan, karena di hadapan Allah SWT tetap akan ada bukti catatannya. Dalam konteks kepartaian dan PEMILU,  ini memiliki makna bahwa manipulasi suara, jual beli suara, money politic dan perilaku politik kotor lainnya adalah perbuatan yang harus dihindari, karena semua akan merusak catatan amal perbuatan kita.           

            Ketiga, saksi amal perbuatan kita adalah Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Perhatikan al-Quran Surat at-Taubah (9), ayat 105 : “Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.  Dengan memperhatikan ayat ini, jelas sekali bagi kita tidak akan ada lagi tempat untuk menyembunyikan segala perbuatan. Karena Allah Yang Maha Mengetahui, Rasul dan bahkan orang-orang beriman akan mengetahui perbuatan kita selama hidup ini. Sesungguhnya keyakinan demikian adalah tonggak keimanan kita yang harus selalu terhujam dalam lubuk hati kita semua, dan menjadi prinsip hidup.

Inilah beberapa penafsiran secara garis besar tentang moto Hidup adalah Perbuatan yang sering dilontarkan oleh Ketua Umum PAN di beberapa tempat dan kesempatan.  Kajian lebih mendalam sangat diperlukan dalam rangka memberikan wawasan yang lebih mendalam lagi, sehingga internalisasi nilai-nilai ideologis pada setiap fungsionaris partai (partai apapun) menjadi kuat. Insya Allah.

 

Tasikmalaya, 1 Juni 2008

Calon Anggota DPR RI DAPIL Tasik-Garut,

 

 

 

Dr. Ade Komaludin, M.Sc.

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PESAN TI TEUREUH PRIANGAN

Februari 17, 2008 at 2:23 am (Uncategorized)

1. Perlu DA’I supaya ummat HADE ahlakna;

2. Perlu AMAN supaya pangwangunan hasilna HADE;

3. Milih cagub/cawagub mah mimitian ku niyat milih nu HADE (maca Basmalah). Hasilna geun pasti HADE (Alhamdulillah). Cag !

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KERANGKA MAKRO PEMBANGUNAN EKONOMI KOTA TASIKMALAYA : SEBUAH DESKRIPSI ATAS MISI KESEDERAJATAN EKONOMI

Februari 12, 2008 at 4:55 am (ekonomi, Uncategorized)

1. Pendahuluan

            Secara sederhana pembangunan ekonomi dapat dilihat dari tiga aspek utama, yaitu : (1) faktor determinasi (penentu), (2) sasaran, dan (3) indikator keberhasilan kinerja pembangunan ekonomi. Faktor penentu adalah segala sumberdaya yang dimanfaatkan; sasaran pembangunan ekonomi adalah sektor-sektor ekonomi yang ada di Kota Tasikmalaya; dan indikator keberhasilan kinerja pembangunan ekonomi adalah outcome makro-ekonomi yang dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu. Kinerja pembangunan ekonomi biasanya diukur dengan beberapa indikator makro ekonomi sebagai berikut : penciptaan lapangan kerja (pengurangan pengangguran), laju pertumbuhan ekonomi riil, angka kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan indikator makro ekonomi lainnya. Kinerja pembangunan ekonomi merupakan indikator penting yang dapat digunakan dalam mengukur pembangunan ekonomi yang dilakukan dibandingkan dengan visi dan misi yang disampaikan oleh Kepala Daerah. Walikota Tasikmalaya terpilih yang baru saja dilantik   mempunyai misi ekonomi yang sederhana yaitu  kesederajatan ekonomi. Misi ini    diturunkan lebih rinci lagi menjadi (mencakup) :

  1. Optimalisasi dan pengelolaan yang profesional terhadap pengembangan Usaha Kecil dan Menengah sebagai aset potensi ekonomi rakyat;
  2. Optimalisasi kredit lunak untuk usaha kecil dan menengah guna menunjang keberlangsungan dan kemajuan ekonomi rakyat;
  3. Pemberian jaminan hukum yang layak dan proporsional terhadap para pengusaha sektor informal;
  4. Memfasilitasi dan pemberian jaminan atas keberlangsungan sektor industri kecil dan menengah;
  5. Optimalisasi sentra-sentra industri kecil dan menengah sebagai aset wisata home industry;
  6. Pengembangan kawasan pertanian terpadu berwawasan lingkungan yang bertumpu pada potensi sumberdaya lokal (Community Based Resources Management/CBRM).

Mari kita kaji kesesuaian Visi-Misi Walikota terpilih (2007-2012) dengan kerangka makro pembangunan ekonomi Kota Tasikmalaya. Kita akan mencoba mendeskripsikannya secara lebih luas dan sekaligus pula mendekatkannya kepada wilayah filosofis dan grand theory pokok pembangungan ekonomi itu sendiri. Hal ini penting disampaikan dalam rangka memberikan kejelasan pada para stakeholders tentang posisi pembangunan ekonomi yang sedang dilakukan dan sekaligus memberikan pembelajaran bagi masyarakat agar mereka dapat langsung memberikan respon dan evaluasi kritis baik secara praktis maupun teoritis atas capaian kinerja yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota.

2. Faktor Determinasi (Penentu) Pembangunan Ekonomi

            Terdapat beberapa faktor penentu utama pembangunan ekonomi Kota Tasikmalaya, yaitu : Sumberdaya alam, stok modal dan aliran investasi, sumberdaya manusia (SDM), teknologi, modal manusia (human capital stock) dan entrepreneur. Setiap daerah memiliki karakteristik faktor penentu yang berbeda-beda, biasanya tergantung pada sumberdaya yang dimilikinya. Tapi biasanya ada karakteristik yang hampir sama di setiap negara atau daerah manapun, terutama untuk daerah yang masih berkembang, yaitu lemahnya kualitas sumberdaya manusia dan penguasaan teknologi. Bagaimana caranya agar dua besaran ini menjadi penentu yang sangat berarti dalam pembangunan ekonomi suatu daerah.  Tentunya banyak hal yang bisa kita lakukan. Di sinilah peranan pemerintah daerah sangat dominan  dalam mengarahkan dan meningkatkan kualitas faktor-faktor penentu tersebut. Program dan kegiatan harus diturunkan dari akar persoalan tersebut. Mari kita lihat satu persatu faktor-faktor yang sangat menentukan pembangunan ekonomi :

            Pertama, sumberdaya alam. Setiap daerah selalu memiliki sumberdaya alam. Persoalannya terletak pada kualitas sumberdaya alam dan kemampuan pengelolaannya. Kedua persoalan tadi akan berkaitan dengan harga hasil olahan sumberdaya alam itu sendiri. Persoalan yang harus segera dilakukan adalah melakukan identifikasi potensi sumberdaya alam yang menjadi faktor penentu dan pendukung pembangunan. Berangkat dari RT/RW, RDTR dan master plan yang sudah ada kita harus melihat lebih tajam lagi potensi sumberdaya alam apa saja yang memiliki peluang besar dan memiliki nilai ekonomi tinggi untuk dikembangkan  sebagai penentu keberlangsungan pembangunan yang sedang dan akan dilakukan. Sumberdaya alam yang nampak kasat mata di Kota Tasikmalaya adalah : air, tanah (lahan), hutan, bukit, danau, sinar matahari dan lainnya. Semua sumberdaya ini harus diberdayakan sehingga melahirkan potensi  turunan yang memiliki nilai ekonomi dan kemanfaatan tinggi bagi masyarakat. Persoalan ini memang tidak sederhana, karena membutuhkan tenaga ahli yang beragam dan dana yang besar. Tapi itulah konsekuensi pembangunan, selalu terkait dengan alam dan membutuhkan kombinasi optimal dengan sumberdaya manusia dan teknologi. Persoalan kemudian adalah bagaimana sumberdaya yang tersedia itu dioptimalkan agar semuanya menopang visi dan misi ekonomi yang disampaikan oleh Walikota terpilih : kesederajatan ekonomi. Kesederajatan ekonomi harus diterjemahkan lagi secara operasional pada tataran teknis, sehingga optimalisasi sumberdaya yang dilakukan dapat memenuhi harapan masyarakat.

Persoalan-persoalan lain yang harus diperhatikan berkaitan dengan sumberdaya alam diantaranya adalah : (a) Kerusakan lingkungan sehubungan dengan eksploitasi berlebihan, karena ingin mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi  (b) Prediksi cadangan (deposit) kandungan sumberdaya alam harus akurat kalau memang Kota memiliki cadangan dimaksud, (d) Tenaga ahli yang mampu mentranformasi sumberdaya alam sehingga melahirkan benefit ekonomi tinggi, (e) Biaya perbaikan lingkungan tidak boleh lebih besar dari manfaat ekonomi yang tercipta, bahkan harus nol, (f) Tidak boleh masyarakat kecil karena dalih pembangunan menjadi pihak yang dirugikan, misalnya dalam kepemilikan lahan. Mereka harus memperoleh ganti rugi yang proporsional (adil) ketika lahan miliknya terkena pembebasan, (g) Tataguna lahan harus betul-betul sesuai dengan pola dan aturan yang telah disepakati. Ketegasan aturan dan komitmen pemerintah biasanya diuji, sehubungan dengan tataguna lahan dan ruang, (h) Mampukan sumberdaya alam lokal memenuhi kebutuhan pasokan input industri lokal, (i) Konsekuensi pembangunan di manapun selalu membawa eksternalitas yang negatif (dampak negatif aktifitas ekonomi yang tidak terperhitungkan secara ekonomi). Bisakah pemerintah Kota dengan Walikota yang baru menekan tingkat eksternalitas negatif serendah-rendahnya, (j) Sebaran sumberdaya modal sosial (social overhead capital) perlu diperhatikan dalam rangka menjaga disparitas manfaat pembangunan, (k)  Pemerintah harus fokus pada model-model kebijakan pembangunan yang bersifat affirmative (membela kepentingan rakyat), dan (l)  Prospek pasar yang terkait langsung dengan resources base yang dimiliki daerah.

Kedua, capital stock dan aliran investasi. Stok modal adalah semua peralatan produksi yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif di suatu daerah. Tinggi rendahnya stok modal yang dimiliki akan berkorelasi langsung terhadap output dan kesempatan kerja daerah. Hal penting adalah perlunya dilakukan identifikasi terhadap stok modal yang dimiliki Kota Tasikmalaya. Hal ini dilakukan dalam rangka mengetahui tingkat produktifitas, umur ekonomis, tingkat penyusutan dan untuk kepentingan penyusunan neraca daerah. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah modal sosial (social overhead capital). Modal ini tercipta karena keinginan masyarakat yang direspon oleh kebijakan pemerintah. Modal sosial ini sangat berpengaruh sekali terhadap kegiatan sosial ekonomi di masyarakat. Bentuknya berupa jalan (sarana transportasi), jembatan, bendungan, bangunan dan lainnya (Kindleberger-Herrick, 1977; Sadono Sukirno:1985). Tapi perlu diperhatikan pula bahwa kebebasan pemanfaatan modal sosial yang tidak terkontrol bisa membawa dampak eksternalitas yang negatif bagi pembangunan. Jadi dalam kaitan ini pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi dan kontrol sampai ke tingkat teknis dan implementasi.

Faktor yang sangat penting dan strategis untuk diperhatikan adalah aliran investasi, baik dari luar maupun domestik (daerah sendiri). Investasi perlu dilakukan dalam rangka menambah stok modal yang dimiliki Kota Tasikmalaya. Persoalannya, faktor apa yang menjadi daya tarik para investor untuk melakukan investasi di Kota Tasikmalaya. Banyak hal yang akan menjadi pertimbangan para investor untuk melakukan investasi di suatu daerah, di antaranya : (a) ketersediaan data pendukung untuk analisis usaha (terutama data awal), (b) tingkat hasil (return) yang mungkin diperoleh, (c) stabilitas politik-keamanan di daerah itu sendiri, (d) pasar yang akan dilayani, (e) sumberdaya manusia, (f) input faktor produksi lainnya, (g) kebijakan pemerintah daerah, (h) daya serap terhadap angkatan kerja (pengangguran), (i) tingkat responsibilitas masyarakat terhadap jenis usaha yang akan dikembangkan,  (j) birokrasi bisnis di daerah, dan (k) tingkat persaingan. Bila pemerintah daerah mampu memberikan garansi terhadap semua unsur (variabel) tadi, maka para investor akan mempertimbangkan dan pada gilirannya dapat memutuskan untuk melakukan investasi di daerah Kota Tasikmalaya.

Hal penting lain yang mesti diperhatikan dalam rangka membangun ekonomi daerah adalah persoalan-persoalan sebagai berikut : (a) kelembagaan investasi, (b) manajer investasi daerah, (c) benefit sosial ekonomi, (d)  opportunity cost, (e) lembaga keuangan,  dan (d) kemitraan dengan jajaran pelaku bisnis lainnya.

            Ketiga, tenaga kerja (sumberdaya manusia). Sumberdaya manusia berfungsi double agents yaitu: sebagai pelaku dan sekaligus sebagai sasaran pembangunan ekonomi. Hal-hal yang terkait dengan pelaku pembangunan ekonomi di antaranya persoalan-persoalan : keahlian, produktifitas, tingkat upah, jumlah tenaga kerja, jamininan sosial tenaga kerja, tingkat kesehatan tenaga kerja, lingkungan kerja, teknologi, sistem upah, motivasi kerja,  kesepakatan kerja bersama (KKB), dan hubungan industrial. Di lain pihak sumberdaya manusia bisa dilihat dari sisi sasaran pembangunan, karena pembangunan yang paling baik adalah yang memperhatikan manusianya itu sendiri, atau yang lebih condong mengutamakan kepentingan masyarakat lapisan paling bawah. Oleh karena itu, perlu diperhatikan keterlibatan tenaga kerja lokal pada setiap kegiatan ekonomi yang ada di Kota Tasikmalaya. Hal ini terkait dengan sektor-sektor ekonomi yang dimiliki oleh Kota Tasikmalaya. Bagaimana proporsi tenaga kerja daerah asli dengan luar, distribusi pendapatan (ketimpangan pendapatan harus selalu diwaspadai), kontribusi sektoral terhadpa laju pertumbuhan ekonomi dan sebagainya.

            Keempat, teknologi. Teknologi merupakan faktor yang sangat kuat dalam menunjang pembangunan ekonomi. Hampir semua kegiatan ekonomi terkait dengan teknologi. Perbedaan terjadi hanya pada tingkat sofistikasinya saja. Untuk daerah perlu dipikirkan teknologi yang ramah lingkungan, pro-job, tepat guna, biaya murah, mudah dipahami, sederhana implementasinya, tinggi tingkat produktifitasnya, dan bersifat massal. Kita tidak boleh melupakan teknologi yang tingkat sofistikasinya tinggi, karena itu pun sangat dibutuhkan oleh daerah dalam rangka mengikuti era global sekarang ini. Maka  dalam hubungan ini kita perlu melakukan benchmarking, adopsi-inovasi teknologi yang canggih (George-Weimerskirch, 1994 :207). Hal ini perlu dilakukan dalam upaya mencapai kesederajatan informasi-komunikasi dan upaya kongkrit dalam mengurangi ketimpangan pembangunan ekonomi dan teknologi antar negara.  

            Hal-hal penting yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam pembangunan ekonomi yang berbasis teknologi adalah : (a) Teknologi Tepat Guna (TTG), (b) Research and Development (R & D), (c) teknologi padat karya (pro-job) dan pro-poor, (d) biaya riset, (e) pelatihan dan sosialisasi, (f) produktifitas, (g) percepatan produksi, dan (h) transfer teknologi.

            Kelima, human capital. Modal manusia adalah keahlian yang dimiliki yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan produksi (a set of skills that can be rented out to employers) (Ehrenberg-Smith, 1998 :292; Romer, 1996 : 126). Modal manusia tercipta karena proses pendidikan, pelatihan dan perbaikan kesehatan dan gizi.  Perbaikan kualitas modal manusia terkait dengan sistem pendidikan dan pelatihan yang dilakukan. Di sini akan terkait erat dengan sistem kurikulum yang diberlakukan di sebuah lembaga pendidikan. Berbagai pendekatan moderen telah dikembangkan dalam upaya meningkatkan kualitas modal manusia ini. Salah satu model yang akhir-akhir ini banyak diimplementasi dalam dunia pendidikan adalah model Accelerated Learning (AL). Model ini menekankan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut : kerjasama (cooperation), belajar aktif (active learning),  keterlibatan penuh (total involvement), dan hemat waktu (time efficient) (Rose-Nicholl, 2002; Meier, 2002; Sudarman Danim, 2003). Di negara maju dampak perubahan modal manusia terhadap pembangunan ekonomi dapat terukur dengan baik setiap tahunnya. Sebaliknya di negara-negara berkembang masih disibukan dengan pemilihan dan pemahaman  metoda (teknis) belajar yang paling efektif untuk para mitra belajar. Padahal kita tahu persoalan utama pembangunan kita adalah terletak pada lemahnya sumberdaya manusia. Tapi kenapa persoalan ini selalu terabaikan dan tidak menjadi prioritas pembangunan kita ?

            Dalam perkembangan terakhir berbagai kecerdasan banyak dibicarakan dan seringkali dilatihkan di mana-mana. Mudah-mudahan ini merupakan awal yang baik dalam rangka membentuk SDM yang handal. Salah satu model kecerdasarn yang pernah dikembangkan oleh Khairul Ummah dkk (2003). adalah kecerdasaran SEPIA (merupakan singkatan dari : Spiritual Quotient, Emotional Quotient, Power Quotient, Intelectual Quotient, dan Aspiration Quotient). Dua bagian kecerdasan tersebut (Emotional dan Spiritual, ESQ) dikembangkan lebih dalam lagi dan disosialisasi secara masal oleh Ary Ginanjar. Tentunya yang penting bagi kita  adalah sampai sejauhmana berbagai kecerdasan itu berpengaruh terhadap pembangunan, khsususnya pembangunan ekonomi. Lebih khusus lagi adalah pembangunan ekonomi Kota Tasikmalaya, yang memiliki misi kesederajatan ekonomi. Kita mesti melakukan kajian lebih mendalam lagi tentang metoda belajar dan berbagai kecerdasan yang akan kita kembangkan dalam sistem pendidikan. Pembangunan ekonomi dan pendidikan semestinya mengawali kegiatannya dengan memperkokoh bangunan (fondasi) yang satu ini. Saya meyakini kecerdasan spiritual harus menjadi prioritas dalam sistem pendidikan dan ekonomi sekaligus. Bahkan visi sistem pemerintahan dimana pun tingkatannya (pusat maupun daerah) harus melakukan perumusan visi yang diturunkan dari kecerdasan spiritual. Tanpa ada semangat itu sistem apapun jadi tidak bermakna (tidak memiliki nilai transendental/tidak memiliki hakikat). Jadi singkatnya dimanapun, dan bagaimana pun pembanguan itu dilakukan yang paling penting adalah mengharap keridhaan Allah (nilai-nilai ilahiah harus menjadi sumber inspirasi dan sekaligus tujuan utama). Inilah prinsip yang paling mendasar  dari pembangunan yang akan dilaksanakan.

            Kelima, entrepreneur. Ini adalah sumberdaya manusia pilihan yang memiliki naluri berbeda dengan manusia kebanyakan,. terutama dalam hal ekonomi dan bisnis. Mereka memilki rasa percaya diri yang tinggi, berorientasi tugas dan hasil, berani mengambil resiko, memiliki leadership yang kuat, inovatif dan kreatif, dan selalu berorientasi ke masa depan (Meredith G.G. et al., 2000:5). Manusia-manusia seperti inilah yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi, karena jiwa kemandiriannya sangat tinggi, bertanggungjawab dan punya kepedulian sosial yang tinggi terhadap lingkungannya. Inilah model bisnis yang sekarang harus dikembangkan. Artinya, para pelaku usaha (bisnis) disamping berorientasi pada tugas dan hasil, haruslah juga bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial (Corporate Social Responsibility, CSR). Dengan mengembangkan CSR   yang baik, manfaat perusahaan akan dirasakan oleh komunitas sekitar. Hal ini terjadi karena para pelaku bisnis (para entrepreneur) mengelola  usahanya untuk menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang sebesar-besarnya. Kehadiran perusahaan akan menghasilkan perbaikan kualitas hidup di tempat kerja, keluarga dan komunitas sosial secara keseluruhan. Inilah makna kepedulian sosial dari para pelaku bisnis dan lembaga lain yang bergerak dalam kegiatan ekonomi produktif (CSR, Wikipedia, 2007 : 2; Wheelen-Hunger, 2006 :56). Prilaku entrepreneur yang ideal seperti di atas, akan mempunyai kekuatan yang luar biasa apabila di pihak lain pemerintah juga melakukan hal yang sama dengan cara mengembangkan dan melaksanakan konsep Good Corporate Government (GCG). Artinya lingkungan pemerintahan pun sama-sama  memancarkan karakteristik yang sangat mendasar dari GCG itu sendiri, yaitu : responsibility, fairness, transparency dan accountability.  Bila ini terjadi di Kota Tasikmalaya, maka pembangunan ekonomi yang dilaksanakan akan mengarah kepada jalur yang tepat (on the right tract).

 3. Sasaran Pembangunan Ekonomi

            Kalau kita amati misi ekonomi yang disampaikan Walikota terpilih (kesederajatan ekonomi), selintas bisa terbaca bahwa penekanan pembangunan ekonomi yang ditawarkan diarahkan pada kelompok pelaku ekonomi lapisan bawah (ekonomi kerakyatan), yaitu kegiatan (sistem) ekonomi yang lebih banyak membela kepentingan rakyat kecil, yaitu : UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), Industri Kecil Menengah (IKM), sektor informal, home industry, dan bisnis berbasis sumberdaya lokal (sektor pertanian). Supporting factors dari misi tersebut secara inklusif terdapat pada butir-butir misi itu sendiri, yaitu : optimalisasi pengelolaan UKM, profesionalisme, mengembangkan lembaga keuangan untuk menyalurkan kredit lunak, pemberian jaminan hukum,  fasilitasi pemerintah (kebijakan publik yang relevan),  dan Community Resources Based Management, CBRM.

Kita melihat misi kesederajatan ekonomi yang disampaikan memiliki sasaran yang spesifik, yakni terbatas pada beberapa sub-sektor ekonomi saja. Untuk kepentingan analisis yang komprehensif kita perlu melihatnya secara utuh, yakni melakukan positioning sektor sasaran tersebut pada kerangka sektor ekonomi secara keseluruhan. Kalau diringkas sasaran misi kesederajatan ekonomi  adalah : subsektor perdagangan dan jasa (UMKM, sektor informal), subsektor indusri (IKM, home industry), dan subsektor pertanian (CBRM). Sebetulnya secara makro, sektor-sektor ekonomi Kota Tasikmalata terdiri : (1) Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan,  (2) Pertambangan dan Penggalian, (3) Industri Pengolahan, (4) Listrik, Gas dan Air Minum, (5) Bangunan, (6) Perdagangan, Hotel dan Restoran, (7) Pengangkutan dan Komunikasi, (8) Keuangan, Persewaan dan Jasa, dan (9) Jasa-Jasa. Jadi misi kesederajatan ekonomi dapat dipandang sebagai skala prioritas. Untuk tahap awal adalah subsektor-subsektor tersebut. Tentunya dalam implementasinya, harus memperhatikan sektor-sektor ekonomi secara keseluruhan. Tidak mungkin yang namanya pembangunan ekonomi hanya terbatas pengembangan sebagian kecil saja dari sektor-sktor ekonomi yang ada. Di sinilah kearifan pimpinan daerah akan diuji. Bisakah merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi yang seimbang dan berkeadilan. Konsep kesederajatan ekonomi akan diuji dari berbagai sudut pandang, diantaranya secara teoritis, praktis (implementasi) dan hasil (dampak pada kesejahteraan masyarakat).   Secara teoritis konsep kesederajatan ekonomi setidaknya akan diuji pada dua hal, yaitu : tataran grand theory  dan kesepekatan pemberian makna ‘kesederajatan’.  Secara grand theory penulis yakin ini merupakan konsep pembangunan tidak seimbang (unbalanced  development). Hal ini ditandai dengan tegasnya sektor-sektor yang akan dikembangkan (sektor prioritas). Perlu diingat, bahwa pembangunan tidak seimbang bukan bermakna mengembangkan ketidakseimbangan yang menjurus pada ketidakadilan. Tapi justeru dengan pembangunan tidak seimbang akan (bahkan harus) diciptakan leading sector  yang bisa mengayomi pada sektor-sektor lain terutama sektor sasaran tadi (memiliki dua kaitan sekaligus forward linkages dan backward linkages). Sebetulnya pembangunan tidak seimbang ini adalah model pembangunan yang paling cocok untuk negara berkembang atau daerah yang memiliki keterbatasan dana (Sadono Sukirno, 1985 : 322-326). Penulis yakin bahwa Kota Tasikmalaya tidak memiliki dana yang melimpah. Inilah yang membawa kepada keputusan sehingga konsep pembangunan tidak seimbanglah yang dipilih. Sebetulnya banyak hal yang perlu diperhatikan agar konsep pembangunan ekonomi yang tidak seimbang tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan mencapai sasaran, diantaranya : Pertama, ciptakan sistem ekonomi (kegiatan ekonomi) yang melahirkan distribusi pendapatan secara fungsional, yaitu kegiatan ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja yang tinggi (pro-job). Sehingga dengan demikian secara fungsional angkatan kerja menjadi produktif dan berfungsi dalam menciptakan nilai tambah ekonomi yang secara langsung berimbas pada kenaikan pendapatan bagi dirinya. Sebetulnya disinilah esensi pembangunan ekonomi yang dilakukan, terlepas dari konsep pembanguan yang dipilih : apakah pembangunan seimbang, tidak seimbang atau kesederajatan ekonomi.  Yang paling penting adalah dampaknya pada pengurangan pengangguran. Kedua, ciptakan sistem insentif ekonomi yang dapat mendorong produktifitas ekonomi secara makro. Misalnya, berilah kemudahan birokrasi bagi para pengusaha yang baru memulai usaha; kurangi beban pajak daerah bagi para pengusaha (perusahaan) yang banyak memperkejakan tenaga kerja; berilah subsidi yang efektif bagi para pengusaha lemah dan seterusnya. Ketiga, hindari sistem ekonomi yang mengarah pada kegagalan pasar (market failures). Di antara kegagalan pasar yang sering terjadi di berbagai negara atau daerah adalah : Eksternalitas negatif. Terdapat dua eksernalitas, yaitu negatif dan positif. Eksternalitas negatif adalah dampak negatif dari aktifitas ekonomi yang tidak diperhitungkan secara ekonomi dan bisnis (Rosen, 2002 : 79-82). Misalnya limbah industri, limbah rumah sakit, polusi udara dan sebagainya. Bila ini terjadi maka manfaat sosial ekonomi dari aktifitas ekonomi menjadi berkurang, bahkan bisa negatif bagi masyarakat. Di sinilah peranan pemerintah sangat diharapkan dalam rangka mengarahkan kegiatan ekonomi supaya menghasilkan benefit ekonomi yang optimal. Untuk hal ini di butuhkan berbagai aturan dan kebijakan, sekaligus (yang paling penting) adalah penegakkan aturan itu sendiri. Eksternalitas positif adalah segala kegiatan  ekonomi yang menghasilkan benefit ekonomi yang tinggi bagi masyarakat, baik langsung atau tidak langsung. Inilah yang harus dikembangkan, karena akan melahirkan efek dongkrak yang besar bagi perekonomian. Assymetric informations.  Informasi yang asimetris bisa terjadi pada lingkungan bisnis, pemerintahan ataupun pada dunia politik. Karakteristik informasi yang asimetris ditandai dengan pemberian informasi yang tidak lengkap, sengaja tidak menyampaikan informasi yang strategis karena itu merugikan dirinya, menutup-nutupi sesuatu yang seharusnya disampaikan dan yang paling parah adalah kebohongan publik. Ini semua jelas prilaku yang sangat menghambat program Good Corporate Government (GCG) dan juga Corporate Social Responsibility (CSR), sehingga pada gilirannya pembangunan ekonomi tidak akan mencapai sasaran, karena bias informasi terjadi pada lingkungan pemerintahan, bisnis dan politik (partai). Imperfect comptetions. Bila dalam kegiatan ekonomi terjadi persaingan yang tidak sempurna (tidak sehat) maka benefit ekonomi tidak akan ternikmati secara optimal oleh masyarakat (deadweight loss). Bahkan distribusi sumberdaya ekonomi menjadi tidak adil dan akan terjadi ketimpangan. Bentuk persaingan tidak sempurna diantaranya monopoli, oligopoli, dan monoposoni (Nicholson, 1995). Monopoli menjadi tidak berbahaya ketika dikendalikan atau dipegang oleh pemerintah (bisanya untuk barang/komoditas yang strategis), namun sebaliknya bila dipegang oleh individu maka akan berakibat terjadinya distorsi ekonomi yang sangat merugikan, karena benefit ekonomi hanya terakumulasi pada individu tertentu. Inilah yang harus dicegah oleh pemerintah. Adapun monopsoni biasanya sering terjadi di sektor pertanian untuk komoditas tertentu. Kita sering menemukan bahwa para petani (produsen) tidak berdaya (tidak memiliki bargaining position) sama sekali dihadapan pembeli komoditas pertanian. Para produsen sering menerima apa yang diputuskan oleh pembeli, terutama dalam soal harga. Penentuan harga biasanya sepihak, yaitu oleh pembeli. Kondisi ini diperparah lagi ketika para petani sudah berutang lebih dahulu kepada para pembeli (bandar). Ini sering terjadi karena para petani didesak oleh kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dihindari. Sehingga akhirnya mereka pasrah di hadapan para tengkulak atau bahkan rentenir. Di sinilah, sekali lagi, para pengusaha lemah (para petani) butuh perlindungan dari pemerintah (konsep kesederajatan ekonomi diuji lagi untuk mampu menyelesaikan kasus yang menimpa para petani ini). Ketidakberdayaan petani kita terlihat jelas dengan rendahnya farmer share rata-rata yang  diterima oleh para petani. Secara rata-rata diperkirakan  farmer share yang diterima para petani angkanya selalu di bawah 35 %.   Kerusakan lingkungan. Dampak yang harus diwaspadai adalah kerusakan lingkungan sebagai akibat eksploitasi ekonomi yang berlebihan dari para pelaku usaha dan pemerintah di tingkat daerah. Hal ini bisa terjadi karena pemerintah daerah ingin  mencapai target indikator ekonomi makro yang memuaskan, misalnya laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, PAD yang mencukupi dan lapangan kerja yang luas.   Atau bisa saja kerusakan lingkungan terjadi karena kurangnya pengawasan dan kontrol dari pemerintah tentang aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh swasta. Mereka terus memburu rente ekonomi dengan tidak pernah memperhatikan kerusakan lingkungan. Ini pun sekali lagi perlu mendapat respon dari konsep kesederajatan ekonomi.

Market power. Kekuatan pasar yang berbahaya muncul ketika para kapitalis tidak memperhatikan para pengusaha kecil di sekitarnya. Mereka tumbuh besar menikmati benefit ekonomi dengan memangsa pengusaha yang kecil. Dampak dari situasi ini adalah ketimpangan ekonomi dan sentralisasi penguasaan sumberdaya ekonomi oleh individu : modal, sumberdaya alam, tenaga kerja, dan sumberdaya informasi. Di sinilah pentingnya konsep Corporate Social Responsibility (CSR) harus dilaksanakan oleh para pelaku bisnis di manapun mereka melakukan aktifitas. Dengan CSR perusahaan dituntut bertanggungjawab kepada para stakeholders dan sekaligus pada lingkungan alam dan lingkungan sosial di sekitarnya.   

 4. Indikator Kinerja Pembangunan Ekonomi

            Terdapat beberapa indikator kinerja pembangunan ekonomi yang dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi secara makro, di antaranya : perluasan kesempatan kerja yang tercipta, laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai, berkurangnya angka kemiskinan, berkurangnya angka pengangguran, meningkatnya pendapatan perkapita, meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), menurunnya ketimpangan ekonomi, dan naiknya laju pertumbuhan investasi dan pembiayaan. Dari sekian indikator yang disajikan ternyata yang paling utama adalah kesempatan kerja yang tercipta sebagai outcome pembangunan ekonomi (ini merupakan indikator yang paling konkrit dari pembangunan ekonomi). Indikator yang lainnya akan bermuara kesini. Misalnya, angka kemiskinan, tingkat pengangguran, pendapatan perkapita,  ketimpangan ekonomi, dan IPM semuanya bisa teratasi kalau pemerintah atau swasta mampu menyediakan lapangan kerja. Demikian juga laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan investasi menjadi bermakna secara sosial apabila di sana terserap tenaga kerja yang banyak, dan tidak menimbulkan eksternalitas yang negatif.  Sebagai kesimpulan, sesungguhnya indikator yang paling penting dan bermakna dari semua pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah adalah membebaskan manusia dari rasa lapar dan rasa takut. Ini sesungguhnya makna kesederajatan ekonomi yang paling hakiki. Insya Allah.

            Untuk memandu implementasi kerangka makro pembangunan ekonomi Kota Tasikmalaya, secara lebih detil teknis diperlukan road map untuk masing-masing variabel yang dijelaskan (merupakan bahan kajian selanjutnya). Dengan kajian tersebut kita dapat melakukan analisis secara sistematis terhadap setiap persoalan yang ditemukan, yaitu dapat dirumuskan tentang : tujuan yang ingin dicapai, akar persoalan yang ingin diselesaikan, penyebab langsung persoalan, penyebab tidak langsung persoalan, program yang ditawarkan, dan kegiatan yang harus dilaksanakan dalam upaya mengatasi akar persoalan dimaksud.

            Uraian kerangka makro pembangunan ekonomi Kota Tasikmalaya sebagai deskripsi misi kesederajatan ekonomi diringkas dalam diagram sebagaimana terlampir.

     DAFTAR PUSTAKA 

Ary Ginanjar Agustian (2005). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ). Penerbit ARGA, Jakarta, Indonesia.

Bernardin J. H. (2007). Human Resources Management : An Experience Approach. McGraw-Hill, Boston, USA.

Drucker, Petter F., (1996). Inovasi dan Kewiraswastaan : Praktek dan Dasar-dasar. (Terjemahan). Penerbit Erlangga, Jakarta, Indonesia.

Ehrenberg, R. G., and Smith R.S., (1988). Modern Labor Economics : Theory and Public Policy. Third Edition, Scott, Foresman an Company, London, UK.

George S., & Weimerskirch (1994). Total Quality Management.  John Wiley & Sons, Inc., Singapore.

Gray, Clive, dkk. (2002). Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi kedua, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Indonesia.

Khairul Ummah, dkk. (2003). SEPIA : Kecerdasan Milyuner, Warisan yang Mencerahkan Keturunan Anda. Penerbit Ahaa, Bandung, Indonesia.

Kindleberger C.P., & Herrick B. (1977). Economic Development. International Student  Edition, McGraw-Hill Kogakusha, Ltd., Tokyo, Japan.

 Koran Republika (20 Oktober 2004). Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Prinsip GCG. 

Meier, M., Gerald & Stiglitz Joseph, E., (2001). Frontiers of Development Economics : The Future in Perspective. The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank, Washington, D.C., USA.

Meier Dave (2002). The Accelerated Learning Hanbook. (Terjemahan). Penerbit Kaifa, Bandung, Indonesia.

Meredith G.G. at al. (2000). Kewirausahaan : Teori dan Praktek.  PT Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, Indonesia.

Nicholson, Walter, (1995). Microeconomics Theory : Basic Principles and Extensions. Sixth Edition, The Dryden Press, New York, USA.

Osbone, David & Plastrik, Peter, (2001). Memangkas Birokrasi : Lima Strategi Menuju Pemerintahan Wirausaha. (Terjemahan), Edisi Revisi, Penerbit PPM, Jakarta, Indonesia.

Rosen, Harvey S., (2002). Public Finance. Sixth Edition, International Edition, McGraw-Hill Irwin, Bosto, USA.

——-, (2005). Undang-Undang Otonomi Daerah. Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Indonesia.

Romer, David (1996). Advanced Macroeconomics. The McGraw-Hill Companies, Inc., New York, USA.

Rose C. and Nicholl M.J. (2002). Accelerated Learning for The 21-st Century (Cara Belajar Cepat Abad XXI). Penerbit Nuansa, Bandung, Indonesia.

Sadono Sukirno (1985). Ekonomi Pembangunan : Proses, Masalah, dan Dasar Kebijaksanaan. LPFE-UI, Jakarta, Indonesia.

Sudarwan Danim, (2003). Ekonomi Sumber Daya Manusia.  CV Pustaka Setia, Bandung, Indonesia.

Wikipedia, Encyclopedia (2007). Corporate Social Responsibility. Http://en.wikipedia.org/wiki/corporate_social_responsibility

Wheelen T.L. & Hunger J.D. (2006). Strategic Management and Business Policy. Pearson International Edition, New Jersey, USA.

Permalink 2 Komentar

MEMAHAMI TUJUAN KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO

Januari 26, 2008 at 7:21 am (Uncategorized)

 1. Pengantar  

            Tujuan pada kegiatan apapun mesti ada. Tanpa tujuan, sasaran dan arah sesuatu itu menjadi tidak jelas. Bila demikian, proses dan kinerjanya pun menjadi tidak terukur. Inilah prinsip dasar kehidupan yang mesti dipahami setiap orang. Agama kita mengajarkan agar kita senantiasa tidak lupa terhadap tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu mencari ridha Allah SWT.  Hal ini penting dan sangat fundamental, bahkan semua kegiatan yang dilakukan manusia di muka bumi ini semuanya harus diwarnai dengan nilai fundamental ini. Tanpa mengarah kepada tujuan ini, nilai kegiatan kita menjadi tak bermakna dan kita akan menjadi manusia yang merugi.  

            Tujuan yang ingin dicapai dalam bidang ekonomi adalah mencapai tingkat kesejahteraan yang sebesar-besarnya dalam segala aspek kehidupan dengan mendapat ridha Allah SWT. Bagaimana caranya kita mencapai tujuan ini. Siapakah yang paling bertanggungjawab memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Bisakah kesejahteraan itu dinikmati setiap orang. Di sinilah peran pemerintah sangat dominan dan paling bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Bahkan kinerja (sebut : amal shaleh) pemerintah akan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mensejahterakan rakyatnya. Ketika pemerintah tidak bisa memberikan kesejahteraan pada rakyatnya, tapi sebaliknya yang terjadi adalah ketimpangan ekonomi yang semakin terbuka lebar, maka dapat diduga dalam sistem pemerintahan terdapat sesuatu yang tidak beres, atau terjadi penyimpangan yang tidak semestinya terjadi. Di sinilah tugas manusia sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi untuk melakukan berbagai perbaikan dan menciptakan keadilan bagi siapapun.

            Tulisan ini ingin menjelaskan beberapa hal terkait dengan tujuan kebijakan ekonomi makro, terutama hal-hal sebagai berikut : (1) Tujuan akhir dari kebijakan ekonomi makro, (2) Target variables dan mekanisme transmisi kebijakan moneter, (3) Target variables dan kinerja ekonomi, (4) Central macreconomic questions dan instrumen kebijakan ekonomi makro, (5) Kelemahan PDB sebagai ukuran aktifitas ekonomi, dan (6) Kegagalan dalam mencapai target variables.

 2. Tujuan Akhir   Kebijakan Ekonomi Makro   

            Tujuan akhir kebijakan ekonomi makro adalah : (1) price level stability, (2) high employment level, (3) long-term economic growth, dan (4) exchange rate stability (Thomas, 1997:448). Empat variabel ekonomi makro inilah yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia secara keseluruhan, sehingga prilakunya perlu diamati dan dikendalikan. Di bawah ini diuraikan lebih rinci tentang variabel-variabel tersebut.

 2.1. Price Level Stability (Stabilitas Tingkat Hara Umum) 

Hal-hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan inflasi :

  • Kenapa inflasi perlu dikendalikan
  • Apa penyebab inflasi
  • Bagaimana menghitung inflasi
  • Macam-macam inflasi
  • Dampak inflasi
  • Otoritas moneter dan inflasi
  • Inflation targeting
  • Mekanisme transmisi kebijakan moneter dan inflasi
  • Kurva Phillips dan inflasi
  • Inflasi dan Fisher Equation
  • The cost of inflation
  • Inflasi dan IPM
  • Inflasi dan defisit APBN
  • Pertumbuhan uang beredar, suku bunga dan inflasi

 2.2. High Employment Level (Tingginya Tingkat Kesempatan Kerja) 

Beberap hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan kesempatan kerja :

  • Peran pemerintah dalam perluasan kesempatan kerja
  • Pendekatan demand dan supply of labor dalam perluasan kesempatan kerja
  • Pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya perluasan kesempatan kerja
  • Human capital sebagai upaya efektif perluasan kerja
  • Keuangan negara dan kesempatan kerja
  • Kebijakan ketenagakerjaan
  • Serikat kerja
  • Hubungan industrial
  • Sistem ekonomi dan kesempatan kerja
  • Distribusi pendapatan fungsional dan kesempatan kerja
  • Laju pertumbuhan penduduk dan kesempatan kerja
  • Pandangan terhadap penduduk
  • Elastisitas kesempatan kerja

 2.3.    Long-Term Economic Growth 

Pertumbuhan ekonomi yang ideal adalah : (1) berlangsung terus menerus, (2) disertai dengan terciptanya lapangan kerja, (3) tidak merusak lingkungan, (4) lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penduduk, (5) disertai dengan distribusi pendapatan yang adil, (6) kontribusi sektoral yang merata, (7) tidak meninggalkan sektor pertanian, (8) kenaikannya riil, (9) penyumbang terbesar PDB adalah warga domestik, bukan asing, dan lainnya.

Perlu juga dijelaskan hal-hal sebagai berikut :

  • Kenapa  laju pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan kebijakan ekonomi ?
  • Apa manfaat dihitungnya pendapatan nasional
  • Makna politis dari pendapatan nasional
  • Kinerja ekonomi dan PDB
  • Income percapita
  • Struktur ekonomi
  • Inflasi dan PDB
  • Aggregate supply dan demand

2.4.    Exchange Rate Stability 

            Nilai tukar merupakan nilai uang secara eksternal, yang tinggi rendahnya berdampak pada berbagai aspek ekonomi dan sosial lainnya, misalnya : (1) impor dan ekspor, (2) APBN dan APBD, (3) kesehatan dan pendidikan, (4) transportasi, (5) industri dalam negeri, (6) politik, (7) daya beli masyarakat, (8) dunia perbankan, (9) sektor pertanian, kelautan, peternakan dst, (10) sektor properti , dan sebagainya.

Perlu dijelaskan pula hal-hal sebagai berikut :

  • Nilai tukar nominal dan riil
  • Devaluasi, apresiasi dan depresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing
  • Determinan nilai tukar
  • Cadangan devisa dan nilai tukar
  • Kebijakan nilai tukar
  • Sistem nilai tukar
  • Faktor politik, keamanan dan nilai tukar
  • Mekanisme transmisi kebijakan moneter dan nilai tukar (pass through effect)
  • dll

 3.          Target Variables dan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter 

Mekanisme transmisi kebijakan moneter merupakan kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter dalam upaya mempengaruhi kegiatan ekonomi melalui beberapa saluran (channels) (Thomas, 1997:602). Saluran-saluran tersebut yaitu : (1) saluran uang beredar (money channel), (2) saluran kredit, (3) saluran suku bunga, (4) saluran nilai tukar, (5) saluran harga aset, dan (6) saluran ekspektasi inflasi.

LONG-TERM

GROWTH

PRICE

EMPLOYMENT

TargetVariables

 BLACKBOX

Secara garis besar mekanisme transmisi kebijakan moneter dapat digambarkan seperti diagram arus sebagai berikut :  

MonetaryPolicy

   

Keterangan : Di dalam Black Box proses mekanisme transmisi kebijakan moneter berlangsung (yakni berjalannya berbagai channels) yang semuanya menuju ke target variables (the goal of macroeconomic policy).

 4.          Target Variables sebagai Ukuran Kinerja Ekonomi 

Kinerja ekonomi dapat diukur dengan nilai capaian pemerintah terhadap target variables itu sendiri. Bila target variables membaik, berarti kinerja pemerintah mengalami kenaikan dan sebaliknya.

Hal-hal lain perlu dijelaskan :

  • Variabel lain yang dapat dijadikan ukuruan kinerja ekonomi
  • Upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam rangka memperbaiki kinerja ekonomi
  • Politik ekonomi dan kinerja ekonomi
  • Peran barang publik dalam memperbaiki kinerja ekonomi
  • Blok ekonomi dan kinerja ekonomi
  • dst

 5.          Masalah Utama Ekonomi Makro dan Instrumen Kebijakan 

Untuk mengamati lebih jelas perhatikan tabel  sebagai berikut :

Masalah Utama (Goal of ME)

Policy Instruments

1. Output (GDP)

Kebijakan moneter

2. Employment

Kebijakan fiskal

3. Price level stability

Kebijakan moneter

   

Source : Samuelson, 2002:416

 6.          Beberapa Kelemahan PDB sebagai Ukuran Aktifitas Ekonomi 

Terdapat beberapa faktor yang belum diperhitungkan dalam PDB, di antaranya sebagai berikut :

  1. Nonmarket production : Belum diperhitungkannya nilai produksi yang disediakan oleh para pembantu, ibu rumah tangga dsb;
  2. PDB belum memperhitungkan besarnya leisure time  yang dinikmati oleh warga masyarakat;
  3. PDB juga belum memperhitungkan dampak negatif dari produksi yang dilakukan (eksternalitas/production bads);
  4. Kenaikan PDB belum tentu mencerminkan kesejahteraan, bila kenaikan tersebut hanya bersifat nominal;
  5. Kualitas barang dan jasa yang diproduksi belum secara optimal diperhitungkan dalam PDB.

 7.          Kegagalan dalam Mencapai Target Variables 

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dibarengi dengan perbaikan dalam beberapa variabel lainnya :

  • Employment
  • Lingkungan
  • Distribusi pendapatan
  • Transparansi
  • Economic cost (inflasi)
  • Social damages
  • Dst

Bila tidak, maka pertumbuhan yang tinggi tidak bermakna dan berkualitas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA  

Ascarya, (2002). Instrumen-Instrumen Pengendalian Moneter. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Dernburg, T.F., and McDougall, D.M., (1983). Macroeconomics : The Measurement, Analysis, and Control of Aggregate Economic Activity. Sixth Edition, Asian Student Edition, McGraw-Hill International Book Company,  London,

Ferry Warjiyo, (2004). Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Froyen, R.T., (1993). Macroeconomics : Theories and Policies. Fourth Edition, University of North Carolina at Chapel Hill, Macmillan Publishing Company, New York, USA.

F.X. Sugiyono, (2004). Instrumen Pengendalian Moneter : Operasi Pasar Terbuka. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Gordon, R.J., (1993). Macroeconomics. Sixth Edition, Harper-Collins Publishers, New York, USA.

McKenzie, R.B., and Tullock G., (1985). Modern Political Economy : An Introduction to Economics. International Student Edition, McGraw-Hill International Book Company,  London, UK.

Samuelson, P.A. and Nordhaus, W. D. (2002). Economics. 17th Edition, McGraw-Hill Irwin, International Edition, USA.

Sutyastie soemitro, dkk. (2007). Kinerja dan Prospek Ekonomi Indonesia. Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung.

Thomas, Lloyd B., (1997). Money, Banking and Financial Markets. McGraw-Hill Irwin, International Edition, Kansas University, USA.

         

Permalink 2 Komentar

DZIKIR DAN PENYAKIT HATI

Januari 26, 2008 at 7:16 am (agama)

Rasulullah bersabda, “Hati itu ada tiga macam : Pertama, hati yang terbalik. Yaitu hati yang tidak bisa menampung kebaikan sedikitpun dan itu adalah hati orang kafir. Kedua, hati yang di dalamnya ada titik hitam, yang di dalamnya bertarung antara kebaikan dan kejahatan. Kalau salah satu kuat, maka yang kuat itulah yang menang. Ketiga,  hati yang terbuka yang di dalamnya ada lampu yang bersinar-sinar sampai hari kiamat. Itulah hati orang mukmin”

            Dalam hadits di atas Rasulullah menjelaskan hati (qalb) dalam pengertian ruhaniyah. Sesungguhnya qalb (jantung atau hati) memiliki dua makna, yaitu qalb dalam bentuk fisik dan qalb  dalam arti kekuatan ruhaniah.   Dalam bentuk fisik Rasulullah menyebutnya sebagai mudghah (segumpal daging), yang apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Sedangkan qalb dalam pengertian ruhaniah adalah qalb yang bisa membedakan antara kebaikan dan kejahatan, yang berpikir, yang bisa merasakan kesedihan dan kegembiraan. Itulah yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai hati. Sehingga seseorang bisa hancur ruhaninya, karena hatinya telah hancur.          

            Untuk memupuk hati supaya tetap berada pada jalan yang lurus, keberuntungan dan berada pada ketentraman, manusia senantiasa diharuskan banyak berdzikir kepada Allah SWT. ... dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS 62 : 10). Pada ayat lain Allah berfirman : (yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS 13 : 28).

            Tentunya, di sini bukan hanya dzikir dalam arti ingat tok dengan tanpa disertai suatu kesadaran untuk melaksanakan segala perintah dan laranga-Nya. Tapi lebih jauh dari itu adalah suatu kesadaran spiritual yang  disertai dengan keikhlasan tanpa rasa ragu-ragu sedikitpun. Sehubungan dengan keunikan hati ini, Imam Ja’far Shadiq menjelaskan tingkatan-tingkatan hati sebagai berikut : Pertama, hati yang tinggi. Tingginya hati ini ketika dzikir kepada Allah SWT. Kalau orang senantiasa berdzikir kepada Allah hatinya akan naik ke tempat yang tinggi. Kedua,  hati yang terbuka. Hati ini diperoleh apabila kita ridha kepada Allah SWT. Ketiga, hati yang rendah, yaitu terjadi ketika kita disibukkan oleh hal-hal yang selain Allah. Keempat, adalah hati yang mati atau hati yang berhenti. Hati ini terjadi ketika seseorang melupakan Allah SWT sama sekali.

            Dari beberapa hadits yang disebutkan di atas, kita bisa melakukan muhasabah : Pada posisi mana hati kita berada sekarang ?. Mudah-mudahan hati kita berada pada posisi yang tinggi, yakni berada dalam ketenangan dan selalu berdzikir kepada Allah SWT.

            Seperti halnya tubuh kita (fisik), hati pun sering mengidap beberapa penyakit. Biasanya,  penyakit-penyakit tersebut  lebih sulit untuk disembuhkan. Berikut beberapa di antara penyakit hati yang sering mengidap pada orang Islam :

a. Bakhil

            Berasal dari kata bakhula – yabkhulu – bukhlan,  yang berarti kikir, pelit atau lokek. Secara lengkap dapat diartikan sebagai sikap mental yang enggan mengeluarkan sebagian harta yang wajib dikeluarkan, seperti zakat, memberi nafkah keluarga, mengeluarkan infak dan sedekah (Ensiklopedi Hukum Islam, I : 190).  Menurut Ulama, sifat bakhil itu bukan hanya berkaitan dengan harta saja, melainkan juga bisa berkenaan dengan ilmu, penghormatan dan tenaga. Orang yang pelit dalam memberikan tenaga dan ilmu yang dimilikinya, bisa disebut  bakhil. Demikian juga orang yang tidak mau mengucapkan  salam atau berkata sopan kepada yang lain.

            Berkaitan dengan sifat bakhil ini, Rasulullah pernah ditanya oleh sahabatnya :  “Ya Rasulullah, mungkinkah orang Mukmin itu berdusta” ? “Mungkin”, jawab Rasulullah. “Mungkinkah seorang Mukmin pengecut” ? “Mungkin”, jawab beliau lagi. Kemudian sahabat tadi melanjutkan pertanyaannya.  “Mungkinkah seorang Mukmin itu  bakhil”? “Tidak mungkin”,  jawab Rasulullah. Kemudian Rasulullah menjelaskan, “Kalau kebakhilan itu masuk dalam hati seseorang, maka iman akan lari darinya”.

            Berdasarkan hadits tersebut, ternyata sifat bakhil  itu membuat iman seseorang menjadi hilang dari hatinya. Jadi, tidak mungkin iman itu bercampur dengan sifat bakhil, karena dua hal ini saling bertentangan.     b. Riya’ dan sum’ah

            Sifat riya’  dan sum’ah bertentangan dengan ikhlas. Orang yang ikhlas, beribadah hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah (karena Allah). Sedangkan riya’ dan sum’ah, beribadah untuk mendekatkan diri kepada manusia (ingin mendapat pujian manusia). Hati-hati dengan dua penyakit hati ini. Bila anda memberikan sumbangan supaya dilihat orang sebagai dermawan, maka anda terkena penyakit riya’. Demikian juga bila anda sengaja berlama-lama membaca surat yang panjang ketika menjadi imam shalat, padahal biasanya anda membaca surat-surat pendek saja ketika shalat sendirian, maka anda menjadi sum’ah, bila dengan bacaan itu anda  ingin didengar orang sebagai orang yang ahli ibadah dan hafal surat-surat yang panjang.

            Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip ucapan Imam Ali kw. : “Ada empat tanda orang yang riya’,  yaitu  malas bila beribadat sendirian, rajin di depan orang banyak, bertambah amalnya bila dipuji, dan berkurang bila tidak ada yang memujinya”.         

  

Permalink 2 Komentar

KECERDASAAN EMOSI DAN PEMBELAAN TERHADAP MUSTADAFIN

Januari 15, 2008 at 7:51 am (agama) ()

Pendahuluan            

 Tidak terasa 10 tahun sudah usia Yayasan Untuk Fakir Miskin (YAFAKIN).  Belum banyak rasanya yang telah diberikan untuk fakir-miskin. Kami hanya meneteskan setitik air di danau. Masih banyak kekurangan dan kelemahan yang kami miliki. Ya Allah maafkan kami bila kami belum bisa berkhidmat kepada Fakir Miskin yang diamanatkan-Mu. Ampuni kami bila kami belum bisa beragama dengan baik sebagaimana yang diperintahkan  dalam firman-Mu Surat al-Maun. Ya Allah mampukan kami untuk berbuat banyak untuk fakir miskin. Lancarkanlah usaha kami agar kami bisa berbagi dengan mereka. Sehatkan badan kami agar kami bisa bergerak untuk mereka. Lapangkan jalan kami agar kami dapat menemukan rizki yang halal untuk menolong mereka. 

YAFAKIN bukan kumpulan para donatur yang mampu membantu seluruh fakir-miskin yang ada di Tasikmalaya. Kami hanya sekedar mediator (jembatan) penyambung para aghniya dengan du’afa. Kami masih membutuhkan uluran tangan dari siapapun dalam rangka membebaskan manusia dari rasa lapar dan takut. Kami hanya penyuara hati para mustad’afiin, yang selama ini sering  terlupakan. Ikatan Kami dengan mereka hanya ikatan emosional dan spiritual. Agama Kita mengajarkan, bahwa Kita harus dekat dengan mereka, seperti dicontohkan oleh Rasul kita, Muhammad SAW.

Tulisan sederhana ini ingin mengupas sedikit tentang ciri-ciri cerdas secara emosional serta hubungannya dengan pembelaan terhadap kaum mustadafiin.

 Ciri-Ciri Cerdas Emosi           

Siapapun bisa menjadi orang cerdas secara emosioanl apabila memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

Pertama, mampu merasakan kesulitan orang lain (empati). Bisakah kita mengalihkan beban kesulitan orang lain pada diri kita sendiri. Kalau tidak bisa, bisakah beban tersebut kita pikul sebagian, karena mungkin kita pun memiliki beban, atau sedang mengalami kesulitan yang sama. Kalau masih tidak bisa, mampukah kita memikul sedikit saja dari beban itu. Kalau masih juga tidak bisa, Allah tidak akan memberikan beban di luar kemampuan.  Artinya Allah tidak akan memaksakan sesuatu di luar kemampuan kita, tapi dengan syarat kita harus jujur pada kemampuan yang dimiliki kita sendiri. Empati berarti pula secara fisik kita ikut merasakan derita yang dialami orang lain. Kita betul-betul  hadir di tengah-tengah mustad’afiin (kaum lemah) untuk membela dan berkhidmat pada mereka. Bukan sekedar merasakan penderitaan mereka dalam pikiran dan imajinasi saja. Tapi coba datangi mereka. Apa suara hati mereka. Kita duduk bersama di tengah-tengah mereka. Kita sesekali makan, tidur, dan hiburan dengan mereka.

            Kedua, partisipasi. Sehubungan dengan partisipasi Imam Ali bin Abi Thalib berkata : ”Sumbangan terbesar adalah parsipasi”. Banyak jenis partisipasi yang bisa diberikan pada orang lain. Misalnya dengan uang, tenaga, pikiran, kehadiran, informasi, kekuasaan dan tidak menjadi penghalang dalam kegiatan positif yang dilaksanakan pihak lain. Ketika semua itu ditujukan untuk membantu fakir, miskin, yatim dan mustad’afiin lainya berarti kita sedang mencoba menjalankan Agama dengan benar. Sebaliknya, bila tidak ada sedikitpun dalam pikiran kita ingin memberikan partisipasi, simpati dan empati pada fakir, miskin dan yatim, maka kita dianggap tidak beragama. Sama saja dengan komunis, naudzubillahimindzalik.            

Ketiga, selalu berbicara secara positif.  Ini mengandung makna bahwa pembicaraan kita selalu penuh makna. Menghindari kata-kata kotor. Pembicaraan kita tidak menyakitkan siapapun. Apalagi terhadap orang miskin dan yatim. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut kita tidak menyakitkan si ‘Kecil’, tidak menjilat si ‘Besar’.  Siapapun yang mendengarnya akan merasa aman dan tenteram, serta mengalir darinya hikmah yang sangat berharga. Menghindari prasangka jelek dan ghibah terhadap yang lain. Selalu menutupi aib orang lain. Tidak membongkar-bongkar kejelekan orang lain. Mampukah kita berbuat seperti itu ? Memang berat. Tapi kita harus berusaha mencobanya, karena itu ajaran Agama kita. Pengalaman sering menunjukkan, dalam kehidupan sehari-hari kita, tiba-tiba posisi pembicaraan sudah berada pada posisi menggunjing orang. Di sinilah pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Supaya kita tidak terkena penyakit ghibah (menggunjing orang lain) yang menyakitkan dan membahayakan. Mungkin media tulisan inilah di antaranya instrumen yang bisa dioptimalkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitan keimanan kita. Insya Allah.

            Keempat, tangguh dalam menghadapi kesulitan (adversity quotient). Terkadang banyak orang yang tidak siap menghadapi berbagai kesulitan yang menimpanya. Kita memiliki banyak contoh di negeri kita, tentang orang yang tidak siap menghadapi kesulitan hidup. Kita sering melihat kasus bunuh diri, perampokan, pelacuran dan berbagai penyimpangan lainnya yang menyesatkan. Saya menduga penyebab itu semua adalah ketiadaan kemampuan menghadapi kesulitan (tidak memiliki kecerdasan ketangguhan).  Tidak tangguh dan sabar menghadapi kesulitan. Kita berkewajiban untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka agar mereka berani menjalani hidup. Tidak putus asa dan bunuh diri. Mungkin juga penyebab kuat prilaku menyimpang itu adalah karena kita meninggalkan mereka. Tidak membelanya. Kita hanya simpati saja terhadap penderitaan orang lain, tanpa aksi yang konkrit. Himbauan terhadap pembelaan fakir miskin sebatas peraturan dan perundang-undangan, yang implementasinya masih jauh dari kenyataan.   Wallahu a’lam bimuradih.

Permalink 1 Komentar

IMPLIKASI MASALAH PEMBONCENG GRATIS (FREE RIDER PROBLEM)

Januari 15, 2008 at 7:20 am (agama)

Beberapa kawan saya pernah (bahkan sering) bertanya pada saya: “Pak Ade bila seorang kandidat walikota atau bupati harus mengeluarkan biaya miliaran rupiah untuk memperoleh kemenangan dalam PILKADA, bagaimana caranya ia harus mengembalikan (menutup kembali) dana sebesar itu. Mungkinkah dana itu dapat kembali dengan gaji formal yang diterima seorang Walikota atau Bupati dalam masa jabatannya. Jangan­-jangan nanti ia korupsi untuk mengembalikan dana itu, atau mungkin ia jadi tidak fokus pada tugas utama, tapi malah harus berpikir keras bagaimana caranya menutup kembali berbagai biaya yang pernah ia keluarkan (termasuk sisa utang) bekas PILKADA”. Kurang lebih seperti itu mereka mengungkapkan kegelisahannya. Sampai saat ini saya tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan itu, apalagi ilmiah. Pikiran saya pun sama seperti mereka. Pemahaman matematika dan ekonomi yang saya miliki tetap tidak bisa menjawab dengan memuaskan. Untuk kasus ini akhirnya saya sering menduga-duga : mungkin saja seorang kandidat berniat ibadah (jihad) dengan segala daya dan hartanya, untuk menegakkan al-haq di pemerintahan yang akan ia pimpin nanti, atau mungkin juga ia ingin memberikan pelayanan terbaiknya buat rakyat (berkhidmat pada rakyat kecil). Bila ini yang terjadi, Insya Allah akan menjadi wasilah (perantara) terbaik bagi hidupnya. Kita wajib mendukungnya.Mengapa biaya kampanye harus mencapai angka yang cukup tinggi, harus mencapai miliaran rupiah. Kenyataannya memang demikian. Banyak faktor penyebabnya, antara lain diduga karena biaya-biaya sebagai berikut : kampanye, sosialisasi program, operasional, transportasi, atribut, santunan sosial instant, akomodasi, koalisi, pembonceng gratis (free rider problem), dan biaya lainnya. Tulisan sederhana ini hanya akan menjelaskan tentang biaya pembonceng gratis serta pengaruh dan implikasinya pada beberapa aspek dalam sistem pemerintahan di daerah. 

Implikasi Free Rider Problem pada Sistem Pemerintahan Daerah

Free rider problem adalah masalah (biaya) yang dihadapi (dikeluarkan) oleh suatu organisasi, kelompok atau gerakan yang efektivitasnya tidak jelas (tidak rasional) sehingga beban organisasi menjadi tinggi (tidak efisien), bahkan rasio manfaat dan biaya yang diperoleh pun menjadi tidak seimbang (kecil). Sehingga akhirnya sebuah organisasi atau kelompok akan mati secara perlahan, artinya tujuan yang diharapkan menjadi tidak tercapai. Persoalan inilah yang harus diwaspadai oleh setiap pasangan kandidat walikota dan wakil walikota dalam perhelatan politik di Kota Tasikmalaya sekarang ini. Para tim sukses harus paham dengan persoalan yang satu ini, jangan malah jadi beban bagi kandidat. Bila problem ini tidak teratasi (terantisipasi) maka akan menimbulkan beberapa akibat, di antaranya : konflik internal, melahirkan gerakan yang tidak sepenuh hati (kelompok pura-pura), dapat menyengsarakan kandidat pasca pemilihan, berpeluang korupsi bagi pemenang PILKADA dan lahirnya tuntutan tidak rasional dari para pelaku free rider di masa jabatan nanti.Penulis akan menjelaskan lebih lanjut tentang implikasi free rider problem terhadap beberapa aspek dalam sistem pemerintahan di tingkat daerah.

Pertama, produksi barang publik menjadi tidak optimal. Barang publik adalah barang yang pengadaannya selalu dilakukan oleh pemerintah, dengan tujuan kesejahteraan bagi masyarakat secara luas. Penggunaannya tidak saling bersaing (rivalitas tidak ada), artinya ketika seseorang menggunakan (memakai) barang tersebut tidak menghilangkan (menghalangi) orang lain untuk menggunakannya pula. Contoh sederhana adalah jalan, jembatan, bendungan dan lain sebagainya. Dana yang dipergunakan oleh pemerintah untuk memproduksi barang tersebut adalah dari anggaran publik (AFBN/APBD), atau dari rakyat. Ketika proses produksi barang tersebut terganggu oleh free rider problem (pendompleng gratis) : interest pribadi, kelompok, kepentingan partai, atas nama agama, demi perkawanan, hadiah bagi tim sukses dan lainnya, maka output barang publik menjadi terganggu. Kualitas menjadi jelek (tidak sesuai anggaran), jumlahnya menjadi sedikit dan distribusinya menjadi tidak adil (keadilan proposional tidak tercapai). Bi1a untuk PILKADA 9 September 2007 nanti para kandidat dan tim sukses sudah mengawali dengan kondisi sedemikian (memberi gerak secara bebas pada para free rider), maka disanalah awal terganggunya proses penciptaan barang publik dan sekaligus pula terganggunya kesejahteraan rakyat di kemudian hari.

Kedua, sistem alokasi sumberdaya ekonomi menjadi tidak adil. Salah satu fungsi pemerintah adalah mendistribusikan sumberdaya ekonomi secara adil dan merata pada seluruh warga masyarakat, bukan hanya pada para pendukungnya saja. Artinya secara prinsip bahwa keadilan ekonomi adalah hak publik yang harus menjadi prioritas dalam pemerintahan siapapun. Sumberdaya ekonomi yang dikuasai oleh pemerintah tercipta karena dua hal : (1) karena hadiah dari Yang Maha Kuasa, dan (2) karena regulasi pemerintah. Sumberdaya alam yang melimpah di republik kita, dan juga di Tasikmalaya adalah bukti kasih sayang Allah bagi hamba-Nya, yang harus sepenuhnya diperuntukan bagi kesejahteraan rakyat. Tidak bisa alokasi dan pengelolaan sumbedaya ekonomi hanya oleh sekelompok warga masyarakat saja, atau sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah (tidak akan mencapai Pareto optimal). Bila free rider masuk di dalamnya, pemanfaatan sumber daya alam menjadi tidak transparan, tidak bertanggung jawab dan terkadang sering berakhir dengan musibah yang menimpa warga masyarakat yang lemah. Kita sering menyaksikan hal ini terjadi di negeri tercinta ini. Padahal kita tahu tujuan utama sistem pemerintahan sesungguhnya hanya dua hal, yakni menghilangkan rasa lapar (menciptakan kesejahteraan) dan menghilangkan rasa takut (menciptakan rasa aman) bagi setiap warganya. Kedua hal ini adalah barang publik sekaligus hak publik. Bisakah para pemimpin Kota Tasikmalaya nanti menghilangkan rasa lapar dan menciptakan rasa aman dari berbagai ketakutan yang mungkin menimpa warga : takut sakit, takut bodoh, takut perampokan, takut gempa, takut tidak beriman, takut kedzaliman, dan berbagai rasa takut lainnya. Saya dan keluarga bahkan siapapun yang saya kenal akan saya ajak untuk memilih pemimpin yang mampu menegakkan dual tadi. Insya Allah. Siapapun harus mencari dan mendukung pemimpin yang siap melaksanakan haI tersebut.Selain sumberdaya ekonomi yang merupakan anugerah Allah SWT seperti disebutkan, pemerintah dapat pula menciptakan berbagai regulasi (aturan) yang sifatnya tidak memberatkan masyarakat, dalam rangka menciptakan sumberdaya ekonomi. Pastikan bahwa masyarakat siap berpartisipasi menciptakan dan mengakumulasi sumberdaya ekonomi untuk kepentingannya sendiri. Untuk republik Indonesia digunakan berbagai sistem misalnya : pajak, zakat, tabungan, laba badan usaha milik negara, sumbangan, hibah dan lainnya. Untuk mencapai pengelolaan yang optimal, jauhkan karakteristik free rider problem di sektor ini. Bila problem ini masih tetap ada, maka pajak hanya akan dirasakan sebagai beban saja, ketimbang manfaat yang diperolehnya.

Ketiga, rasionalitas menjadi hilang. Sifat dasar manusia yang harus selalu berpikir rasional, logis dan kritis menjadi hilang ketika kepentingan pembonceng gratis ada dalam suatu kelompok, sistem atau organisasi. Sifat rasionalitas yang harus ada pada ilmu ekonomi, politik dan sosial lainnya menjadi tak berlaku lagi bila pembonceng gratis lebih dominan dalam lingkup sebuah sistem, tim atau gerakan. Padahal kita tahu dengan sifat rasionalitas yang kita miliki, kita bisa bertindak secara adil dan bijaksana. Kita bisa membayangkan kehancuran yang lebih hebat lagi ketika semua pemimpin sudah bertindak secara tidak rasional : terjadi pemburuan rente ekonomi (pemimpin hanya akan mengakumulasi sumberdaya ekonomi untuk kepentingan pribadinya saja); sumberdaya alam akan terkuras habis; para pelaku ekonomi tidak berpikir lagi pemeliharaan lingkungan dan keberlanjutan sumberdaya alam; generasi muda, masyarakat akan bersifat pragmatis, sehingga pemikiran yang bersifat ideal dan ideologis akan semakin langka; moralitas akan hancur karena terkalahkan oleh kepentingan sesaat yang perlombaannya semakin keras; para elit politik akan menumpuk sumberdaya ekonomi untuk mempertahankan eksistensi jabatan politiknya di kemudian hari; dan kehancuran lainnya akan menyusul.Sadarlah wahai kawan, kita sebentar lagi akan menghadap Sang Khalik dan al­Mustofa Muhammad Rasulullah SAW. Allah akan menanyai kita tentang perjalanan hidup kita selama ini. Imam Ali pernah berkata : “Pelajaran yang paling berharga adalah mengingat mati”.


*) Penulis adalah dosen Ekonomi Politik Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas 

     Ekonomi UNSIL Tasikmalaya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

DEKLARASI MAKKAH TENTANG SITUASI DI IRAK

Januari 15, 2008 at 7:17 am (ekonomi)

Saat itu Ahad 12 Agustus 2007. Acara Peringatan Isra Mi ‘raj Rasulullah SAW di Majlis Khoirunnisa, Cilolohan Kota Tasikmalaya telah dimulai sejak pukul 09.45 WIB. Penceramah yang akan mengisi acara tersebut adalah Dr. K.H. Syaefuddin Herlambang, M.A., dari Jakarta. Seperti biasa beliau selalu hadir sebelum acara dimulai, jazaakallahu khairan katsiiraa. Pembawa acara yang sudah direncanakan sebelumnya tidak bisa hadir, akhirnya dipercayakan kepada saya sendiri. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an sekaligus sari tilawahnya. Sehabis sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa Ziyarah Rasulullah dan Tawasul. Pembacaan doa dipimpin oleh Sayyid Salam dari Irak. Dengan suara khas Timur Tengah yang sangat indah sekali, tidak terasa pembacaan doa menghabiskan waktu hampir satu jam. Di antara mustami’ kedengaran ada yang menangis, mungkin karena khusuknya menyimak doa yang dibacakan tadi. Selesai acara utama Isra Mi’raj –sambil makan nasi dus–, saya dan kawan-kawan sempat berbincang-bincang dengan Sayyid Salam tentang Deklarasi Makkah mengenai Situasi di Irak. Dalam diskusi itu muncul pemikiran bahwa isi deklarasi tersebut semestinya diketahui juga oleh masyarakat secara luas, karena makna yang sesungguhnya dari Deklarasi itu bukan hanya untuk bangsa Irak saja, melainkan untuk umat Islam di seluruh dunia, apapun madzhabnya. Dalam obrolan itu saya menyarankan agar segera dilakukan sosialisasi atau apapun bentuknya, yang penting pesan utama Deklarasi tersebut sampai kepada seluruh umat Islam.Sebagai gambaran awal, pada tulisan sederhana ini, saya akan mengutip sebagian isi Deklarasi itu, mudah-mudahan menjadi bahan renungan bagi kita dalam upaya mempersatukan umat Islam di mana pun mereka berada : “Segala pujian dan kemuliaan adalah milik Tuhan yang Maha agung. Semoga salam dan berkah-Nya senantiasa dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, dan para sahabatnya. Dengan mempertimbangkan (1) situasi yang terjadi sekarang ini di Irak, di mana pertumpahan darah, penjarahan hak milik, terjadi setiap hari. Semuanya dengan pengatasnamakan Islam, dan (2) sejalan dengan anjuran dari sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam, di bawah payung Akademi Fikih Internasional OKI (IIFA), maka kami, para ulama Irak, dari Mazhab Ahlus Sunnah dan Syi’ah, berkumpul di Makkah Al-Mukarramah, pada bulan Ramadhan 1427 (2006), setelah membicarakan perkembangan situasi di Irak dan prihatin terhadap nasib rakyatnya, serta masalah-masalah yang melingkupinya, dengan ini menyatakan DEKLARASI ini :

1. Jika salah seorang di antara kamu memanggil saudaranya : Kamu kafir, salah seorang di antara mereka akan menjadi kafir dan bertanggungjawab atasnya.

2.  Darah, harta benda, kehormatan, dan harga diri seorang Muslim adalah mulia berdasarkan firman Allah Swt. dalam Al-Quran : Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS Al-Nisa’ [4] : 93). Juga hadits Nabi Saw. : Setiap Muslim adalah mulia darahnya, hartanya, kehormatan, dan harga dirinya.Karena itu, tidak seorang Muslim pun –baik Sunni ataupun Syi’ah– yang dapat ditumpahkan darahnya, dianiaya, diintimidasi, diteror, diambil harta miliknya atau dijatuhkan kehormatannya, atau diculik keberadaannya. Lebih jauh lagi, tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang dapat dijadikan sandera dengan alasan perbedaan mazhab atau alasan agama lainnya. Siapa pun yang melakukan perbuatan sepeti itu, telah memisahkan dirinya dari kehormatan Umah (kaum Muslim), termasuk semua yang memegang otoritas di dalam Islam, para ulama, dan orang-orang yang beriman”.

Demikian beberapa paragraf Deklarasi Makkah tentang Situasi Irak yang telah ditandatangani oleh beberapa negara Islam di Makkah Al-Mukarramah tanggal 21 Oktober 2006. Selanjutnya, pada tanggal 3-4 April 2007, di Indonesia, tepatnya di Istana Presiden Bogor, Deklarasi Makkah mendapat penguatan dari para peserta Konferensi Internasional Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak. Mereka berkumpul dan bertekad ingin mewujudkan perdamaian secara penuh di antara bangsa Muslim Irak. Tentunya, buat kita sebagai awam seharusnyalah memanjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah Swt. karena dengan adanya Deklarasi ini akan banyak hikmah dan implikasi positif yang dapat dirasakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Insya Allah.

Berikut ini adalah beberapa implikasi dan hal-hal positif lainnya yang kita harapkan dari Deklarasi Makkah, di antaranya adalah :

Pertama, Deklarasi Makkah merupakan indikasi kuat lahirnya kesadaran bersama tentang makna persaudaraan umat Islam yang sesungguhnya. Pengalaman sejarah panjang menunjukkan bahwa kelemahan dan hancurnya persatuan umat Islam ternyata salah satu faktor penyebabnya adalah konflik interen yang tak kunjung selesai. Sejak 1947, baru pertama kali ini di penghujung tahun 2006 mazhab Sunni-Syi’ah kembali melakukan muktamar besar untuk melakukan rekonsiliasi, saling mengakui dan saling memuliakan di antara sesama hamba Allah. Sinyal positif ini harus kita maknai dengan positif pula, agar energi umat Islam yang sudah digunakan untuk upaya itu tidak menjadi sia-sia.

Kedua, sudah seharusnya kita menghilangkan sekat-sekat mazhab yang sempit. Kehadiran Deklarasi Makkah membawa situasi baru bagi umat Islam, artinya sektarianisme harus segera dihilangkan, karena ternyata banyak membawa madharat, dan kehancuran lainnya. Pertengkaran Sunni-Syi’ah yang berkepanjangan harus segera disudahi. Kita sudah cukup menderita dengan semakin banyaknya korban dan kerugian fisik lainnya. Saatnyalah kita untuk lebih melihat jauh kedepan demi kejayaan Islam sebagai rahmatal lilalamiin.

Ketiga, perlunya komitmen bersama untuk implementasi Deklarasi secara konkrit di lapangan. Tanpa komitmen dan konsistensi bersama umat Islam, rasanya Deklarasi tidak akan bisa dilaksanakan secara optimal. Untuk ini, sekali lagi, kita perlu ketulusan hati agar beban-beban fsikologis tidak menghalangi dalam upaya menjalankan kesepakatan tersebut. Indikator keseriusan akan tampak secara nyata di antara umat Islam bila Deklarasi dilaksanakan dengan sebaik-baikya. Sebagai bukti keseriusan dalam mewujudkannya, kita harus melanjutkan Deklarasi tersebut kedalam bentuk yang lebih opersioal lagi di tingkat daerah, sehingga cakupan Deklarasi akan semakin luas dan implikasinya akan terasa keseluruh pelosok negeri.

Keempat, kita sebagai sesama umat Islam tidak perlu lagi (bahkan tidak ada gunanya) untuk selalu saling menyalahkan dan menyesatkan. Kita harus mengakhiri menghakimi orang lain dengan memutlakkan pendapat kita kepadanya. Kebenaran mutlak hanya milik Allah semata. Untuk itu sebaiknya kita selalu mengingat ucapan Ibn Hajar Al-Haitami : “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Dan mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran “. Dengan prinsip ini akan lahir sikap toleransi yang tinggi dan kebersamaan dalam keragaman. Indah sekali. Khasanah keilmuan akan cepat berkembang dan pandangan umat Islam pun tidak sempit dan picik. Bila masalah itu selesai, kita akan segera fokus untuk mentuntaskan berbagai agenda umat Islam yang tertinggal, yaitu kemiskinan, kebodohan, kelaparan, rendahnya tingkat kesehatan, moralitas yang semakin hancur dan berbagai problem lainnya.

Kelima, Deklarasi Makkah merupakan kebutuhan dan sekaligus pelajaran berharga umat Islam di seluruh dunia. Pelajaran ini sangat mahal, karena harus dibayar dengan ribuan nyawa. Oleh karena itu saatnyalah kita mengambil ‘itibar dari kasus ini. Belum terlambat, bahkan ini kebutuhan mendesak yang harus menjadi concern kita semua.

Keenam, Deklarasi Makkah dengan segala implementasinya yang konsisten akan menggentarkan musuh-musuh Islam. Percayalah, kita akan menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan oleh pihak lain karena kekuatan dan kekompakkan yang kita galang semakin kokoh. Kita harus menjadi umat terbaik. Tidak dilecehkan oleh kaum kafir. Simak ayat Al-Quran berikut : “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”. (QS. Al-Imran ayat 110).Ketujuh, perlunya pemimpin umat sebagai pemersatu dari manapun ia mazhabnya. Sesuatu yang ideal adalah pemimpin umat Islam yang mampu membawa pada kedamaian dan kesejahteraan dunia. Oleh karena itu kita harus terus berusaha mempersiapkannya dengan cara bekerja serius, fokus dan tidak saling menghantam atau menjatuhkan satu sama lainnya. Salah satunya adalah memaknai Deklarasi secara tulus, ikhlas dan tidak saling curiga. Tidak ada ruginya kan kalau Sunni dan Syiah bersatu ?. Ini yang diinginkan di Timur Tengah bahkan di seluruh dunia, tetapi ini pula yang tidak disukai oleh Amerika dan sekutunya.Itulah beberapa harapan ideal yang ingin kita capai. Dengan semangat kebersamaan dan kekompakkan umat Islam dimana pun mereka berada, apapun mazhabnya, Insya Allah usaha-usaha positif tersebut akan segera terwujud. Sejatinya, semangat ini pula yang harus mewarnai setiap peringatan HUT RI yang selama ini selalu kita rayakan di tanah air. Semoga Allah meridhai usaha kita. Amiin.


*) Penulis adalah dosen Ekonomi Politik Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UNSIL Tasikmalaya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

AKHLAK MULIA SANG PENGUASA

Januari 12, 2008 at 7:57 am (agama)

Akhlak mulia adalah sebuah hiasan hidup yang seharusnya melekat pada diri siapapun. Terlebih bagi seorang pemimpin. Baginya, kemuliaan akhlak harus menjadi prasyarat utama dan harus menyertainya sebelum dia memiliki kekuasaan. Berkaitan dengan akhlak mulia ini, ada baiknya,  kita tengok sekilas sebuah kisah perjalanan hidup hamba Allah yang memiliki kemuliaan akhlak  luar biasa. Dia adalah Malik Al-Asytar, seorang murid Imam Ali kw., sekaligus tangan kanannya. 

Suatu hari Malik Al-Asyatar berkeliling di pasar Kufah dengan mengenakan pakaian yang sudah kumal dan tutup kepala yang usang. Sebagian pedagang pasar yang melihatnya merasa jijik dengan pakaiannya itu dan melemparkan segemgam lumpur sembari merendahkannya. Malik tidak menghiraukannya dan terus berjalan dengan tenang. Seorang pemuda bergegas menghampiri pedagang yang mrendahkannya itu seraya bertanya, “Tahukah kamu siapa orang yang telah kamu lempar itu?” Ia menjawab, “Tidak,”. Lantas si pemuda menambahkan, “Dialah Malik bin Asytar, tangan kanan Amirul mukminin Imam Ali kw.”

Tiba-tiba si pedagang menggigil ketakutan dan bergegas mengejarnya untuk meminta maaf. Dilihatnya Malik sudah memasuki masjid dan sedang melaksanakan salat. Saat selesai salat, si pedagang bersimpuh di kedua kaki Malik sembari menciumnya. Lalu Malik bertanya, “Ada apa gerangan?”

Si pedagang menjawab, “Aku mohon maaf padamu atas apa yang telah aku lakukan,” lalu Malik menimpali, “Sudahlah tak mengapa, demi Allah sama sekali aku tidak berniat ke masjid, kecuali untuk memohonkan ampun bagimu”.

Inilah sebuah kisah pendek seorang sahabat sekaligus murid Imam Ali kw. yang memiliki kemuliaan akhlak sangat tinggi. Pelajaran dan hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut? Baiklah kita coba untuk  mengulasnya.

Pertama, kesederhanaan tidak mengurangi kemuliaan seseorang. Walaupun Malik Al-Asytar begitu sederhana dalam hidupnya –saat itu terlihat dari pakaiannya yang begitu sederhana–, kehormatan dan kewibawaannya  tetap tumbuh dan terpancar dari prilakunya. Orang tetap hormat dan segan padannya. Orang bersalah akan bergetar jiwanya ketika mendengar namanya disebutkan.  Kewibawaannya merasuk kedalam hati siapapun.

Kedua, sifat pemaaf dan tidak pendendam. Sesungguhnya tindakan pedagang  (yang melempar dengan lumpur itu)  sudah di luar batas yang wajar. Dia telah menghina dan merendahkan seseorang, padahal yang ia rendahkan itu belum ia kenali. Dia menghinanya karena penampilannya yang menjijikan. Namun apa yang kita saksikan, Malik Al-Asytar tidak merasa terganggu sedikitpun dengan ulah si pedagang itu, malah ia langsung menuju masjid untuk memohonkan ampun secara khusus baginya. Sungguh luar biasa.

Kalau kasus itu –pelemparan dengan tanah lumpur– mengenai kita, boleh jadi  kita akan membalasnya lebih dari itu : mungkin dengan memukulnya, menamparnya  atau mungkin dengan bentuk  kekerasan fisik lainnya. Itu semua dilakukan  sebagai wujud emosional kita kepada yang mencemoohkan. Tapi di luar dugaan,  Malik Al-Asytar  malah memaafkannya dan sekaligus memohonkan ampunan baginya.

Kesalehan Malik rasanya sulit ditemukan pada penguasa atau pemimpin pada  zaman sekarang. Padahal pada saat itu Malik Al-Asytar pun adalah penguasa (tangan kanan Imam Ali), yang dengan kekuasaannya bisa memberikan hukuman kepada siapapun yang menghinanya. Tapi malah kita melihat sesuatu yang sebaliknya, sang penguasa itu malah memaafkannya. Inilah kemuliaan akhlak yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin dan penguasa saat ini. 

Ketiga, penghinaan adalah akhlak yang tercela. Sebagai umat manusia tidak boleh menghina atau merendahkan kehormatan seseorang. Masih mending jika penghinaan itu  diakhiri dengan penyesalan dan tobat kepada Allah SWT. Tapi bayangkan sebuah penghinaan yang tidak diakhiri dengan penyesalan dan permohonan maaf kepada yang bersangkutan, ini jelas akan berakibat panjang dan mencelakakan.  Sehubungan dengan ini ada sebuah kisah yang patut direnungkan: “Ketika Rasulullah thawaf mengelilingi Ka’bah, beliau berhenti di Multazam,  beliau berkata, ‘Duhai Ka’bah, betapa mulianya engkau, betapa agungnya engkau, betapa luhurnya engkau’. Tetapi demi Zat yang diriku ada di tangan-Nya, kehormatan seorang muslim lebih tinggi dari kehormatan Ka’bah.”  Oleh karena itu di dalam Islam termasuk dosa besar menjatuhkan kehormatan seorang muslim, dosanya lebih besar daripada menjatuhkan kehormatan Ka’bah.

Keempat, materi bukan ukuran kemuliaan akhlak. Harga diri, kemuliaan, kewibawaan, dan kekuasaan sungguh tidak diukur dengan banyaknya materi. Kita melihat banyak contoh dalam sejarah, bahwa kemuliaan dan kebesaran pemimpin Islam tidak disandarkan kepada bergelimangnya kekayaan yang dimiliki. Kita lihat Rasul SAW, Imam Ali kw, dan shahabat lainnya lebih memilih kesederhanaan dan hidup bersama kaum mustad’afin daripada menumpuk kekayaan. Prilaku yang sederhana ini tercermin dari kepribadian  murid Imam Ali itu sendiri, Malik Al-Asytar.

Kelima, keberhasilan seorang guru tercermin dari kesalehan murid-muridnya. Kisah  di atas sesungguhnya sekaligus sedang menceritakan keberhasilan seorang guru (Imam Ali kw) dalam mendidik muridnya. Transfer kesalehan kepada seorang murid bukanlah hal yang mudah, dan tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kesalehan itu sendiri. Sesungguhnya, suatu kebohongan yang nyata, apabila  seseorang berbicara kesalehan, ketakwaan dan hal-hal yang baik lainnya, tetapi ia sendiri bukan pelaku ketakwaan itu, atau malah penentang kebaikan.

Ingin rasanya akhlak Malik Al-Asytar hadir di tengah-tengah kita dan mewarnai semua aspek kehidupan  : ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya. Saya yakin, bila prilaku itu mewarnai kehidupan ekonomi, akan banyak sumber keuangan negara yang  terselamatkan. Keadilan ekonomi akan segera terwujud. Kesederhanaan selalu menghiasi keseharian para pejabat dan penguasa. Himbauan hidup sederhana bukan sekedar slogan belaka, tetapi betul-betul dimulai oleh para pejabat. Para pejabat tidak lagi membahas persoalan-persoalan kemiskinan dan penderitaan rakyat kecil di hotel berbintang dan mewah dengan menggunakan uang rakyat. Kepentingan rakyat kecil betul-betul menjadi perhatian utama  dalam pembangunan. Para pejabat dan politisi tidak lagi sibuk mengurus kepentingan pribadinya (gaji, fasilitas jabatan dan sebagainya), sebelum kepentingan rakyatnya terperhatikan. Ini rasanya yang sungguh-sungguh diharapkan oleh rakyat kecil. Rasanya mereka tidak terlalu berkepentingan dengan apa yang disebut Tatib, koalisi, Fraksi, Komisi, Legislasi dan sebagainya. Bagi mereka persoalannya sederhana saja, yakni hari ini bisa makan atau tidak? Para politisi seharusnya bisa memberikan jawaban itu semua, karena itu yang sangat dinanti-nanti.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengungkapkan kembali contoh akhlak mulia yang pernah terjadi dalam sejarah.

Sirri al-Siqthi, salah seorang ahli tasauf (urafa), pernah berkata, “Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar hanya karena sekali saja aku bersyukur pada Allah”. Orang-orang bertanya padanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Siqthi menjawab, “Saat itu aku mempunyai toko di pasar Baghdad. Suatu saat orang-orang mengabariku bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api. Aku bergegas pergi untuk melihat apakah tokoku juga terbakar. Salah seorang mengabariku bahwa api tidak sampai membakar tokoku. Akupun berkata Ahamdulillah”.

Setelah itu jiwaku terusik, hatikupun berkata, ‘Engkau tidak sendirian di dunia ini. Beberapa toko telah terbakar. Memang tokomu tidak terbakar, tapi toko-toko yang lainnya terbakar. Ucapan alhamdulillah  berarti aku bersyukur api tidak membakar tokoku, meski membakar toko yang lainnya! Berarti aku rela toko orang lain terbakar asalkan tokoku tidak.’

Akupun berkata dalam diriku, ‘Sirri! Tidakkah engkau memperhatikan urusan saudaramu kaum muslimin?’

Demikian sekilas kisah orang  yang merasa menyesal dan beristighfar selama tiga puluh tahun berturut-turut, karena dosa mereka mengucapkan alhamdulillah ketika tokonya tidak terbakar sementara toko-toko saudaranya yang lain tidak. Subhaanallah.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PENGANGGURAN DAN DAYA BELI

Januari 12, 2008 at 7:48 am (ekonomi)

1. Pengangguran : Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

     Banyak aspek yang terkait dengan persoalan pengangguran. Kita dapat mengeksplorasinya dari beberapa sisi, diantaranya : faktor penyebab, dampak, dan cara  mengatasi pengangguran. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

« Previous page · Next page »